Tak Terburu-buru, Tarawih di Masjid Cirebon Ini Habiskan 3 Jam

Tak Terburu-buru, Tarawih di Masjid Cirebon Ini Habiskan 3 Jam

Devteo Mahardika - detikJabar
Rabu, 25 Feb 2026 18:30 WIB
Tarawih 3 jam di Cirebon.
Tarawih 3 jam di Cirebon. (Foto: Devteo Mahardika/detikJabar)
Cirebon -

Jarum jam perlahan mendekati waktu berkumandangnya azan Isya di Desa Jagapura Wetan, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon. Dari gang-gang sempit, para warga melangkah menuju masjid dengan sarung dan mukena terbaiknya. Ramadan kembali menghadirkan satu tradisi yang telah dinanti: salat tarawih terlama di wilayah itu.

Di Masjid Nurul Ikhsan, tarawih bukan sekadar ibadah sunah selepas Isya. Di tempat ini, tarawih menjadi perjalanan spiritual yang bisa berlangsung hingga tiga jam. Setiap malam, tiga juz Al-Qur'an dilantunkan, rakaat demi rakaat dijalani dengan tartil dan penuh tumaninah.

Sepintas, suasananya tak berbeda dari masjid lain. Karpet hijau membentang rapi, saf laki-laki dan perempuan tertata terpisah. Namun, keunikan mulai terasa saat imam membaca ayat-ayat panjang tanpa tergesa. Waktu seolah melambat, memberi ruang bagi setiap makna untuk meresap.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lima Imam, Tiga Juz Setiap Malam

Salat tarawih di masjid ini dilaksanakan sebanyak 23 rakaat. Untuk menjaga kekuatan dan kualitas bacaan, pihak masjid menyiapkan lima imam yang bertugas secara bergantian. Mereka adalah para santri dan kiai penghafal Al-Qur'an (hafiz) yang telah terbiasa melantunkan ayat suci dalam durasi panjang.

ADVERTISEMENT

Lantunan ayat terdengar bergema memenuhi ruang masjid. Suaranya naik turun mengikuti kaidah tajwid, menghadirkan suasana syahdu yang membuat sebagian jemaah terpejam, larut dalam doa.

Di bagian belakang, beberapa jemaah terlihat duduk bersila, bahkan berbaring sejenak untuk meregangkan kaki. Mayoritas jemaah memang berasal dari kalangan sepuh. Namun, tak ada keluhan yang terdengar. Yang tampak justru kesabaran dan ketekunan.

Mustofa, salah seorang jemaah, mengaku sudah terbiasa mengikuti tarawih panjang di masjid tersebut. "Saya mengikuti salat tarawih di Masjid Nurul Ikhsan, yang dikenal sebagai salat tarawih terlama. Karena di sini bacaan Alqurannya bisa sampai tiga juz setiap malam," ujarnya, Rabu (25/2/2026).

Menurutnya, durasi panjang memang menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi jemaah lanjut usia. "Mayoritas jemaahnya sepuh, jadi tentu ada yang merasa lelah. Tapi itu justru bisa menambah kekhusyukan. Saat jeda sebentar untuk duduk atau istirahat, rasanya seperti memberi waktu untuk merenungi ayat-ayat yang tadi dibaca," katanya.

Lahir dari Permintaan Jemaah

Pendiri masjid, Ikhsan Abdullah, menuturkan bahwa tradisi tarawih berdurasi panjang ini telah berjalan sekitar lima tahun terakhir. Menariknya, konsep tersebut bukan semata-mata keputusan pengurus, melainkan lahir dari aspirasi jemaah.

"Salat tarawih ini dibacakan dengan surat-surat yang panjang, dengan tartil dan tidak terburu-buru. Mengingat banyak jemaah berusia lanjut, kalau dibaca cepat justru mereka tertinggal. Jadi ini atas permintaan jemaah sendiri," jelas Ikhsan.

Menurutnya, tujuan utama bukanlah mengejar panjangnya durasi, melainkan menghadirkan kualitas ibadah. Setiap gerakan dilakukan dengan tumaninah, setiap ayat diberi ruang untuk dihayati.

Bagi sebagian orang, tarawih tiga jam mungkin terdengar melelahkan. Namun bagi warga Jagapura Wetan, durasi bukanlah beban. Ia telah menjadi bagian dari identitas Ramadan di kampung mereka.

Di tengah dunia yang serba cepat, tarawih di Masjid Nurul Ikhsan justru memilih berjalan pelan. Menikmati setiap huruf, setiap makna, setiap sujud yang lebih lama dari biasanya.

Dan ketika salam terakhir terucap mendekati tengah malam, wajah-wajah lelah itu justru memancarkan ketenangan. Sebab bagi mereka, tiga jam bukan sekadar waktu yang dihabiskan di masjid, melainkan waktu yang dipersembahkan sepenuhnya untuk Tuhan.

(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads