Mulai tahun depan, materi batik direncanakan akan masuk ke dalam kurikulum pembelajaran siswa sekolah negeri di Jawa Barat. Materi tersebut dikenalkan melalui muatan lokal untuk jenjang SD dan SMP.
Langkah ini salah satunya didorong kekhawatiran terhadap generasi muda di tengah kehidupan yang serba cepat dan instan. Semakin sedikit kesempatan untuk berlatih kesabaran, ketelitian, dan keuletan melalui kegiatan berkesenian.
Pendiri Batik Komar sekaligus akademisi dan praktisi batik Jawa Barat, Komarudin Kudiya, mengatakan proses membatik memiliki nilai yang relevan untuk dikenalkan kepada anak sekolah. Pasalnya, membatik tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa karena butuh ketelitian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awalnya Pak Gubernur yang menginginkan batik diajarkan. Karena kita lihat bahwa generasi muda sekarang psikologinya sering tidak stabil. Itu karena tidak pernah belajar sesuatu yang melatih kesabaran dan ketenangan," ungkap Komarudin saat ditemui selepas kegiatan Batik Walk bersama Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) di Bank Indonesia Jawa Barat, Minggu (9/8/2026).
Gagasan memasukkan batik ke pembelajaran sekolah kemudian dibahas Komarudin bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dari pembahasan tersebut, disiapkan buku ajar batik yang nantinya menjadi panduan bagi sekolah negeri untuk mengenalkan batik dalam muatan lokal kesenian.
"Nanti akan masuk ke pelajaran kesenian lewat muatan lokalnya, dan sudah dapat dukungan penuh dari Gubernur Jawa Barat," jelasnya.
Menurut Komarudin, membatik bukan sekadar aktivitas menghasilkan kain bermotif. Di dalam prosesnya terdapat nilai kesabaran, gotong royong, hingga sikap saling menghargai yang penting untuk perkembangan anak sekolah.
"Dalam proses membuat batik itu kan sangat diuji kesabarannya, sikap gotong royong dan saling menghargai," ujarnya.
Adapun buku ajar tersebut saat ini masih dalam proses penyusunan. Rencananya, buku ajar akan diluncurkan dalam rangkaian Jambore Batik Jawa Barat yang puncaknya diselenggarakan pada 24-25 Oktober 2026.
Komarudin mengatakan buku tersebut akan dibuat berdasarkan jenjang pendidikan siswa. Untuk tingkat SD, materi akan dibagi menjadi tiga kelompok, yakni kelas 1-2, kelas 3-4, serta kelas 5-6. Kemudian dilanjutkan dengan materi membantik untuk siswa SMP.
"Buku itu akan diberlakukan berjenjang di sekolah dasar kelas 1-2, kelas 3-4, 5-6 dan SMP nantinya," jelasnya.
Program tersebut ditargetkan mulai efektif digunakan di sekolah pada tahun depan. Dengan demikian, proses penyusunan buku akan dirampungkan tahun ini agar dapat diluncurkan bertepatan dengan Jambore Batik Jawa Barat.
"Kalau bukunya kita rencananya di tahun ini. Ini sudah dalam proses dibuat, berarti efektifnya tahun depan," ucapnya.
Upaya Regenerasi
Lebih lanjut, ia mengatakan pengajaran batik di sekolah juga penting untuk regenerasi pembatik. Keberadaan batik sebagai warisan budaya tidak cukup hanya dipertahankan melalui penggunaan kain batik.
"Belajar batik di sekolah juga penting untuk regenrasi ya. Kalau batik tidak dikenalkan sekarang pada anak-anak, mau kapan lagi. Dimulai saja dari hal yang paling sederhana," jelasnya.
Di sisi lain, Komarudin melihat saat ini semakin banyak anak muda yang mulai tertarik membuat batik. Kemunculan generasi baru ini juga sekaligus membawa desain dan gagasan yang lebih sesuai zaman.
"Ini perkembangan yang baik sekali. Anak muda dan siapapun yang punya kreativitas, punya inovasi untuk mengerjakan batik adalah hal yang positif dan harus terus didukung," ujarnya.
Menurutnya, anak muda tidak harus menggunakan motif yang rumit ketika ingin mengenakan atau membuat batik. Motif sederhana bisa menjadi pilihan yang disesuaikan denga gaya masing-masing.
"Pokoknya cintai batik sesuai dengan kesenangan kita. Jika senang dengan motif-motif yang sederhana, seperti bentuk-bentuk gambar dasar lingkaran, persegi, dan aksen-aksen geometri seperti itu, tidak masalah," tuturnya.
"Prosesnya pun bisa mulai dari coretan, batik cap, sampai akhirnya mampu produksi batik tulis," lanjutnya.
Yang terpenting, ia mengatakan, teknik pembuatan batik yang benar harus tetap menjadi pegangan. Ia menyoroti sejumlah motif yang sebelumnya dibuat melalui teknik batik, kini mulai marak diproduksi menggunakan printing karena lebih murah dan efisien.
"Yang penting batik itu harus dikerjakan dengan teknik batik yang sesuai. Perintangan warnanya harus menggunakan lilin panas, bukan printing," tutupnya.
Simak Video "Video: Perjuangan di Ujung Canting Siti Laela"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
