Beragam peristiwa terjadi di wilayah Cirebon Raya sepekan dari mulai pembunuh keluaha di Kabupaten Idramayu didakwa pasal berlapis, Vina perempuan asal Cirebon jadi korban TPPO dengan modus pengantin pesanan ke China hingga lubang raksasa atau sinkhole hebohkan warga Kuningan.
Berikut rangkuman Cirebon Raya sepekan:
Pembunuh Sadis Sekeluarga di Indramayu Didakwa Pasal Berlapis
Dua terdakwa, Ririn Rifanto (36) dan Priyo Bagus Setiawan (30), menjalani sidang perdana dengan dakwaan berat yang mengancam hukuman mati. Itu terungkap saat keduanya menjalani sidang di Ruang Sidang Pengadilan Negeri Indramayu, Kamis (26/2) lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sidang ini, majelis hakim memutuskan sidang digelar terpisah, menyesuaikan berkas perkara yang juga disusun secara terpisah (split). Ririn menjadi terdakwa pertama yang menjalani pembacaan dakwaan, sementara Priyo diminta menunggu giliran di luar ruang sidang.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa keduanya dengan pasal berlapis, mulai dari pembunuhan berencana hingga tindak pidana perlindungan anak.
Kasi Pidum Kejari Indramayu, Eko Supramurbada, menyebut dakwaan tersebut merujuk pada Pasal 459 atau Pasal 458 juncto Pasal 20 huruf c UU Nomor 1 Tahun 2023 (KUHP Baru), serta Pasal 76C juncto Pasal 80 UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.
"Atas dasar fakta dalam berkas perkara, perbuatan ini dilakukan secara bersama-sama," ujar Eko usai persidangan.
Kasus ini menewaskan lima orang dalam satu keluarga, yakni H Sahroni (75), anaknya Budi (45), Euis (40) yang merupakan istri Budi, serta dua anak mereka berinisial RK (7) dan B yang masih berusia delapan bulan. Peristiwa tragis itu terjadi di kediaman korban di Jalan Siliwangi Nomor 52, Kelurahan Paoman, pada Rabu (29/8/2025).
Namun, jasad para korban baru ditemukan pada Senin (1/9/2025) setelah warga mencium bau menyengat dari dalam rumah.
Setelah penyelidikan intensif, polisi menangkap Ririn dan Priyo di wilayah Kecamatan Kedokan Bunder pada Senin (8/9/2025) dini hari. Keduanya dilumpuhkan dengan tembakan di kaki karena melakukan perlawanan saat hendak diamankan.
Dalam sidang perdana tersebut, Ririn dan Priyo kompak mengajukan eksepsi atau keberatan. Mereka membantah sebagai pelaku utama sebagaimana yang didakwakan jaksa.
"Saya tidak melakukan pembunuhan langsung. Pelakunya ada lima orang," kata Ririn di hadapan majelis hakim.
Priyo pun menyampaikan versi berbeda dari dakwaan. Dengan suara bergetar, ia menyebut empat nama lain yang diklaim terlibat, yakni Ahmad Yani, Joko, Yoga, dan Hadi. Menurutnya, ia dan Ririn awalnya hanya diajak untuk menagih utang beberapa hari sebelum kejadian.
Priyo mengaku berada di lokasi, namun hanya bertugas mengurus jenazah atas perintah Ahmad Yani. Ia menyebut eksekusi terhadap para korban dilakukan oleh pihak lain. Sementara Ririn, menurut pengakuannya, tidak berada di tempat saat pembunuhan terjadi.
Versi tersebut bertolak belakang dengan konstruksi dakwaan jaksa yang menempatkan Ririn dan Priyo sebagai pelaku utama. Menyikapi keberatan tersebut, majelis hakim menunda persidangan dan menjadwalkan sidang lanjutan pada Rabu (4/3/2026) dengan agenda mendengarkan materi eksepsi dari kedua terdakwa.
"Sidang ditunda dan akan dilanjutkan kembali pada Rabu (4/3)," kata majelis hakim menutup persidangan hari itu.
