Nestapa Taryadi, Pengangkut Sampah yang Hidup di Rumah Roboh Jatibarang

Serba-serbi Warga

Nestapa Taryadi, Pengangkut Sampah yang Hidup di Rumah Roboh Jatibarang

Burhannudin - detikJabar
Selasa, 14 Apr 2026 20:30 WIB
Rumah roboh yang dihuni Taryadi.
Rumah roboh yang dihuni Taryadi. Foto: Burhannudin/detikJabar
Indramayu -

Deru kendaraan, riuh tawar-menawar di pasar, dan lalu lalang warga menjadi pemandangan sehari-hari di Desa Jatibarang, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu. Kawasan ini tampak hidup, penuh aktivitas, seolah tak pernah benar-benar sepi.

Namun, di balik keramaian itu, ada cerita yang nyaris tak terlihat. Di sebuah gang sempit bernama Gang Tarkani, terselip kisah tentang bertahan hidup dalam keterbatasan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Langkah kaki menyusuri gang padat itu mengarah pada sebuah bangunan yang nyaris tak lagi layak disebut rumah. Dindingnya rapuh, sebagian telah runtuh, dan rumput liar tumbuh tanpa terurus di sekelilingnya. Di dalamnya, hanya ada kasur busa usang yang telah lapuk, bercampur dengan pakaian kotor yang menumpuk.

Di tempat inilah Taryadi, atau yang akrab disapa Citung, menjalani hari-harinya.

ADVERTISEMENT

Pria berusia 50 tahun itu tinggal bersama tiga anaknya. Dalam ruang yang terbatas dan jauh dari kata layak, mereka membagi tempat seadanya. Dua anaknya menempati bagian lain dari bangunan, sementara Taryadi tinggal bersama anak laki-laki bungsunya.

Rumah itu bukan miliknya. Ia hanya menumpang di bangunan milik warga sekitar yang sudah lama terbengkalai.

Setiap hari, sebelum berangkat bekerja, Taryadi lebih dulu menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Ia mencuci pakaian, menyapu, dan merapikan tempat tinggalnya semampu yang ia bisa.

Setelah itu, barulah ia menjalankan pekerjaannya sebagai pengangkut sampah di lingkungan sekitar. Dari pekerjaan itu, ia memperoleh penghasilan sekitar Rp500.000 per bulan.

Jumlah yang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, apalagi untuk membangun tempat tinggal yang layak.

Sebelum menjadi pengangkut sampah, Taryadi pernah mencoba berbagai pekerjaan. Ia pernah menjadi tukang becak, kuli bangunan, kernet mobil elf (minibus), hingga nelayan. Namun hidup tak selalu berpihak. Kini, selain mengangkut sampah, ia juga mengumpulkan rongsokan dan memilah plastik bekas untuk dijual kembali demi menambah penghasilan.

Keterbatasan begitu terasa dalam kesehariannya. Untuk mandi, mencuci, hingga buang air, Taryadi dan anak-anaknya harus pergi ke WC umum yang berada di kawasan RTH Jatibarang -sebuah ruang terbuka hijau yang tepat berada di depan Stasiun Jatibarang.

Rumah roboh yang dihuni Taryadi.Taryadi saat mengangkut sampah. Foto: Burhannudin/detikJabar

Tidak hanya itu, listrik pun tak mereka miliki secara mandiri, ia hanya menumpang dari tetangga. Ketika hujan turun penderitaan itu terasa semakin nyata.

Air menembus atap yang bocor, membasahi kasur dan pakaian. Tak ada tempat yang benar-benar kering untuk beristirahat. "Kalau hujan bocor, air masuk, jadi basah semua, pakaiannya basah, sayanya juga basah," ujarnya pelan saat ditemui di kediamannya, Selasa (14/4/2026) siang.

Untuk makan sehari-hari, ia tidak memasak. Bukan karena tak mau, melainkan karena tak ada dapur atau fasilitas yang memungkinkan. Ia membeli makanan seadanya di warung.

Di tengah kondisi tersebut, ada rasa yang sulit disembunyikan. "Sedih. Saya tidak punya rumah, tempatnya begini, tidak layak." kata Taryadi singkat.

Namun, di balik kesederhanaan dan keterbatasan itu, ia tetap menyimpan harapan. Ia tidak meminta banyak. Hanya satu keinginan sederhana; memiliki rumah yang layak untuk dirinya dan anak-anaknya.

"Harapan saya bisa punya rumah. Ada bantuan dari mana saja. Rezeki dari mana pun, saya syukuri," tuturnya.

Di Gang Tarkani yang sempit dan nyaris terlupakan, Taryadi alias Citung terus menjalani hidupnya dengan tabah.

Di antara sisa bangunan rapuh dan keterbatasan yang ada, ia tetap bertahan; menjaga harapan agar suatu hari nanti hidupnya bisa berubah menjadi lebih baik.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads