Menjelang Iduladha 1447 H, suasana khas Lebaran mulai terasa di sudut-sudut Kota Tasikmalaya, Senin (25/5/2026). Salah satunya ditandai dengan kemunculan pedagang cangkang ketupat musiman.
Di pinggiran Jalan Raya Cibeuti, Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya misalnya, tampak mulai hijau oleh jejeran anyaman janur kelapa milik para pedagang cangkang ketupat musiman.
Di antara deretan pedagang tersebut, ada Sandi Septian. Pria asal Kecamatan Salawu ini menjadikan momen menjelang Lebaran Haji sebagai kesempatan emas untuk mencari nafkah tambahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Sandi, menganyam daun kelapa muda menjadi cangkang ketupat adalah rutinitas dua kali setahun yang tak boleh dilewatkan.
"Satu tahun dua kali saya pasti jualan di sini, pas mau Idulfitri sama Iduladha. Pembeli cangkang ketupat pasti banyak," kata Sandi.
Berbekal satu karung besar berisi sekitar 1.000 kulit ketupat hasil kerajinan tangannya sendiri, Sandi optimis dagangannya kembali ludes. Lapaknya yang baru dibuka Senin pagi langsung dihampiri warga sejak pukul 10.00 WIB.
Untuk urusan harga, Sandi mematok tarif yang sangat terjangkau, Rp10 ribu per ikat isi 10 buah, atau promo Rp15 ribu untuk dua ikat.
Pilihan lokasinya di Jalan Raya Cibeuti terbukti tepat karena ramainya arus lalu lintas warga, membuat rajutan janurnya selalu diburu pembeli.
Para pedagang cangkang ketupat di daerah Kawalu ini mayoritas berasal dari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya. "Mungkin karena di kampung kami (Salawu) banyak bahan daun kelapa. Jadi banyak yang memanfaatkan untuk dijual," kata Sandi.
Namun meski banyak daun kelapa, bukan berarti bahan baku cnagkang ketupat itu bisa didapatkan dengan cuma-cuma. "Zaman sekarang nggak ada yang gratis, tetap harus pakai modal. Kalau yang punya pohon kelapa mungkin bisa gratis," kata Sandi.
Terkait proses pembuatan 1.000 cangkang ketupat yang dibawanya hari ini, Sandi mengaku melibatkan keluarganya. Untuk membuat cangkang ketupat sebanyak itu dia hanya butuh beberapa hari.
"Nggak sampai seminggu beres, mungkin karena sudah biasa. Bari peureum ge bisa ngayam mah (sambil pejamkan mata juga bisa menganyam ketupat)," kata Sandi.
Ela Nurlaila (40), salah seorang pembeli mengaku cukup terbantu dengan kehadiran para pedagang ini. "Dari pada bikin sendiri, susah cari daunnya, mendingan beli, hanya seribuan," kata Ela.
Dia mengaku bisa jika harus membuat cangkang ketupat sendiri. Dia terkenang dengan masa kecilnya saatembuat cangkang ketupat. "Bisa dong, waktu kecil kalau mau Lebaran kita bikin sendiri. Sekarang tinggal di perumahan ya susah dapat janurnya," kata Ela.
(sud/sud)