Mengenal Beras Fortifikasi: Kandungan Gizi dan Aturan Harganya

Mengenal Beras Fortifikasi: Kandungan Gizi dan Aturan Harganya

Tim detikJabar - detikJabar
Kamis, 21 Mei 2026 12:58 WIB
Ilustrasi Beras
Ilustrasi beras (Foto: Getty Images/iStockphoto)
Bandung -

Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat adanya perubahan pola bisnis di tingkat produsen beras, di mana banyak pelaku usaha mulai beralih memproduksi beras khusus, termasuk beras fortifikasi. Peralihan ini diduga dilakukan untuk menghindari kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang berlaku pada beras kelas premium.

Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan instruksi tegas kepada jajarannya untuk melakukan pemeriksaan laboratorium guna membuktikan klaim gizi pada kemasan tersebut agar tidak merugikan masyarakat. Berikut ringkasannya yang dirangkum detikJabar dari pemberitaan detikFinance (baca selengkapnya di sini), Kamis (21/5/2026).

Mengenal Beras Fortifikasi dan Standar Gizinya

Beras fortifikasi adalah beras sosoh yang ditambahkan dengan kernel beras fortifikan untuk mendapatkan komposisi nutrisi tertentu bagi kesehatan konsumen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

  • Definisi Produk: Produk ini merupakan hasil pengayaan zat gizi mikro untuk meningkatkan mutu pangan.
  • Kandungan Wajib: Berdasarkan standar pemerintah, beras ini harus mengandung vitamin B1, asam folat, B12, zat besi, dan seng.
  • Persyaratan SNI 9372:2025: Per 100 gram beras wajib mengandung minimal 0,25 mg vitamin B1, 0,25-0,38 mg asam folat, 1,0-1,5 mcg vitamin B12, 3,50-5,25 mg zat besi, dan 3,0-4,5 mg seng.

Harga Melambung dan Dugaan Manipulasi

Dalam pengawasan selama April 2026, ditemukan anomali harga dan ketidaksesuaian label pada produk beras fortifikasi yang beredar di pasaran.

  • Harga di Jakarta: Bapanas menemukan beras fortifikasi yang dijual hingga mencapai Rp 27.000 per kilogram (kg) di wilayah DKI Jakarta.
  • Ketidaksesuaian Label: Beberapa sampel menunjukkan kandungan gizi hanya memuat 2 jenis zat, tidak sesuai dengan janji pada label kemasan.

"Sudah, (beras) yang fortifikasi diperiksa. Itu jangan akal-akalan. Atas nama seperti yang kemarin ternyata tidak ada. Tolong diperiksa di lab, Deputi (Bapanas) periksa lab. Jadi dari premium karena kita sudah batasi (HET), dialihkan lagi ke situ (beras fortifikasi)," kata Amran.

ADVERTISEMENT

Dia kembali mengingatkan jajarannya. "Ini kan akal-akalan. Tolong dicek. Kalau bisa ambil sampel, 100 sampai 200. Rakyat ini bosan nanti kalau kita cuma pencitraan, omon-omon, (jadi) ini harus ditindak," ucapnya.

Langkah Penertiban Harga dan Izin Edar

Pemerintah mengambil langkah preventif agar masyarakat tetap bisa mengakses beras berkualitas dengan harga terjangkau tanpa permainan spekulasi.

  • Penyelarasan Harga: Untuk sementara, harga beras fortifikasi diimbau disamakan dengan HET beras premium, yakni antara Rp 14.900 hingga Rp 15.800 per kg tergantung zonasi wilayah.
  • Instruksi Kebijakan: "Ini untuk sementara ya, sebaiknya sama saja (dengan) premium. Untuk sementara tapi ini harus diputuskan Rakortas (Kementerian Koordinator Bidang Pangan). Tapi sekarang ini kami bisa mengambil langkah mengecek lapangan. Apa benar yang dia katakan itu. Nah diperiksa ulang semua itu yang menaikkan harga," jelas Amran.
  • Mekanisme Izin Edar: Produsen wajib memiliki izin edar Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) yang diterbitkan oleh Gubernur melalui DPMPTSP setelah verifikasi dari dinas pangan.
  • Tujuan Penertiban: "Nah kalau kita sudah tidak memperbolehkan lagi beras fortifikasi dengan harga yang tinggi, tentu lambat laun akan turun, sehingga rata-rata jadi bagus. (Jadi) jangan dilepas. Biarkan saja beras fortifikasi seharga beras premium, sehingga dia harganya akan turun dengan sendirinya," ujar Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa.

Peran Bulog Mengisi Kekosongan Suplai

Meskipun terjadi pergeseran pola jual di ritel modern, pemerintah memastikan stok beras tetap tersedia dan tidak terjadi kelangkaan.

  • Intervensi Pasar: Bulog didorong untuk mengisi kekosongan suplai beras premium di ritel modern yang saat ini banyak didominasi beras khusus.
  • Ketersediaan Produk: Bulog memiliki berbagai merek seperti Befood, Punokawan, dan Setra Ramos yang siap dilempar ke pasar ritel.

"Bukan langka. Saya kira kan kami juga kunjung ke lapangan, melihat di ritel modern itu masih ada, (memang) tidak banyak tapi ada. Memang juga ada beras fortifikasinya. Ini kesempatan Bulog masuk. Bulog mengisi kekurangan suplai, bukan langka," kata Ketut Astawa.




(bbp/bbp)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads