Cerita Tukang Es Keliling Pergi Haji, Awalnya Nabung Rp 10 Ribu

Kabupaten Cirebon

Cerita Tukang Es Keliling Pergi Haji, Awalnya Nabung Rp 10 Ribu

Devteo Mahardika - detikJabar
Kamis, 16 Apr 2026 08:00 WIB
Ili (62) penjual es mung-mung asal Cirebon
Ili (62) penjual es mung-mung asal Cirebon (Foto: Devteo Mahardika/detikJabar)
Cirebon -

Di bawah terik matahari dan denting bel es keliling yang khas, sosok Ili (62) tampak seperti pedagang kecil pada umumnya. Setiap hari, ia mendorong gerobak es mung-mung, menyusuri gang-gang sempit di wilayah Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon.

Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan kisah perjuangan panjang yang kini berbuah manis: Ili akan segera berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji.

Pantauan di kediamannya di Jalan Dewi Sartika, Kelurahan Sumber, Rabu (15/4/2026), memperlihatkan suasana rumah sederhana yang penuh kehangatan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perlengkapan haji seperti kain ihram, tas, hingga kebutuhan pribadi telah tersusun rapi. Sang istri, Yayah (49), setia mendampingi dan membantu mempersiapkan keberangkatan suaminya.

Di halaman rumah, sebuah motor dengan gerobak es berwarna mencolok terparkir dengan alat sederhana yang menjadi saksi perjalanan hidup Ili selama puluhan tahun.

ADVERTISEMENT

Menabung dari Recehan, Merajut Mimpi Besar

Ili (62) penjual es mung-mung asal CirebonIli (62) penjual es mung-mung asal Cirebon Foto: Devteo Mahardika/detikJabar

Es mung-mung yang dijajakan Ili bukan sekadar jajanan biasa. Kuliner tradisional khas pesisir Jawa ini dibuat dari bahan sederhana seperti santan, gula, dan tepung, dengan proses manual menggunakan tabung berisi es batu dan garam. Rasanya gurih dan teksturnya padat, dijual dengan harga terjangkau mulai Rp2.000 hingga Rp5.000.

"Datang ke Cirebon dulu tidak bawa apa-apa, susah sekali. Ikut kakak. Tapi alhamdulillah bisa nabung sedikit demi sedikit, dari Rp10.000 sampai Rp20.000 dari sisa dagang," tutur Ili.

Niat untuk berhaji mulai tumbuh sejak 2005. Sejak saat itu, ia disiplin menyisihkan penghasilan setiap hari, meski jumlahnya tak menentu.

"Kalau ada lebih, Rp50.000 disisihkan. Kadang musim hujan cuma Rp30.000, kalau ramai bisa sampai Rp500.000," katanya.

Perjalanan tersebut tentu tidak mudah. Sebagai pedagang keliling, Ili harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari cuaca yang tidak menentu hingga pendapatan yang naik turun.

"Kalau musim hujan sedih, kadang untuk makan saja susah. Tapi tetap diniatkan, alhamdulillah selalu ada jalan," ujarnya.

Dari Pedagang Kecil hingga Punya Karyawan

Kerja keras Ili tak hanya berhenti pada dirinya sendiri. Ia sempat mengembangkan usahanya hingga memiliki 19 karyawan pada 2010. Dari yang awalnya menggunakan gerobak dorong, kini ia beralih menggunakan motor untuk menjangkau lebih banyak pelanggan.

Ribuan porsi es mung-mung yang terjual selama bertahun-tahun akhirnya mengantarkan Ili mendapatkan nomor porsi haji pada 2013. Setelah penantian panjang, ia dijadwalkan berangkat pada 19 Mei 2026 mendatang. Rasa haru dan bahagia tak bisa disembunyikan dari wajahnya.

"Bahagia sekali, seperti orang-orang lain, seperti bos-bos. Padahal saya cuma jualan es," ucapnya sambil tersenyum.

Ia pun berharap keberangkatannya bisa membawa keberkahan bagi keluarga dan orang-orang di sekitarnya.

"Mudah-mudahan anak cucu, keluarga, dan teman-teman juga bisa ke Baitullah," harapnya.

Ketua KBIHU Al-Washliyah Kabupaten Cirebon, Sofyan, menyebut kisah Ili sebagai inspirasi nyata bagi masyarakat.

"Kami bangga, dengan kondisi seperti itu Pak Ili bisa memenuhi semua syarat untuk berhaji. Ini memotivasi masyarakat agar semangat mendaftar haji," ujarnya.

Menurut Sofyan, seluruh jemaah, termasuk Ili, telah mengikuti bimbingan manasik sebanyak 15 kali pertemuan dengan metode sederhana agar mudah dipahami.

Sebanyak 80 jemaah tergabung dalam dua rombongan KBIHU Al-Washliyah yang akan berangkat pada kloter terakhir Jawa Barat.

Di balik rasa manis dan gurih es mung-mung, tersimpan makna yang lebih dalam sebagai bentuk perjuangan, ketekunan, dan harapan.

Setiap sendok es yang dijual Ili menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju Baitullah. Kisahnya membuktikan bahwa mimpi besar bisa terwujud dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Kontributor:

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads