Terlahir sebagai penyandang disabilitas tidak menjadi penghalang bagi Syarif Hidayat (14) untuk meniti karier sebagai atlet catur. Pada siang itu, di tengah ratusan peserta nondisabilitas dewasa yang berlaga dalam Turnamen Catur Non-Master Bupati Cup I Tahun 2026 di GOR Ewangga Kuningan, Syarif tampak fokus bertanding melawan rival yang usianya jauh lebih senior.
Kendati memiliki keterbatasan fisik dalam berjalan, Syarif terlihat lincah menggerakkan bidak catur satu per satu demi meraih kemenangan. Orang tua Syarif, Yanto (49) mengaku sengaja mengikutsertakan putranya yang merupakan penyandang disabilitas untuk bertanding dalam ajang catur umum Bupati Cup I tersebut. Menurutnya, langkah ini diambil sebagai upaya untuk memperkuat mentalitas bertanding Syarif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini bukan sekali lawan dengan nondisabilitas. Cuma buat melatih mental aja. Masalahnya itu kan lawan-lawannya udah pada senior. Kebetulan anaknya juga semangat. Jadi sebagai orang tua kita mengantar dan mendukungnya saja. Urusan kalah menang nanti, yang penting ikut dulu," tutur Yanto, Sabtu (2/4/2026).
Yanto memaparkan Syarif mulai menggemari olahraga catur sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Kala itu, Syarif menjadi salah satu siswa disabilitas yang dinilai memiliki bakat potensial di bidang catur. Ia kemudian terpilih menjadi salah satu anggota National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) Kabupaten Kuningan.
"Pertama sih perekrutan dari sekolah tadinya. Dari sekolah kelas 1 SD tuh, iya kelas 1 SD ada pencarian, pencarian buat calon-calon atlet. Ini Dek Syarif terpilih, dia bisa main catur, jadi fokus sampai latihan-latihan gitu," tutur Yanto.
Seiring berjalannya waktu, berbagai ajang perlombaan telah diikuti oleh Syarif, mulai dari tingkat kecamatan hingga tingkat nasional. Salah satu prestasi membanggakan yang berhasil diraihnya adalah juara ketiga dalam ajang Piala Gubernur Disabilitas Tahun 2024.
"Tahun 2024 ikutan Piala Gubernur ke Bandung. Alhamdulillah juara 3 kategori disabilitas. Pernah juga ikut lomba di Garut. Terus Peparda ke Bandung aja dua kali. Alhamdulillah anaknya juga semangat, latihannya juga rutin," tutur Yanto.
Sebagai atlet disabilitas, terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Syarif untuk terus berkembang. Yanto menekankan bahwa diperlukan kesabaran, konsistensi, serta dukungan orang tua yang kuat agar Syarif dapat terus melangkah maju. Ke depan, ia berharap Syarif mampu mengasah kemampuannya hingga menjadi pecatur tingkat internasional.
"Hampir 14 tahun belum bisa jalan. Sehari-hari kalau ke sekolah pakai kursi roda, memang biasa dibawa aja. Jadi ke mana-mana harus dianter sama orang tua. Orang tua sih cuma ngikutin hobinya anak aja dengan terus mendukung. Harapannya sesuai cita cita Syarif pengen keliling dunia katanya, kayak pecatur internasional seperti senior-senior dari NPCI yang sudah tingkat internasional," tutur Yanto.
Sementara itu, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menyatakan catur bukan sekadar permainan, melainkan olahraga yang mengasah kemampuan berpikir, strategi, kesabaran, serta keberanian dalam mengambil keputusan. Menurutnya, turnamen ini menjadi ruang bagi para pecatur pemula untuk berkembang dan menunjukkan kemampuan mereka.
Turnamen Catur Bupati Cup I ini diikuti oleh sekitar 270 peserta dengan total hadiah mencapai Rp 25 juta. Dian berharap ajang ini dapat melahirkan atlet-atlet catur potensial yang mampu mengharumkan nama Kabupaten Kuningan di tingkat regional, nasional, hingga internasional.
"Hidup itu seperti bermain catur. Perlu strategi, kecermatan, dan keberanian mengambil langkah. Tanpa itu, kita tidak akan berkembang, Seorang Grand Master pun memulai dari langkah awal. Tidak ada kesuksesan yang instan. Semua melalui proses, latihan, dan pengalaman bertanding," pungkas Dian.
(sud/sud)
