Cerita Petani Jagung Sukamulya Ciamis Raup Cuan Tanpa Lewat Bulog

Cerita Petani Jagung Sukamulya Ciamis Raup Cuan Tanpa Lewat Bulog

Dadang Hermansyah - detikJabar
Rabu, 20 Mei 2026 15:00 WIB
Petani Jagung di Sukamulya Ciamis sedang panen.
Petani Jagung di Sukamulya Ciamis sedang panen. Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar
Ciamis -

Hamparan lahan jagung di Desa Sukamulya, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis, tampak sudah menguning, menunjukkan siap dipanen. Para petani jagung di Sukamulya punya cara sendiri agar hasil panen tetap menguntungkan. Salah satunya dengan memilih menjual jagung langsung ke peternak ayam dan pasar lokal dibanding ke Bulog.

Ketua Kelompok Tani Harapan Laksana Tiga Khocis mengatakan keputusan itu diambil karena harga jual di pasar lokal dinilai lebih menguntungkan bagi petani. Selain itu, standar kualitas yang ditetapkan Bulog dinilai cukup sulit dipenuhi tanpa dukungan sarana memadai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau dijual ke pasar lokal sekarang harganya bisa Rp6.300 sampai Rp6.400 per kilogram. Kalau bulog kadar air harus 13 sampai 14 persen. Buat petani itu berat kalau tidak disiapkan fasilitasnya," ujar Khocis saat ditemui di area kebun jagung, Rabu (20/5/2026).

Menurutnya, mayoritas hasil panen jagung biasa langsung diserap peternak ayam di wilayah Ciamis. Beberapa di antaranya seperti Naratas dan Cigebot. Sistem itu dianggap lebih praktis karena petani tidak perlu memenuhi spesifikasi terlalu rumit.

ADVERTISEMENT

"Peternak lokal sudah biasa ambil langsung ke sini. Jadi petani lebih memilih pasar yang jelas dan cepat. Kalau ke Bulog harus lebih bersih, kadar air rendah, sementara alat pengering modern tidak tersedia," katanya.

Kelompok Tani Harapan Laksana Tiga sendiri mengelola lahan jagung sekitar 20 hektare dengan pola tanam bertahap. Strategi itu sengaja diterapkan agar panen tidak menumpuk dalam satu waktu dan harga tetap stabil.

"Kalau panen serentak biasanya harga anjlok. Makanya kami buat pola estafet, jadi setiap bulan tetap ada yang panen sekitar tiga sampai lima hektare," jelas Khocis.

Ia menyebut, varietas jagung yang kini banyak ditanam petani adalah NK 306 Garuda produksi Syngenta. Jenis tersebut dinilai paling cocok dengan kontur tanah di wilayah Baregbeg dan mampu menghasilkan panen cukup baik.

"Kalau untuk varietas ini hasilnya sekitar empat sampai lima ton per hektare dalam kondisi kering pipil. Kalau basah bisa tujuh sampai delapan ton," ungkapnya.

Khocis menjelaskan, persoalan utama petani sebenarnya bukan hanya soal harga, tetapi juga keterbatasan sarana pascapanen. Untuk memenuhi standar Bulog, petani membutuhkan alat pengering modern hingga mesin sortir yang biayanya tidak murah.

"Kalau pemerintah ingin petani memenuhi standar kadar air 13 persen, sarana pengering harus disiapkan. Jangan petani hanya dituntut kualitas, tapi fasilitasnya tidak ada," tegasnya.

Meski begitu, ia mengaku harga jagung dalam dua tahun terakhir cukup membantu membangkitkan semangat petani yang sebelumnya sempat enggan menanam jagung akibat harga rendah.

Petani Jagung di Sukamulya Ciamis sedang panen.Petani Jagung di Sukamulya Ciamis sedang panen. Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar

"Dulu harga jagung sempat Rp3.000 sampai Rp3.500 per kilogram, petani banyak yang kecewa. Sekarang mulai membaik, jadi motivasi tanam kembali tumbuh," katanya.

Saat ini, kelompok tani tersebut memiliki sekitar 189 anggota yang mengelola lahan basah dan lahan kering. Dari total area pertanian, sekitar 50 persen di antaranya kini aktif ditanami jagung.

"Dulu banyak lahan yang kurang dimanfaatkan. Sekarang perlahan mulai produktif lagi karena petani melihat jagung punya peluang," pungkas Khocis.

Amah (71), petani jagung lainnya juga mengaku selama ini menjual jagungnya kepada peternak lo­kal. Menurutnya, saat ini, harga jagung kering pipil lumayan bagus mencapai Rp 6.000 per kilogram.

Amah memiliki luas lahan 350 bata ditanami jagung dengan hasil panen 1,7 ton pipil kering dengan masa tanam berlangsung selama empat bulan. Amah mengaku sebelum menanam jagung sempat menanam singkong. Menurutnya, menanam jagung lebih menguntungkan dengan masa panen yang tidak terlalu lama.

"Kalau jagung bisa 3 kali panen dalam setahun, harganya bagus. Sebelumnya menanam singkong, 10 bulan baru panen. Biasa menjual jagung ke peternak di Cigebot," jelasnya.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads