Keluh Kesah Pedagang Pasar Kosambi Hadapi Kenaikan Harga-Sepinya Pembeli

Keluh Kesah Pedagang Pasar Kosambi Hadapi Kenaikan Harga-Sepinya Pembeli

Fauzan Muhammad - detikJabar
Senin, 16 Mar 2026 16:20 WIB
Pedagang sayuran di Pasar Kosambi Bandung.
Pedagang sayuran di Pasar Kosambi Bandung (Foto: Fauzan Muhammad/detikJabar).
Bandung -

Menjelang hari raya Idulfitri, suasana di Pasar Kosambi, Kota Bandung, justru menunjukkan tren lesu bagi sebagian pedagang kecil. Meski harga komoditas mulai merangkak naik, volume penjualan di tingkat pedagang justru merosot drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Asum, salah satu pedagang sayur di trotoar Kosambi, mengeluhkan kondisi ekonomi saat ini. Menurutnya, dua tahun terakhir terasa jauh lebih berat ketimbang tahun 2024. Meski hari raya tinggal menghitung hari, lonjakan pembeli yang biasanya terjadi justru belum terlihat.

"2024 agak mendingan, 2025, 2026, aduh parah Kang. Sekarang empat hari lagi Lebaran mana yang belanja? sepi begini" keluh Asum saat ditemui detikJabar di sela kegiatannya pada Senin (16/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenaikan harga sayur membuat margin keuntungan pedagang kian menipis. Asum bahkan mengaku penghasilannya habis hanya untuk menutup modal, sehingga ia tak memiliki cukup uang untuk mudik ke kampung halaman.

"Sekarang mah aduh ya Allah. Saya juga kemarin munggah (menyambut bulan Ramadhan) nggak bisa pulang kampung. Harga barang sekarang pada naik, untung Rp2.000 buat kresek juga tekor kalau dihitung mah" tambahnya.

ADVERTISEMENT

Kondisi serupa dialami oleh Elin, pedagang tahu dan tempe yang baru meneruskan usaha keluarga selama lima bulan terakhir. Ia mengungkapkan bahwa lonjakan pembeli hanya terjadi pada awal Ramadan, tepatnya hari kedua hingga keempat. Mendekati Lebaran, prioritas masyarakat mulai bergeser ke komoditas lain.

"Kalau mau Lebaran mah daging yang banyak dicari. Kalau tahu tempe atau sayur mah setelah lebaran baru orang-orang nyariin lagi" ujar Elin.

Bayang-bayang Proyek BRT di Trotoar Kosambi

Di tengah sulitnya meraup untung, para pedagang kini juga dihadapkan pada rencana pengembangan transportasi publik Bus Rapid Transit (BRT) yang dikabarkan akan berdampak pada trotoar di depan pasar. Isu ini memicu beragam reaksi di kalangan pedagang, terutama terkait rencana relokasi dan dampak terhadap aksesibilitas pembeli.

Asum merespons rencana tersebut dengan nada pasrah. Baginya, mengikuti aturan pemerintah adalah satu-satunya pilihan untuk bertahan hidup. "Saya mah mau ngikutin aja, dipindahin ya pindah dagang mah. Kalau maksa di sini, paling-paling ya enggak bisa makan" ungkap Asum.

Di sisi lain, Elin menjelaskan bahwa dampak BRT kemungkinan besar hanya akan dirasakan oleh para pedagang yang berada di trotoar. Hal ini dikarenakan area tersebut berada di bawah wewenang pemerintah, berbeda dengan area dalam pasar yang dikelola oleh PD Pasar.

"Kalau yang jualan di sekitar area parkir itu katanya ga kena dampak, soalnya kalau yang di atas itu yang kelola PD Pasar kan, kalau yang di trotoar dikelola pemerintah" jelas Elin.

Menurut Elin, penertiban di area trotoar sebenarnya sudah sering terjadi sejak dulu. Titik permasalahan selalu muncul ketika pembeli enggan untuk masuk ke dalam pasar karena persoalan parkir dan kemudahan akses.

"Pembelinya juga kebanyakan malas masuk ke sini. Kebanyakan kan kalau misalnya pagi-pagi paling di luar situ (trotoar), dari mobil-mobil kan malas parkir" tutup Elin.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Ribuan Umat Muslim Salat Id di Marina Waterfront City Labuan Bajo"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads