Marongge bukan sekadar nama sebuah desa di Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Di balik nama yang terdengar unik itu, tersimpan legenda tua yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Konon, nama Marongge lahir dari peristiwa gaib yang melibatkan seorang perempuan sakti bernama Mbah Gabug, sosok yang hingga kini masih dikenang dalam cerita rakyat Sumedang. Mbah Gabug dan ketiga saudarinya merupakan perempuan-perempuan cantik yang menjadi pusat cerita asal-usul daerah yang tersohor dengan "pelet" (pemikat) jodoh itu.
Bagaimana kisahnya? Simak yuk!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perempuan Cantik dari Mataram yang Diperebutkan Banyak Raja
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sebagaimana dikutip dari laman budayaindonesia.org, Mbah Gabug merupakan perempuan cantik yang berasal dari Kerajaan Mataram. Dia dan saudari-saudarinya mendapat titah untuk menyerang wilayah Panjalu, tetapi gagal.
Akhirnya, mereka menetap di Kampung Babakan, wilayah yang kini berada di sekitar kawasan Makam Keramat Marongge. Mereka adalah Mbah Gabug, Mbah Setayu, Mbah Naibah, dan Mbah Naidah. Keempatnya dikenal memiliki kecantikan luar biasa. Kabar tentang paras mereka menyebar hingga ke berbagai daerah dan membuat banyak bangsawan, pangeran, hingga raja terpikat.
Akan tetapi, ada satu hal yang membuat banyak orang heran. Meski terkenal cantik, keempatnya memilih hidup melajang dan menolak berbagai pinangan yang datang.
Membuat Penasaran Raja Gubangkala
Kocap kacarita, keputusan mereka tetap melajang menarik perhatian seorang raja bernama Gubangkala. Siapa tahu, kalau Gubangkala yang melamar, Mbah Gabug akan mau. Dikirimlah utusan. Namun, Raja Gubangkala tidak sekadar mengirim utusan biasa. Ia mengerahkan patih beserta pasukan kerajaan untuk melamar Mbah Gabug.
Perlu dicatat, selain cantik, Mbah Gabug juga sakti. Ilmunya bukan untuk dianggap sepele oleh Gubangkala. Terbukti, niat lamaran tersebut rupanya telah diketahui lebih dahulu oleh Mbah Gabug.
Dengan kesaktian yang dimilikinya, ia melakukan semedi dan mengeluarkan ilmu sirep. Ketika rombongan kerajaan tiba di gerbang Kampung Babakan, seluruh pasukan mendadak tertidur pulas.
Tetapi, tidur dalam waktu lama tidak membuat patih dan rombongannya surut untuk mengajukan lamaran paksa. Mereka tetap bersikeras menyampaikan lamaran sang raja. Mbah Gabug pun tidak marah. Ia justru memberikan sebuah syarat yang tampaknya sederhana, tetapi mustahil dilakukan.
Tantangan Buah Kukuk di Sungai Cilutung
Mbah Gabug meminta Raja Gubangkala mengembalikan sebuah buah kukuk atau labu air yang sengaja dihanyutkan ke Sungai Cilutung hingga menuju aliran Sungai Cideres. Sang raja menerima tantangan tersebut dengan penuh percaya diri.
Di hadapan Mbah Gabug dan ketiga saudarinya, ia menunjukkan kesaktian yang dimilikinya. Berbagai ilmu dikerahkan agar buah kukuk yang telah hanyut dapat kembali melawan arus sungai. Namun usaha itu sia-sia. Semakin besar tenaga yang dikeluarkan, semakin jauh pula buah tersebut terbawa arus. Pada akhirnya Raja Gubangkala menyerah dan mengakui kekalahannya.
Setelah Raja Gubangkala gagal, Mbah Gabug maju ke tepi sungai. Dia akan menunjukkan kepada Gubangkala caranya mengambil kukuk yang hanyut itu. Ia mengeluarkan sebuah selendang sakti bernama Cindewulung atau Lokcan. Dengan tenang, selendang itu dikibaskan sebanyak tiga kali. Keajaiban pun terjadi. Buah kukuk yang sebelumnya hanyut jauh terbawa arus tiba-tiba bergerak kembali dan datang ke hadapan Mbah Gabug.
Hilang Selama Tiga Tahun 41 Hari
Suatu hari, Mbah Gabug menghilang tanpa pamit. Kepergiannya membuat ketiga saudarinya kebingungan. Mereka mencari ke berbagai tempat selama bertahun-tahun. Setelah pencarian panjang, Mbah Gabug akhirnya ditemukan di sebuah hutan lebat. Ketika ditemukan, Mbah Gabug tengah dalam kondisi tubuh yang sangat lemah. Dia ditemukan terbaring. Saudari-saudarinya berupaya memberikan pertolongan.
Dalam situasi tersebut, terdengar suara gaib yang memerintahkan ketiga saudari Mbah Gabug mencari 'kilaja susu munding', sejenis buah yang bentuknya menyerupai melinjo dan berukuran kecil. Buah tersebut kemudian diramu dan diberikan kepada Mbah Gabug hingga perlahan kesehatannya pulih. Namun, setelah sembuh, terdengar suara misterius oleh Mbah Gabug.
Suara itu memperkenalkan dirinya sebagai Haji Putih Jaga Riksa, penjaga Gunung Hade. Mbah Gabug kemudian meminta ketiga saudaranya menggali tanah di lokasi tempat dirinya ditemukan.
Setelah lubang selesai dibuat, Mbah Gabug masuk ke dalamnya. Ia lalu memerintahkan ketiga saudarinya menutup lubang tersebut menggunakan rengge, yakni ranting bambu haur. Mereka lantas diminta pulang dan tidak kembali lagi.
Cahaya Misterius
Bagaimana rasanya meninggalkan Mbah Gabug di dalam tanah di tengah hutan? Ketiga saudarinya merasa khawatir. Rasa khawatir itu membuat ketiganya kembali ke lokasi tersebut menjelang tengah malam.
Saat tiba, mereka menyaksikan pemandangan yang membuat terkejut. Dari dalam tanah yang telah ditutup ranting bambu itu muncul merong, yaitu cahaya terang yang memancar ke segala arah. Namun tubuh Mbah Gabug sudah tidak terlihat. Demikianlah nama Marongge terbentuk, dari dua kata Merong dan Rengge. Cahaya yang memancar dari dalam tanah yang tertutup rengge.
Sampai sekarang ini, Makam Keramat Marongge banyak dikunjungi orang. Mereka datang untuk berziarah, ada pula yang bermaksud mendapatkan berkah demi kelancaran pencarian jodoh. Wilayah ini juga terkenal dengan pemikat lawan jenis bernama "Pelet Marongge".
(tya/tey)