Perkara ini masih akan terus bergulir, sementara publik menanti bagaimana fakta-fakta di persidangan akan terungkap satu per satu untuk memberikan keadilan bagi para korban.
Tangis Vina Terjerat Kasus Pengantin Pesanan di China
Setelah Reni, perempuan asal Sukabumi menjadi korban Tindak Pidana Penjualan Orang atau TPPO dengan modus pengantin pesanan ke China, kini giliran Vina, perempuan asal Cirebon yang bernasib sama.
Isak tangis keluarga memecah kesunyian saat melihat Vina meminta pertolongan melalui rekaman video, Jumat (27/2). Wajah Vina tampak sembab. Ia bukan sedang mencari popularitas, melainkan sedang mempertaruhkan nyawa, mengirimkan pesan darurat dari daratan China yang jauh.
Vina, gadis asal Kabupaten Cirebon, kini terjebak dalam labirin gelap yang dikenal sebagai praktik "pengantin pesanan". Tanpa dokumen di tangan dan ruang gerak yang terkunci, ia hanya memiliki keberanian untuk merekam sebuah video singkat yang kini viral di Instagram.
Dalam rekaman yang menggetarkan hati itu, Vina secara khusus mengetuk pintu hati Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Suaranya bergetar, menahan beban ketakutan yang luar biasa.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Yang terhormat Bapak Gubernur Provinsi Jawa Barat, Bapak Dedi Mulyadi. Perkenalkan, nama saya Vina, saya dari Cirebon. Saya sedang berada di China saat ini," ucapnya dalam video tersebut.
Penderitaan Vina bukan sekadar rindu kampung halaman. Ia mengaku menjadi tawanan di negeri orang. Seluruh identitasnya dirampas, dan tubuhnya menjadi sasaran kekerasan fisik.
"Saya telah menjadi korban pengantin pesanan oleh sesama WNI. Mereka mengambil dan menahan semua berkas saya, termasuk paspor saya," katanya.
Luka cerita ini bermula dari gemerlap kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta. Kuasa hukum Vina dari YLBHI Garuda Sakti, Asep Maulana Hasanudin, menceritakan bagaimana jerat itu mulai dipasang. Saat bekerja di sana, Vina tanpa sadar telah menjadi target.
"Awalnya Vina bekerja di Jakarta, di salah satu tempat di PIK. Kemudian, Vina itu diam-diam difoto oleh orang Tiongkok," ujar Asep saat ditemui di Desa Gombang, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jumat (27/2).
Foto itu rupanya menjadi pintu masuk. Tak lama berselang, seorang pria warga negara asing asal China bersama komplotannya mulai mendatangi kediaman Vina di Desa Gombang. Tak tanggung-tanggung, mereka datang hingga empat kali untuk meyakinkan keluarga.
Pada kunjungan awal, suasana tampak seperti perkenalan biasa. Rombongan itu melibatkan beberapa warga negara China seperti Liu Guanggun, Zhang Haibi, dan Wang Jun, serta didampingi seorang WNI bernama Nisa Herman Susi.
Keseriusan palsu mulai ditunjukkan pada kunjungan kedua. Wang Jun diperkenalkan sebagai calon suami, didampingi ayahnya, Wang Yujun. Puncaknya terjadi pada 5 Agustus 2025, saat rombongan datang membawa mahar, sebuah simbol pengikat yang ternyata menjadi awal petaka.
"Yang keempat ini tujuannya memberikan mahar," kata Asep.
Vina, yang lahir pada 21 Agustus 1999, adalah seorang yatim piatu. Ia tumbuh besar di bawah asuhan pamannya, Samija. Di tengah himpitan ekonomi, janji-janji manis tentang mahar besar dan kiriman uang bulanan menjadi oase yang mematikan.
"Dia dijanjikan mahar dan uang kiriman bulanan untuk keluarganya di Indonesia. Karena kondisi ekonomi, akhirnya Vina tertarik," terang Asep menjelaskan alasan kliennya tergiur.
Hanya berselang dua hari setelah mahar diterima, tepatnya 7 Agustus 2025, Vina diterbangkan ke China. Namun, alih-alih menemukan kehidupan yang lebih baik, ia justru mendarat di sebuah mimpi buruk yang nyata.
Kejanggalan mulai terkuak saat Vina menetap di sana. Wang Jun, pria yang semula tampak normal dan pendiam saat di Cirebon, menunjukkan perilaku yang mengkhawatirkan.
"Di Tiongkok dia baru sadar ternyata Wang Jun ini sering bergerak sendiri dan berbicara sendiri. Padahal waktu di sini terlihat normal karena hanya diam saja," kata Asep.
Janji tinggal janji. Pernikahan secara Islam yang dijanjikan tak pernah ada, begitu pula dengan kiriman uang untuk keluarga di Cirebon. Vina justru terisolasi, mengalami kekerasan, dan kehilangan kedaulatan atas dirinya sendiri karena paspornya ditahan.
Kini, keluarga di Desa Gombang hanya bisa berharap pada keajaiban diplomasi. Melalui kuasa hukumnya, mereka memohon agar pemerintah daerah maupun pusat segera turun tangan menjemput Vina.
Kasus ini menjadi pengingat pahit bahwa modus "pengantin pesanan" masih menjadi ancaman nyata bagi perempuan yang terhimpit ekonomi. Keluarga berharap, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak membiarkan Vina berjuang sendirian di negeri orang, dan segera memulangkannya ke pelukan tanah air.
Lubang Raksasa di Kuningan yang Buat Heboh Warga
Hujan telah turun di wilayah Desa Karangkamulyan, Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan pada Kamis sore (26/2). Pascahujan, kejadian tak terduga hebohkan warga sekitar di mana sebuah lubang raksasa atau sinkhole muncul secara tiba-tiba. Lubang menganga di terjadi tengah jalan, memutus urat nadi transportasi yang menghubungkan wilayah Ciawigebang dan Cihaur.
Dari data BPBD Kuningan, fenomena ini pertama kali muncul sekitar pukul 16.27 WIB. Tak main-main, hasil kajian cepat tim di lapangan pada Jumat (27/2) menunjukkan lubang tersebut memiliki diameter mencapai 6 meter, dengan panjang dan kedalaman masing-masing 4 meter.
Kondisi ini kian mengkhawatirkan lantaran badan jalan di sekitarnya turut amblas sepanjang 3 meter. Meski tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, otoritas setempat terpaksa mengambil langkah tegas dengan menutup total akses jalan demi menghindari potensi kecelakaan maut bagi pengendara yang melintas.
Kini, kesunyian menyelimuti jalur yang biasanya ramai tersebut. Para pengendara yang hendak melintas terpaksa memutar arah, mengikuti jalur alternatif yang diarahkan petugas melalui Dusun Babakan, Desa Ciawilor, Kecamatan Ciawigebang.
Kepala BPBD Kuningan, Indra Bayu, menegaskan bahwa penutupan ini bersifat mutlak hingga situasi dinyatakan aman. "Jalannya amblas tidak bisa dilewati kendaraan baik roda dua ataupun empat. Sehingga akses jalan kami tutup sementara demi keselamatan pengguna jalan dan sudah dipasang rambu peringatan," kata Indra, Jumat (27/2).
Indra menjelaskan, petaka ini dipicu oleh guyuran hujan dengan intensitas ringan hingga lebat yang membasahi kawasan tersebut sejak pukul 14.00 WIB. Durasi hujan yang cukup lama membuat struktur tanah di bawah aspal kehilangan kestabilannya.
"Hujan yang menyebabkan gorong-gorong jalan kabupaten jadi tergerus air dan struktur tanah menjadi labil, sehingga menyebabkan badan jalan ikut amblas," ungkap Indra menjelaskan penyebab teknis di balik ambrolnya jalan tersebut.
Hingga saat ini, tim assessment BPBD Kuningan masih bersiaga di lokasi, berkoordinasi dengan aparat desa, kecamatan, TNI, Polri, serta dinas teknis terkait. Perbaikan gorong-gorong dan jembatan menjadi prioritas mendesak agar denyut aktivitas warga dapat kembali normal seperti sedia kala.
