Nestapa Pedagang di Museum Linggarjati Kuningan Berteman Kesepian

Serba-serbi Warga

Nestapa Pedagang di Museum Linggarjati Kuningan Berteman Kesepian

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Minggu, 05 Apr 2026 07:00 WIB
Susi saat berjualan di Gedung Perundingan Linggarjati Kuningan dan suasana lapak pedagang di yang sepi di Gedung perundingan Linggarjati
Susi saat berjualan di Gedung Perundingan Linggarjati Kuningan dan suasana lapak pedagang di yang sepi di Gedung perundingan Linggarjati. (Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar)
Kuningan -

Di sudut kantin Gedung Museum Perundingan Linggarjati, Kuningan, seorang wanita paruh baya tampak terpaku. Susi (43), duduk dengan tatapan kosong menyapu deretan kursi kosong yang menanti pembeli yang tak kunjung datang. Sudah belasan tahun ia menggantungkan hidup di gedung bersejarah ini, menyaksikan kejayaan dan kini, kesunyiannya.

Langkah Susi di museum ini bermula pada 2016. Kala itu, Linggarjati adalah primadona wisata di Kuningan. Kerumunan pelancong adalah pemandangan harian yang menjanjikan pundi-pundi rupiah. Di tahun-tahun awal itu, Susi bisa pulang dengan senyum lebar dan omzet jutaan rupiah di tangan.

"Awal jualan tahun 2016, awal jualan sosis bakar terus minumansama makanan ringan. Dulu mah masih ramai, pengunjung masih banyak. Sehari itu bisa dapat Rp 1 juta," tutur Susi mengenang masa keemasan itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, roda nasib berputar drastis sejak badai COVID-19 menerjang. Kini, keriuhan itu menguap. Pendapatan Susi terjun bebas ke titik yang tak menentu. Tak jarang, ia harus menelan pil pahit yakni pulang dengan tangan hampa tanpa satu pun dagangan yang laku terjual.

ADVERTISEMENT

Susi melihat kelesuan ini bukan tanpa sebab. Menjamurnya destinasi wisata baru yang lebih kekinian di Kuningan dianggap sebagai pesaing berat. Belum lagi keluhan mengenai harga tiket masuk yang kini dirasa kian membebani kantong pengunjung.

Dampaknya terlihat nyata pada deretan lapak di sekitar museum. Dari puluhan kios yang tersedia, hanya segelintir yang masih bertahan. Sebagian besar pedagang memilih menyerah, atau hanya berani mengadu nasib di akhir pekan dan hari libur nasional saja.

"Beberapa tahun terakhir ini memang sepi banget. Nggak menentu bisa dapat Rp 100 ribu sehari juga udah bagus. Kadang malah nggak dapat penghasilan sama sekali. Pedagang sini juga rata-rata dagangnya hari Sabtu-Minggu, banyak yang pada nggak jualan. Karena di sini sepi, kalah sama tempat wisata baru. Tiket juga sekarang sudah naik, sedangkan fasilitasnya masih gitu-gitu saja," tutur Susi dengan nada getir.

Meski dihimpit sepi, Susi tak punya pilihan untuk berhenti. Ia terpaksa bertahan di tengah ketidakpastian. Beban hidupnya kian berat sejak sang suami terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan hingga kini masih berjuang mencari nafkah baru.

Demi menyambung napas dapur, Susi melakoni pekerjaan sampingan saat musim panen cengkeh tiba. Ia rela menembus rimbunnya hutan, memunguti butiran cengkeh yang jatuh untuk kemudian dijual kembali. Harapannya sederhana: ia ingin Museum Linggarjati kembali bersolek dan ramai seperti sedia kala.

"Saya tetap jualan karena butuh. Mau kerja apalagi. Anak masih sekolah semua. Suami juga belum dapat kerjaan lagi. Untuk tambah penghasilan paling ngambilin cengkeh yang jatuh di gunung. Itu lumayan sekilo saja bisa dapat Rp 120 ribu yang kering," tutur Susi.

Keluhan serupa juga meluncur dari bibir Tuti (48), pedagang lain yang merasakan getirnya sepi di museum tersebut. Ia masih ingat betul bagaimana momen Lebaran dahulu menjadi ladang rezeki yang melimpah, berbanding terbalik dengan kondisi dua tahun belakangan.

"Kita pas lebaran aja buat patokan, dulu yang lalu lebaran itu ramai, sehari bisa sampai 1,5 juta - 2 juta. Tapi 2 tahun ke sini lebaran itu anjlok, saya sehari kemarin pas lebaran dapat Rp100.000 sehari. Penyebabnya tadi, tiket masuknya mahal sama banyak tempat wisata juga. Semoga ke depan mah, bisa lebih ramai lagi saja," tutur Tuti.

Sementara itu, Ketua DPRD Kuningan Nuzul Rachdy memaparkan bahwa dirinya sepakat dengan apa yang dikatakan oleh para pedagang tentang sepinya Gedung Perundingan Linggarjati. Oleh karena itu, pihaknya akan mendorong penyesuaian harga tiket agar lebih terjangkau untuk menarik lebih banyak pengunjung.

"Karena Gedung Naskah ini kan tempat untuk edukasi. Segmen di sini itu adalah segmen siswa. Jadi tidak layak kalau berorientasi pada profit oriented. Sehingga aspirasi dari masyarakat ini harus kita dengarkan. Bahwa siswa, apalagi dalam situasi ekonomi sekarang, untuk membeli tiket Rp10.000 itu kan sulit. Maka harus dengan harga yang terjangkau," pungkas Nuzul.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads