Skrining TBC Jemput Bola di Cirebon Gunakan AI dan Mobil Rontgen Keliling

Skrining TBC Jemput Bola di Cirebon Gunakan AI dan Mobil Rontgen Keliling

Devteo Mahardika - detikJabar
Selasa, 21 Apr 2026 18:00 WIB
Pelaksanaan skrining TBC oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon
Pelaksanaan skrining TBC oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon (Foto: Devteo Mahardika/detikJabar)
Cirebon -

Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon terus menggencarkan upaya deteksi dini tuberkulosis (TBC) dengan turun langsung ke desa-desa melalui program skrining keliling. Kegiatan yang diinisiasi Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) ini menyasar kelompok masyarakat berisiko tinggi dan melibatkan kerja sama dengan lembaga non-pemerintah (NGO).

Kepala Bidang P2P, Mona Isabella Saragih, menjelaskan bahwa sasaran utama program ini adalah warga yang memiliki potensi besar tertular TBC. Mereka di antaranya kontak serumah pasien TBC, kontak erat seperti teman dan lingkungan sekitar, anak dengan kondisi gizi buruk atau stunting, serta penderita penyakit penyerta seperti diabetes.

"Pendekatannya jemput bola. Kami tidak menunggu warga datang ke fasilitas kesehatan, tapi justru mendatangi mereka langsung di desa," ujar Mona, Selasa (21/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pelaksanaannya, Dinas Kesehatan memberdayakan kader penjangkau yang dibentuk bersama mitra NGO. Para kader ini berperan penting sebagai penghubung antara puskesmas dan masyarakat.

Mereka menerima data pasien TBC, lalu mendatangi rumah-rumah untuk mengedukasi sekaligus membagikan undangan skrining kepada keluarga dan warga sekitar.

ADVERTISEMENT

Warga yang diundang kemudian diminta datang ke balai desa untuk menjalani pemeriksaan awal. Bagi yang menunjukkan gejala klinis seperti batuk berkepanjangan atau memiliki indikasi paparan, akan dirujuk untuk pemeriksaan lanjutan menggunakan rontgen dada.

Menariknya, program ini didukung teknologi modern. Kementerian Kesehatan RI menyediakan tiga unit mobil X-ray keliling yang dilengkapi sistem kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini mampu membaca hasil rontgen secara cepat sebagai skrining awal, sebelum diagnosis dipastikan oleh dokter puskesmas.

"Pemanfaatan AI ini membantu mempercepat proses deteksi, sehingga penanganan bisa segera dilakukan," jelasnya.

Program skrining massal ini ditargetkan menjangkau 60 puskesmas dalam waktu 18 hari. Setiap harinya, tiga mobil rontgen dikerahkan ke tiga desa berbeda. Hingga kini, kegiatan telah memasuki hari ketujuh pelaksanaan.

Dari hasil sementara, partisipasi masyarakat menunjukkan tren positif meski belum mencapai target maksimal. Setiap puskesmas ditargetkan memeriksa 200 orang per hari, namun realisasi saat ini masih berkisar antara 90 hingga 120 orang. Tingkat kehadiran warga yang diundang tercatat sekitar 70 persen.

"Masih ada kendala, terutama karena kegiatan dilakukan pada jam kerja, sehingga warga usia produktif belum semuanya bisa hadir," ungkapnya.

Meski demikian, program ini mulai menunjukkan dampak nyata. Salah satunya dengan ditemukannya seorang anak usia 9 tahun yang masuk kategori suspek TBC. Anak tersebut langsung mendapatkan terapi pencegahan TBC (TPT) selama tiga bulan, dengan obat yang disediakan gratis oleh Dinas Kesehatan.

Mona menegaskan, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya besar menuju target eliminasi TBC pada 2030 atau Zero TB. Oleh karena itu, cakupan skrining akan terus diperluas, khususnya ke wilayah dengan angka kasus yang tinggi.

Dinas Kesehatan pun mengimbau masyarakat, terutama yang termasuk kontak serumah, kontak erat, maupun penderita penyakit penyerta, untuk tidak ragu mengikuti skrining atau memeriksakan diri ke puskesmas.

"Deteksi dini adalah kunci. Semakin cepat ditemukan, semakin besar peluang untuk sembuh dan mencegah penularan," pungkasnya.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads