Momentum Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah membawa angin segar bagi para perajin tusuk sate di Kota Tasikmalaya.
Lonjakan permintaan yang datang silih berganti membuat geliat produksi di pabrik rumahan meningkat drastis hingga dua kali lipat.
Fenomena masa marema ini dirasakan langsung oleh Karto Widodo, salah seorang pemilik pabrik pembuatan tusuk sate di Tasikmalaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengatakan setiap kali menyambut Hari Raya Kurban, gairah pasar selalu menunjukkan grafik meroket dibanding hari-hari biasa.
Perajin tusuk sate di Tasikmalaya tengah tekun bekerja (Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar). |
"Momen Iduladha memang jadi puncak produksi tusuk sate. Kenaikan marketnya hampir 100 persen naik," kata Karto saat di pabriknya di Kampung Panunggulan, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Senin (18/5/2026) siang.
Meski pasar sedang bergairah, Karto membeberkan bahwa keterbatasan kapasitas produksi menjadi kendala.
Alhasil, derasnya pesanan baru yang masuk terpaksa tidak semuanya bisa dilayani.
Demi menjaga ritme bisnis dan kepercayaan, ia memilih untuk fokus mengamankan pasokan bagi para mitra lama yang sudah sejak awal bergantung pada produksinya.
"Kalau pesanan overload, banyak yang kami tolak sebenarnya. Sebab kami tidak mampu suplai. Jadi kami tetap continue untuk suplai ke pelanggan yang sudah langganan," kata Karto.
Menjalankan bisnis ini pun bukan tanpa kerikil tajam. Karto menceritakan bagaimana faktor alam kerap jadi penentu kelancaran produksi.
Hujan yang turun tidak menentu sering kali memperlambat proses pengeringan dan berimbas pada tersendatnya produksi.
Meski demikian, untuk urusan ketersediaan batang bambu sebagai material utama, ia mengaku tidak terlalu risau.
"Tapi kalau untuk bambu sendiri saya kira di wilayah Priangan tidak akan habis," kata Karto.
Saat ini, Karto mematok harga tusuk sate miliknya di angka Rp17.000 per kilogram. Sementara untuk kemasan pak kecil isi 400 tusuk, dibanderol dengan harga Rp4.500.
Dari dapur produksinya, satu unit mesin rata-rata mampu mengolah dan menghasilkan hingga 250 kilogram tusuk sate dalam kondisi basah.
Perajin tusuk sate di Tasikmalaya tengah tekun bekerja (Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar). |
"Di sini kita satu mesin. Dua mesin lainnya masing-masing ada di Cineam dan Cikalong. Total pekerja 18 orang, di pabrik induk di sini kita pekerjakan 8 orang," kata Karto.
Distribusi pasar tusuk sate asal Tamansari ini tidak hanya berputar di kawasan lokal Tasikmalaya atau wilayah Priangan Timur semata.
Kualitas produk yang konsisten membuat para tengkulak dan pembeli dari kota-kota besar rela datang langsung ke pusat produksi.
"Kita juga sampai ke Jakarta, Surabaya. Jadi semua datang ke sini langsung," kata Karto.
Simak Video "Video Bocah di Tasikmalaya Melepuh Usai Main Meriam Bambu, Ortu Lapor Polisi"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)

