Agung Fadilah, seorang guru di Kota Cirebon, menggelar pameran tunggal lukisannya. Ia memperkenalkan karya-karyanya sambil berinteraksi dengan pengunjung melalui bahasa isyarat.
Dalam pameran yang digelar di Grage Mall tersebut, deretan lukisan buatannya tersusun rapi. Mulai dari lukisan bertema kebudayaan hingga potret wajah, setiap karya membawa cerita mendalam yang ingin Agung bagikan kepada publik.
Langkah pengunjung mendadak melambat di depan deretan lukisan tersebut. Mereka berhenti sejenak, mengamati detail setiap goresan, lalu berpindah ke karya-karya lain yang tak kalah menarik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agung merupakan guru di SLB Negeri Budi Utama Kota Cirebon. Sebagai Teman Tuli, ia menggunakan bahasa isyarat dalam kesehariannya. Selain mengajar, ia memiliki bakat luar biasa di bidang seni lukis yang kini bisa dinikmati pengunjung dalam pameran tersebut.
Ada puluhan karya Agung yang ditampilkan. Salah satunya lukisan berjudul 'Dunia Tuli'. Keterangan yang terpampang di bawah karya itu menjelaskan lukisan tersebut sebagai manifesto visual tentang perlawanan terhadap audism (diskriminasi kemampuan mendengar) menuju inklusivitas.
Sisi kiri lukisan yang kelam merekam stigma dan paksaan yang sering dialami Teman Tuli, sementara sisi kanan yang cerah merayakan bahasa isyarat sebagai identitas budaya dan intelektual. Karya ini menegaskan bahwa tuli bukan tentang kekurangan, melainkan tentang hak atas akses dan kesetaraan.
Selain itu, ada pula karya yang menggambarkan tokoh Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Dalam lukisan tersebut, Dedi ditampilkan berdampingan dengan harimau putih sambil memegang senjata tradisional kujang.
Pameran ini menjadi ruang bagi Agung untuk menunjukkan eksistensinya. Melalui lukisan, Agung ingin menyampaikan apa yang ia rasakan, dan hal itulah yang membuatnya sangat mencintai dunia seni lukis.
"Saya bisa mengungkapkan apa yang sedang dirasakan melalui lukisan," kata Agung dalam bahasa isyarat, diterjemahkan oleh Betty yang juga sesama guru, baru-baru ini.
Sebagai seorang guru, Agung juga dikenal telah berhasil mengantarkan murid-muridnya meraih berbagai prestasi membanggakan di bidang seni lukis dan desain grafis.
"Kebetulan saya guru dari Pak Agung sejak dia kelas 3 SD. Dan alhamdulillah sekarang Pak Agung sudah mengajar di SLB dan sudah bisa membawa adik-adiknya menjadi juara. Ada yang juara desain grafis dan seni lukis," kata Betty.
Ketua PGRI Kota Cirebon, Eka Novianto, menyatakan dukungannya terhadap penyelenggaraan pameran tersebut sebagai bentuk apresiasi nyata atas bakat Agung di bidang seni.
"Pameran tunggal ini dalam rangka mengapresiasi karya-karya Pak Agung. Ini sebagai bentuk kekaguman kami kepada Pak Agung. Tentu kami merasa bangga dan merasa punya kewajiban untuk mengangkat potensi yang dimiliki Pak Agung," ucap Eka.
Eka mengatakan, pameran tersebut akan berlangsung selama beberapa hari ke depan dengan menghadirkan beragam karya lukisan milik Agung.
"Yang dipamerkan sekitar 20 karya milik Pak Agung, walaupun sebenarnya masih banyak di rumahnya. Dan pameran ini akan berlangsung mulai dari tanggal 9 sampai 28 Februari 2026," kata dia.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, juga menyampaikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan pameran lukisan tersebut.
Menurut Agus, melalui pameran itu Agung mendapat ruang luas untuk memperlihatkan karya-karyanya agar semakin dikenal masyarakat luas.
"Dari sini kita semua bisa tahu bahwa ternyata banyak sekali karya yang di belakangnya ada prestasi. Dan Mas Agung ini prosesnya sudah cukup panjang, mulai dari dia sekolah sampai saat ini," kata Agus.
Simak Video "Video: SBY Pamerkan Lukisan Terbaru di ITB, Begini Wujudnya"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)