Nyawang Bulan: Menguak 3 Legenda Purnama Paling Populer Dunia

Nyawang Bulan: Menguak 3 Legenda Purnama Paling Populer Dunia

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Minggu, 05 Jul 2026 07:30 WIB
Ilustrasi Legenda Purnama Paling Populer Dunia
Ilustrasi Legenda Purnama Paling Populer Dunia (Foto: Chat GPT)
Bandung -

Sejak ribuan tahun lalu, bulan purnama bukan sekadar benda langit yang menerangi malam. Di berbagai belahan dunia, cahaya keperakannya melahirkan cerita-cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ada yang menganggapnya sebagai pertanda datangnya kekuatan gaib, ada pula yang melihatnya sebagai simbol pengorbanan, keberanian, dan keabadian. Di Jawa Barat sendiri, bulan purnama sering dikaitkan dengan perilaku keagamaan.

Wabilkhusus purnama tanggal 14 bulan Maulud sering dijadikan momen untuk umat Islam beraktivitas malam hari menjemput keberkahan dengan cara menghadiri majelis taklim, majelis zikir, hingga berziarah. Bagi penikmat cahaya bulan, bulan purnama sering dimanfaatkan untuk 'nyawang bulan di mumunggang', menyaksikan bulan di dataran tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimanapun respons manusia atas fenomena bulan purnama, telah tercipta cerita rakyat dari berbagai belahan dunia atas kejadian yang berulang setiap bulan itu.

Berikut ini tiga cerita rakyat paling terkenal yang hingga kini masih hidup dalam cerita rakyat dan mitologi dunia. Simak yuk!

ADVERTISEMENT

3 Cerita Rakyat Dunia di Balik Cahaya Bulan Purnama

1. Ratapan Manusia Serigala

Saat bulan purnama menggantung sempurna di langit malam, masyarakat Eropa kuno percaya bahwa sesuatu yang mengerikan bisa terjadi. Dikutip dari laman treesisters.org, konon, ada manusia yang hidup dengan kutukan mengerikan.

Orang yang dikutuk itu pada siang hari tampak seperti orang biasa, tetapi ketika cahaya bulan purnama menyinari bumi, tubuhnya perlahan berubah menjadi seekor serigala buas. Tangannya berubah menjadi cakar, gigi memanjang menjadi taring tajam, dan naluri manusianya menghilang, digantikan oleh hasrat liar untuk berburu.

Legenda manusia serigala atau werewolf menjadi salah satu mitos paling terkenal dalam cerita rakyat Eropa. Sosok ini melambangkan pergulatan batin manusia antara sisi yang beradab dan naluri liar yang tersembunyi di dalam dirinya.

Bulan purnama dipercaya menjadi pemicu perubahan tersebut, seolah mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki dua sisi yang selalu bertarung. Kisah ini kemudian terus hidup melalui novel, film, hingga berbagai karya budaya populer yang membuat hubungan antara bulan purnama dan dunia supranatural semakin melekat di benak banyak orang.

2. Kelinci yang Tinggal di Bulan

Kalau di Sunda, mungkin kisah ini serupa dengan cerita Nini Anteh dan kucingnya yang merupakan kucing tiga warna, Candramawat. Kocap tercerita, masyarakat Asia Timur memiliki cerita yang jauh lebih lembut dan penuh makna daripada cerita tentang purnama di Eropa.

Mereka percaya bahwa jika memperhatikan permukaan bulan purnama dengan saksama, akan tampak bayangan seekor kelinci yang sedang menumbuk ramuan menggunakan lesung dan alu.

Legenda ini paling populer dalam cerita rakyat Tiongkok. Dikisahkan, seekor kelinci setia menemani Dewi Bulan bernama Chang'e yang tinggal di bulan.

Konon, Chang'e meminum ramuan keabadian agar ramuan tersebut tidak jatuh ke tangan seseorang yang tamak dan haus kekuasaan. Akibat keputusan itu, ia terangkat menuju bulan dan hidup selamanya di sana bersama kelinci kesayangannya.

Sejak saat itu, sang kelinci dipercaya terus menumbuk ramuan kehidupan tanpa henti. Bunyi lesungnya yang dibayangkan bergema di malam-malam bercahaya menjadi lambang ketekunan, pengorbanan, dan harapan akan kehidupan yang abadi.

3. Dewi Artemis

Dalam mitologi Yunani, cahaya bulan tidak hanya dikaitkan dengan legenda, tetapi juga dengan sosok seorang dewi yang disegani, yakni Artemis. Menurut laman treesisters.org, Dewi Artemis dikenal sebagai saudara kembar Apollo, sang dewa matahari. Jika Apollo menguasai siang, maka Artemis identik dengan malam dan cahaya bulan.

Ia dihormati sebagai dewi alam liar, satwa liar, perburuan, kesucian, sekaligus pelindung perempuan dan anak-anak. Dalam banyak lukisan maupun patung kuno, Artemis hampir selalu digambarkan mengenakan mahkota berbentuk bulan sabit, simbol yang mencerminkan kedekatannya dengan siklus bulan.

Hubungan Artemis dengan bulan bukan sekadar lambang langit malam. Fase-fase bulan yang terus berubah dianggap mencerminkan sifat sang dewi yang mandiri, teguh pada prinsip, dan setia menjalani hidup dalam kesucian.

Sebenarnya, bulan purnama dengan cahaya yang penuh lebih dekat dengan sosok Dewi Selene yang dipercaya sebagai Dewi Bulan. Namun, di dalam kesusastraan, cahaya bulan justru lebih melekat pada Dewi Artemis yang 'dewi bulan sabit' ketimbang Selene.

Selene digambarkan sebagai dewi yang menaiki kereta kencana melintasi langit malam untuk menebarkan terang. Dia juga merupakan sosok yang teramat cantik dengan gaun keperakan.

(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads