Isu Kenaikan HET Minyakita Bikin Pedagang di Bandung Waswas

Isu Kenaikan HET Minyakita Bikin Pedagang di Bandung Waswas

Wisma Putra - detikJabar
Jumat, 05 Jun 2026 17:37 WIB
Ilustrasi MinyaKita di Pasar Porong Sidoarjo
Ilustrasi MinyaKita (Foto: Suparno/detikJatim)
Bandung -

Siang menjelang sore di Jalan Gatot Soebroto, Kota Bandung, aktivitas warga berjalan seperti biasa. Arus lalu lintas tampak ramai namun tetap lancar. Di bawah terik matahari, para pedagang kaki lima (PKL) mulai memenuhi pinggir jalan sejak pukul 10.00 WIB, menunggu datangnya pembeli yang biasanya memadati kawasan tersebut saat jam makan siang.

Aneka makanan siap saji tersaji di sepanjang trotoar dan bahu jalan. Mulai dari cireng, batagor, gorengan, cakue, cilok, hingga cimol. Tak sedikit pula yang menjajakan bakso, mi ayam, ayam goreng, serta beragam minuman segar untuk melepas dahaga warga yang beraktivitas di sekitar lokasi.

Namun di balik ramainya aktivitas perdagangan itu, para pedagang menyimpan kegelisahan yang sama. Pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga sejumlah bahan pokok, hingga isu kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) Minyakita menjadi bayang-bayang yang menghantui usaha kecil mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi para pedagang makanan yang bergantung pada minyak goreng setiap hari, isu tersebut bukan sekadar kabar ekonomi yang lewat di layar televisi atau media massa. Mereka merasakannya langsung sebagai ancaman terhadap keberlangsungan usaha yang selama ini menjadi sumber nafkah keluarga.

ADVERTISEMENT

Salah satunya dirasakan Ipin (45), penjual basmut asal Garut yang sehari-hari berjualan di kawasan tersebut. Ia mengaku semakin kesulitan menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok yang terus terjadi, terutama minyak goreng.

"Catat, Minyakita meski harga dari pemerintahnya berapa (HET), yang dijual di pasar atau warung beda," kata Ipin.

Menurutnya, harga Minyakita yang beredar di lapangan kerap jauh di atas harga yang ditetapkan pemerintah.

"Di warung bisa Rp20-21 ribu per liternya, dapat yang Rp19 ribu itu beruntung," tambah Ipin.

Karena itu, ia mengaku khawatir jika nantinya harga Minyakita kembali mengalami kenaikan.

"Bisa tidak beritanya harganya bakal diturunkan, itu buat warga senang, katanya negara kita penghasil minyak," ujar Ipin.

Pria yang harus menanggung kebutuhan keluarga di Bandung dan Garut itu mengaku hanya bisa pasrah menghadapi situasi yang ada. Bahkan ia mulai memikirkan kemungkinan beralih usaha jika harga minyak terus meningkat.

"Mungkin nanti saya tidak jualan ini, jualan yang lain yang gak pake minyak, jujur berat kalau harus naik. Bayangkan saja, dapur dua (karena istri dan anaknya di Garut), buat makan saya dan keluarga saja sulit. Jujur saja, saya jualan ini buat bertahan hidup, bukan buat memperkaya diri," tegas Ipin.

Keresahan serupa juga dirasakan Deden (34), pedagang telur gulung yang berjualan di kawasan Jalan Gedebage Selatan. Menurutnya, tekanan biaya produksi semakin terasa karena hampir seluruh bahan baku mengalami kenaikan harga.

"Bayangkan saja, telur naik, minyak naik, Minyakita itu udah mending kualitasnya, ada lagi minyak curah, tapi itu gak bagus buat masakan, ah sulit banget buat pedagang kecil mah," ujar Deden.

Pria yang telah berjualan hampir satu dekade itu mengaku kondisi saat ini menjadi salah satu periode tersulit yang pernah ia alami.

"Saya jualan hampir 10 tahun, sekarang benar-benar sulit," ujarnya.

Ia berharap pemerintah dapat lebih memperhatikan kondisi pedagang kecil yang menjadi salah satu kelompok paling terdampak ketika harga kebutuhan pokok meningkat.

Sama seperti Ipin, Deden berharap pemerintah menghadirkan kebijakan yang dapat meringankan beban masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro yang menggantungkan hidup dari hasil berjualan setiap hari.

"Sekali-kali kasih berita baik dari pemerintah, jangan dinaikan, kalau bisa turunkan," pungkanya.




(wip/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads