Kotib bukan seorang pengkhotbah, bukan pula ahli pidato. Suaranya sederhana, setenang hidup yang ia jalani hari demi hari. Di usianya yang menginjak 60 tahun, ia menggantungkan hidup pada sesuatu yang sering dipandang sebelah mata, eceng gondok.
Warga Desa Pagirikan, Kecamatan Pasekan, Kabupaten Indramayu ini menjadikan aliran Sungai Cimanuk sebagai ladang penghidupannya. Padahal, perjalanan hidupnya tak selalu berlabuh di sana.
Ia pernah mencoba berbagai pekerjaan, menjadi buruh, nelayan, tukang, petani, hingga pedagang keliling. Dari menjajakan baso kojak sampai es cuwing, semuanya pernah ia lakoni.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun waktu mengajarkannya satu hal, bertahan tidak selalu berarti tetap di tempat yang sama.
"Sekarang banyak saingan," ujarnya pelan, saat ditemui di bawah terik matahari di tepian Sungai Cimanuk, Sabtu (4/4/2026).
Baginya, berdagang sebenarnya masih bisa memberi penghasilan lebih. Tapi perubahan zaman dan selera pasar membuatnya sulit bertahan. Ia menyadari, tanpa inovasi, usaha kecil akan mudah tersisih.
"Pembeli sekarang lebih suka yang baru, model baru. Kalau tidak kreatif, kalah saing," katanya.
Dari sanalah ia memilih jalan lain, jalan yang tak banyak dilirik orang.
Setiap pagi sekitar pukul 08.00 WIB, Kotib sudah berada di sungai, tepatnya di Blok Kepuh, Desa Babadan, Kecamatan Sindang. Berbekal sebuah 'bangkol', kayu panjang dengan kait besi di ujungnya, ia menarik tumpukan eceng gondok dari permukaan air.
Pekerjaan itu menuntut tenaga dan ketelatenan. Ia harus memisahkan batang demi batang, memotong daun, lalu mengikatnya menjadi satu. Setelah itu, eceng gondok dijemur di bawah matahari selama kurang lebih satu minggu hingga benar-benar kering.
Bagi Kotib, setiap ikatan eceng gondok bukan sekadar hasil kerja, melainkan simpul harapan yang ia rajut setiap hari.
Setelah kering, batang-batang itu dijual kepada penampung dengan harga sekitar Rp4.000 hingga Rp5.000 per kilogram. Dalam seminggu, ia bisa mengumpulkan puluhan ikat, masing-masing sekitar satu kilogram, yang kemudian disetorkan sekaligus.
Dari kerja keras itu, Kotib memperoleh sekitar Rp300 ribu per minggu, atau rata-rata Rp50 ribu per hari. Sebuah angka yang mungkin kecil bagi sebagian orang, apalagi di tengah naiknya harga kebutuhan pokok. Namun bagi Kotib, itu adalah hasil dari ketekunan yang tak pernah ia tinggalkan.
"Walaupun capek atau tidak enak, ya tetap dijalani," katanya singkat.
Di tangan para pengrajin, eceng gondok yang ia kumpulkan berubah rupa. Dari tanaman liar yang sering dianggap pengganggu, menjadi tas, tikar, hingga berbagai kerajinan bernilai ekonomi. Ada rantai panjang yang menghubungkan kerja keras Kotib dengan produk-produk tersebut, rantai yang mungkin tak terlihat, namun nyata memberi kehidupan.
Hari-hari Kotib berjalan dalam ritme yang sama, sederhana, melelahkan, tapi penuh makna. Di tengah keterbatasan, ia terus melangkah, terus bekerja, tanpa banyak keluhan.
Di balik semua itu, tersimpan harapan yang tak pernah padam. Ia ingin suatu hari bisa menikmati masa tua dengan lebih tenang, tanpa harus terus bekerja dari pagi hingga senja.
Namun untuk saat ini, Kotib masih setia di tepian sungai, mengikat satu per satu eceng gondok, sekaligus mengikat harapan yang terus ia jaga agar tak hanyut bersama arus waktu.
(dir/dir)
