Pantangan Wayang di Dusun Cariu Ciamis: Antara Mitos dan Petaka

Unak-anik Jabar

Pantangan Wayang di Dusun Cariu Ciamis: Antara Mitos dan Petaka

Dadang Hermansyah - detikJabar
Minggu, 28 Jun 2026 10:00 WIB
Suasana Dusun Cariu Ciamis
Suasana Dusun Cariu Ciamis (Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar)
Ciamis -

Di sudut Kabupaten Ciamis, tepatnya di Dusun Cariu, Desa Sukadana, waktu seolah berjalan beriringan dengan kepercayaan lama yang tetap terjaga. Di sini, cerita urban bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan kompas kehidupan yang dipegang teguh oleh masyarakatnya. Salah satu yang paling mengakar adalah larangan keras menggelar pertunjukan wayang.

Bagi warga setempat, pantangan ini bukan perkara sepele. Melanggarnya dipercaya bakal mengundang malapetaka hebat, mulai dari bencana alam, gagal panen, hingga kematian mendadak yang menghantui kampung. Hingga pertengahan tahun 2026 ini, tak ada satu pun warga yang berani menantang takdir dengan mementaskan wayang di tanah Cariu.

Ahmad Rizki Fauzi, seorang pegiat sejarah dan budaya dari Komunitas Cakra Mangsa Ciamis, mengungkapkan bahwa tradisi lisan ini memiliki akar sejarah yang kuat. Menurutnya, ada dua versi cerita yang menjelaskan mengapa suara gamelan wayang tak pernah terdengar di sana.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Versi pertama bermula dari sosok Prabu Sirnaraja, putra Prabu Siliwangi dari selir Dewi Nawangsih. Alkisah, sang raja dari Kerajaan Samida itu sedang berburu di wilayah Cariu. Kedatangannya disambut hangat oleh warga dengan pertunjukan pantun yang dibalut dalam sebuah lakon sandiwara. Namun, kegembiraan itu berubah menjadi mencekam.

ADVERTISEMENT

"Di tengah-tengah pertunjukan pantun, tiba-tiba datang bencana, hujan angin, gelap gulita hingga petir menyambar," ujar Fauzi kepada detikJabar.

Bencana yang datang tiba-tiba itu membuat sang Prabu murka dan mengeluarkan supata atau kutukan. Ia menitahkan bahwa di wilayah tersebut tidak boleh lagi ada pertunjukan pantun.

"Larangan menggelar pertunjukan pantun ini diartikan semua jenis pertunjukan yang sifatnya lalakon (drama). Termasuk salah satunya adalah pertunjukan wayang, itu tidak boleh," jelasnya.

Namun, ada pula versi lain yang lebih personal. Konon, Prabu Sirnaraja memiliki cacat fisik pada tangannya yang bengkok atau dalam bahasa setempat disebut kengkong. Meski sempat mencari kesembuhan hingga ke wilayah Rancah, sang Prabu tetap merasa sensitif terhadap kondisinya.

"Jadi kalau menggelar pertunjukan wayang, terutama di dalamnya ada tokoh dengan tangan kengkong, kan ada tokohnya namanya Dorna. Prabu akan kesinggung. Maka, pertunjukan wayang dilarang," ucapnya.

Sebagai gantinya, Prabu Sirnaraja yang dikenal mahir menari kemudian memperkenalkan ronggeng sebagai hiburan alternatif. Itulah sebabnya, hingga saat ini, masyarakat Cariu lebih memilih ronggeng untuk memeriahkan berbagai acara mereka.

Fauzi menjelaskan bahwa Prabu Sirnaraja memang memiliki ikatan batin dengan wilayah tersebut. Ibundanya, Dewi Nawangsih, merupakan penduduk asli Rajadesa.

"Prabu Sirnajaya merupakan putra Prabu Siliwangi dari selir Dewi Nawangsih. Selirnya itu orang sini, orang Rajadesa," tuturnya.

Atas perintah sang ayah, Prabu Sirnaraja mendirikan Kerajaan Samida yang berpusat di Rajadesa, di mana Cariu termasuk dalam wilayah kekuasaannya. "Daerah Cariu ini termasuk wilayahnya. Ketika itu raja sedang berburu di wilayah ini, lalu dibageakeun (disambut) warga di sini, malah jadi bencana. Memang kebetulan kejadiannya di sini," ungkapnya.

Ketakutan warga terhadap larangan ini bukan tanpa alasan. Sugesti masyarakat semakin menguat setelah beberapa kejadian tragis menimpa mereka yang mencoba abai terhadap tradisi. Fauzi menceritakan, pernah ada warga di masa lalu yang memaksakan diri menggelar wayang, namun berakhir dengan duka.

"Ditambah pada era-era dulu ada warga yang maksa (gelar pertunjukan wayang). Tiga-tiba mendapat malapetaka. Seperti genset yang meledak, sampai keluarga meninggal keesokan harinya. Jadi dari kejadian itu, sugesti masyarakat semakin kuat terhadap larangan tersebut," ungkapnya.

Hingga kini, di tengah modernitas tahun 2026, Dusun Cariu tetap memilih sunyi dari riuh rendah lakon wayang, demi menjaga harmoni dan menghormati sumpah sang raja di masa silam.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads