Cerita Saudi Lelaki Tangguh yang Tinggal di Pemakaman Indramayu

Serba-serbi Warga

Cerita Saudi Lelaki Tangguh yang Tinggal di Pemakaman Indramayu

Burhannudin - detikJabar
Kamis, 02 Apr 2026 09:00 WIB
Saudi (49), seorang pengamen yang hidup di lahan pemakaman.
Saudi (49), seorang pengamen yang hidup di lahan pemakaman. (Foto: Burhannudin)
Indramayu -

Di lahan pemakaman pinggir jalan raya yang ada di Blok Petiken, Kelurahan Kepandean, Kabupaten Indramayu, berdiri sebuah bangunan panggung sederhana.
Dindingnya bukan dari bata, melainkan potongan baliho bekas, spanduk, dan terpal yang mulai pudar warnanya. Atapnya dari baliho dan dilapisi plastik seadanya, sementara rangka dan alasnya disusun dari bambu yang dibeli satu per satu. Di situlah Saudi (49) menjalani hidupnya.

Rumah itu bukan sekadar tempat berteduh bagi Saudi, tapi hasil perjuangan panjang, dikumpulkan dari recehan hasil mengamen di jalanan. Setiap batang bambu menyimpan cerita tentang hari-hari yang dilalui dengan sabar, tentang langkah kaki yang tak pernah berhenti mencari pundi-pundi rupiah meski hidup terasa berat.

Saudi lahir di Blok Bungkul, Kelurahan Bojongsari, Kabupaten Indramayu. Hidupnya mulai berubah sejak usia sembilan tahun ketika ibunya meninggal dunia. Sejak saat itu, ia hanya tinggal bersama sang ayah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, keadaan kembali menguji. Saat ayahnya jatuh sakit, rumah yang menjadi satu-satunya tempat berpulang harus dijual. Sejak itulah, Saudi kehilangan dua hal sekaligus: keluarga dan tempat tinggal.

Hari-harinya kemudian tak karuan, hidupnya berpindah-pindah. Ia pernah tidur di lapangan sepak bola dengan alas seadanya, menumpang di pos kamling, hingga bertahan di gubuk pembuat batu bata. Bahkan, saat rumahnya belum jadi, ia pernah merebahkan tubuh di dekat keranda -tempat yang bagi banyak orang terasa menakutkan, namun baginya adalah sekadar ruang untuk beristirahat.

ADVERTISEMENT

Kini, setelah bertahun-tahun hidup tanpa kepastian, Saudi mencoba menetap di bangunan yang ada di lahan pemakaman. Sudah sekitar tiga tahun ia tinggal di rumah sederhana yang ia bangun sendiri. Meski jauh dari kata layak, setidaknya tempat itu memberinya sedikit rasa memiliki.

Namun, hidup di sana bukan tanpa tantangan. Ia tetap harus berjuang mendapatkan uang receh setiap harinya, dengan pendapatan yang tidak pasti.

Sebenarnya, menurut Saudi, rumah yang ia tinggali masih jauh dari kata 'nyaman' tapi ia berusaha melawan logikanya sendiri.

Saudi (49), seorang pengamen yang hidup di lahan pemakaman.Saudi (49), seorang pengamen yang hidup di lahan pemakaman. Foto: Burhannudin

Saat hujan mengguyur wilayah tempat tinggalnya, air merembes dari sela-sela plastik dan baliho yang menjadi pelindung. Tak ada barang berharga di dalam rumah itu, tetapi pakaian dan barang seadanya tetap basah kuyup setiap kali hujan datang.

"Kalau hujan deras, atap rumah bocor. Meskipun nggak ada barang berharga tapi banyak yang basah," ujarnya pelan saat ditemui di kediamannya pada Rabu (1/4/2026).

Selain hujan, kebisingan dari kendaraan di jalan raya menjadi teman sehari-hari. Suara mesin dan klakson seolah tak pernah berhenti, mengisi ruang-ruang sunyi dalam hidupnya.

Kadang, gangguan lain datang dari alam. Ular kecil bisa masuk ke dalam rumah. Hal itu membuatnya panik, namun ia terbiasa dengan keadaan yang terus berulang, dan akhirnya terpaksa berteman dengan ular.

Meski begitu, Saudi mencoba bertahan dengan apa yang ada. Ia mengaku ular kecil dan nyamuk bukan masalah besar.

"Kalau nyamuk, mah, nggak terlalu banyak karena saya pakai obat nyamuk," ungkapnya.

Untuk bertahan hidup, Saudi mengandalkan dua pekerjaan: mengamen dan membersihkan kuburan. Dua pekerjaan yang mungkin dianggap remeh oleh sebagian orang, tetapi baginya adalah jalan untuk tetap hidup dari hari ke hari.

Di tengah segala keterbatasan, harapan Saudi terdengar begitu sederhana.

"Saya hanya ingin hidup yang cukup. Tidak kekurangan setiap hari, dan lebih mudah mencari uang," katanya.

Tak ada mimpi besar, tak ada keinginan muluk. Hanya harapan akan kehidupan yang lebih layak -sesuatu yang bagi banyak orang mungkin biasa, namun bagi Saudi adalah sebuah kemewahan.

Di balik dinding baliho yang rapuh dan di atas bangunan panggung yang rentan, Saudi terus bertahan. Dalam segala keterbatasan itu, harapan kecilnya tetap hidup -menunggu hari di mana hidup tak lagi sekadar bertahan, tetapi juga memberi rasa tenang.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads