Mengapa Anak Muda Kini Lebih Rentan Kanker? Ini Penjelasan Ahli

Mengapa Anak Muda Kini Lebih Rentan Kanker? Ini Penjelasan Ahli

detikHealth - detikJabar
Minggu, 09 Agu 2026 06:00 WIB
Ilustrasi pasien
Ilustrasi pasien. Foto: Getty Images/David Gyung
Jakarta -

Kanker selama ini dikenal sebagai penyakit yang lebih banyak menyerang kelompok usia lanjut. Namun, tren terbaru menunjukkan semakin banyak orang berusia 20 hingga awal 40 tahun yang didiagnosis mengidap kanker, baik di Singapura maupun di berbagai negara.

Peningkatan kasus tersebut mendorong para peneliti untuk mencari penyebab di balik meningkatnya risiko kanker pada kelompok usia muda. Di sisi lain, para ahli juga menilai kanker pada usia muda memiliki karakteristik dan kebutuhan penanganan yang berbeda dibandingkan pasien lansia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perkembangan itu melahirkan adolescent and young adult oncology, cabang ilmu kedokteran yang secara khusus menangani pasien kanker usia remaja hingga dewasa muda.

Kasus Kanker Usia Muda Terus Meningkat

Data global menunjukkan angka kanker pada kelompok usia di bawah 50 tahun terus mengalami peningkatan. Beberapa jenis kanker yang paling banyak ditemukan meliputi kanker usus besar atau kolorektal, kanker payudara, dan kanker darah.

ADVERTISEMENT

Para peneliti menilai peningkatan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Pola hidup modern menjadi salah satu aspek yang paling banyak mendapat perhatian.

Beberapa faktor yang diduga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko kanker pada usia muda antara lain:

  • Obesitas dan kurangnya aktivitas fisik.
  • Konsumsi makanan olahan atau ultra-processed food secara berlebihan.
  • Stres kronis dan kualitas tidur yang buruk.
  • Gangguan keseimbangan mikrobioma usus.
  • Paparan mikroplastik serta polutan lingkungan.
  • Perubahan pola reproduksi, seperti menunda kehamilan dan durasi menyusui yang lebih singkat.

"Tren risiko kanker saat ini mencerminkan interaksi yang sangat kompleks antara genetik, gaya hidup, lingkungan, hingga layanan pencegahan yang diakses masyarakat," ujar tim peneliti dalam laporannya, dikutip dari The Straits Times.

Meski demikian, tidak semua jenis kanker menunjukkan peningkatan kasus. Upaya edukasi kesehatan dan program vaksinasi berhasil menekan beberapa jenis kanker, seperti kanker serviks melalui vaksin HPV serta kanker hati melalui vaksin hepatitis B.

Faktor Genetik Masih Menjadi Perhatian

Para peneliti masih terus mempelajari apakah kanker pada usia muda memiliki karakter biologis yang berbeda dengan kanker pada usia lanjut.

Hingga saat ini, pasien berusia muda diketahui lebih sering memiliki faktor keturunan yang meningkatkan risiko kanker, seperti mutasi gen BRCA1/2 maupun Sindrom Lynch.

"Masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa kanker usia muda adalah penyakit yang secara mendasar berbeda. Tapi yang jelas, faktor keturunan punya porsi lebih besar di usia ini," lanjut para ahli.

Karena itu, pemeriksaan genetik dan pendekatan precision oncology, yaitu terapi berdasarkan profil molekuler pasien, semakin penting untuk menentukan pengobatan yang paling sesuai.

Dampak Kanker pada Anak Muda Tak Hanya Fisik

Selain menghadapi tantangan medis, pasien kanker usia muda juga menanggung dampak psikososial dan finansial yang besar. Banyak di antara mereka menerima diagnosis saat sedang membangun pendidikan, karier, maupun kehidupan keluarga.

Salah satu perhatian utama ialah masalah kesuburan. Terapi kemoterapi dan radiasi dapat memengaruhi kemampuan memiliki keturunan. Tim medis menilai pembahasan mengenai pembekuan sel telur (egg freezing) atau preservasi sperma perlu dilakukan sebelum pengobatan dimulai.

Tekanan psikologis juga menjadi tantangan tersendiri. Pasien harus menjalani pengobatan intensif ketika teman-teman seusianya sedang berkembang dalam karier maupun membangun keluarga.

Di sisi lain, beban finansial turut menjadi persoalan. Banyak pasien belum memiliki kondisi ekonomi yang mapan, sementara pengobatan kanker membutuhkan biaya besar dan sering kali mengganggu kelangsungan pekerjaan maupun karier mereka.

Artikel ini telah tayang di detikHealth. Baca selengkapnya di sini.

(sao/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads