Suasana hangat penuh kebersamaan terasa di Masjid Nurul Huda, Desa Tinumpuk, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, pada Kamis (19/3/2026) pagi. Ratusan jemaah Asy-Syahadatain memadati masjid untuk melaksanakan Salat Idulfitri 1447 Hijriah, meski penetapan resmi dari pemerintah masih dinantikan.
Sejak pukul 05.30 WIB, jemaah mulai berdatangan bersama keluarga. Dengan mengenakan pakaian terbaik serba-putih, mereka tampak khusyuk mempersiapkan diri menyambut hari kemenangan. Sebelum Salat Id dilaksanakan, jemaah terlebih dahulu menunaikan salat sunnah dua rakaat serta salat duha, menambah kekhidmatan suasana pagi itu.
Pimpinan Asy-Syahadatain Desa Tinumpuk Habib Zaenal Abidin menjelaskan bahwa penentuan 1 Syawal dilakukan berdasarkan metode hisab yang telah menjadi pedoman jemaah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perhitungan kami menggunakan hisab. Tahun 2026 ini merupakan Tahun Dal, yang menurut perhitungan Sulasiah jatuh pada Rabu Kliwon sebagai awal Ramadan. Kami menggunakan metode Isneniah, sehingga memulai puasa sehari sebelumnya, yakni Selasa. Dengan demikian, hari ini telah genap 30 hari berpuasa, dan kami menetapkan hari ini sebagai 1 Syawal," ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pelaksanaan Salat Id lebih awal tidak hanya dilakukan di Desa Tinumpuk. Sejumlah wilayah lain seperti Panguragan di Cirebon dan Segeran juga melaksanakan hal serupa, meski ada sebagian jemaah yang memilih mengikuti penetapan hari raya pada keesokan harinya.
Jumlah jemaah yang hadir tahun ini diperkirakan mencapai 800 hingga 900 orang, menunjukkan antusiasme yang tinggi dari masyarakat setempat.
Meski berbeda waktu dengan penetapan pemerintah, pelaksanaan Salat Id berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan. Momen ini menjadi gambaran keberagaman praktik dalam beribadah, yang tetap berjalan berdampingan dalam suasana saling menghormati di tengah masyarakat.
(sud/sud)
