Suasana sunyi di bawah rindangnya pepohonan tinggi, sejuta harapan warga membubung demi mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Kondisi kekeringan di wilayah Desa Sindangwangi, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, memaksa warga dari tiga RT di wilayah tersebut untuk bertarung dengan waktu.
Sumur terbuka yang terletak sekitar 200 meter dari permukiman kini menjadi satu-satunya tumpuan sumber kehidupan. Di sana, air bukan sekadar komoditas, melainkan hasil dari kesabaran mengantre yang bisa berlangsung hingga senja menyapa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setibanya di lokasi, pemandangan antrean jeriken sudah menjadi pemandangan lazim. Warga tidak bisa serta-merta menciduk air dalam jumlah besar. Dengan kedalaman sekitar tiga meter, mereka harus perlahan menimba air menggunakan ember kecil yang diikat tali, memastikan setiap tetesnya masuk ke wadah penampungan tanpa terbuang sia-sia.
Bagi Ikut (60), warga setempat, rutinitas ini adalah siklus tahunan yang melelahkan namun tak terelakkan. Sumur di tengah perkebunan itu kini harus menghidupi sekitar 100 jiwa yang datang silih berganti.
"Kegiatan ini dilakukan setiap hari pada musim kemarau sekarang. Warga RT 13 di Kawarasan khususnya selalu ke sini setiap hari," kata Ikut, Minggu (9/8/2026).
Kepadatan di titik air ini sering kali membuat suasana menjadi riuh sejak pagi buta. "Jadi, sumur ini selalu diserbu warga. Ada sekitar 100 warga dari tiga RT di satu RW," tambahnya.
Meski terdapat tiga sumur terbuka di wilayah tersebut, debit air yang mengecil membuat warga tidak punya pilihan selain berbagi. Sistem giliran pun berlaku secara alami. Siapa yang cepat, dia yang dapat. Namun bagi yang tertinggal, siang atau sore hari adalah waktu sisa yang harus mereka tempuh.
"Jadi harus ngantri, giliran. Ada yang pagi-pagi, yang enggak kebagian pagi ya bisa siang, kalau enggak siang ya sore. Ya, gitu," tuturnya.
Kebutuhan air ini memang krusial. Selain untuk memasak dan minum, warga memanfaatkannya untuk mandi hingga mencuci pakaian. Bahkan, demi efisiensi tenaga, tak sedikit warga yang memilih mencuci pakaian langsung di bibir sumur agar tidak perlu memikul beban air yang berat kembali ke rumah.
Walo (51), salah satu warga lainnya, mengaku harus mengatur jadwal dengan ketat. Baginya, air adalah prioritas yang harus dikelola dengan bijak agar cukup untuk seluruh anggota keluarga.
"Kalau untuk nyuci pakaian paling tiga hari sekali," ujarnya. Baginya, yang terpenting adalah kebutuhan dasar di dapur dan kamar mandi tetap terpenuhi. "Yang penting ada air buat mandi, masak, cuci piring," katanya.
Namun, krisis air ini bukan sekadar urusan domestik. Dampaknya merembet hingga ke roda ekonomi. Mayoritas warga yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan harus merelakan waktu produktif mereka terbuang di antrean sumur. Waktu yang seharusnya digunakan untuk mencangkul atau mencari nafkah, kini habis untuk menunggu giliran menimba.
Ikut mengeluhkan betapa kondisi ini mencekik pendapatan warga. "Ya mengganggu, soalnya orang yang mau kerja harus mencari air dulu. Pendapatan jadi berkurang," keluhnya.
Harapan sederhana pun membuncah di tengah debu kemarau. Warga mendambakan adanya solusi permanen, entah itu penambahan sumur bor atau akses air bersih dari PAM yang bisa langsung mengalir ke rumah-rumah mereka tanpa harus mengandalkan otot dan waktu yang terbuang. "Ya, seharusnya ada bantuan sumur satu atau dua lagi. Kalau bisa mah air PAM, kan bisa disedot. Tolonglah minta bantuannya," ucapnya.
Sumur tua di tengah perkebunan itu akan tetap menjadi saksi bisu ketangguhan warga Kawarasan bertahan hidup di tengah kepungan kemarau.
(iqk/iqk)
