Kisah Pilu Udin Tiga Tahun Tinggal Sendirian di Pemakaman Kuningan

Kisah Pilu Udin Tiga Tahun Tinggal Sendirian di Pemakaman Kuningan

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Sabtu, 09 Mei 2026 17:06 WIB
Udin lansia Kuningan yang tinggal di area pemakaman
Udin lansia Kuningan yang tinggal di area pemakaman (Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar)
Kuningan -

Di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Rama Buyut, Desa Mekarjaya, Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan, seorang pria lansia bernama Zaenudin atau akrab disapa Udin telah tinggal selama tiga tahun terakhir. Pria berusia 65 tahun itu menetap di area pemakaman setelah mengalami persoalan hidup yang membuatnya kehilangan tempat tinggal.

Siang itu, Udin tampak berjalan perlahan di sekitar bangunan sederhana berukuran 3x3 meter yang berdiri di tepi area makam. Bangunan tersebut merupakan bantuan dari seorang donatur yang prihatin dengan kondisi hidupnya. Sebelum mendapat tempat tinggal sederhana itu, Udin tinggal di sebuah pos terbuka tanpa dinding di tengah area pemakaman.

Saat ditemui di lokasi, Udin menceritakan dirinya mulai tinggal di TPU Rama Buyut sejak tiga tahun lalu. Sebelumnya, ia hidup normal bersama istri dan anak-anaknya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun hidupnya berubah setelah mengalami penyakit katarak yang membuat penglihatannya terganggu dan tidak lagi mampu bekerja. Kondisi itu, menurut Udin, membuat rumah tangganya retak hingga akhirnya ia diusir dari rumah.

ADVERTISEMENT

"Tiga kali puasa, berarti tiga tahun di sini. Dulunya sama istri cuman diusir karena katarak. Sudah tidak bisa apa-apa, tidak bisa kerja, dulu mah sempat kerja dagang mi ayam. Padahal sudah rumah tangga selama 20 tahun lebih. Anaknya juga sudah dua, satu merantau di Purwakarta satunya lagi di masih SMA tinggal sama ibunya. Sempat tinggal di Masjid cuman diusir juga," tutur Udin.

Udin lansia Kuningan yang tinggal di area pemakamanUdin lansia Kuningan yang tinggal di area pemakaman Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar

Setelah sempat tinggal di masjid namun kembali diminta pergi, Udin akhirnya memilih tinggal di area pemakaman. Sejak saat itu, ia menggantungkan hidup dari bantuan warga sekitar dan pekerjaan membersihkan makam dengan penghasilan tidak menentu.

"Ada saja alhamdulillah yang memberi, tetangga, buat kopi atau makan. Rezeki mah ada saja, kadang ada yang lewat merasa kasihan. Terus dari keluarga yang punya makam juga suka memberi kalau malam Jumat Kliwon, habis saya menyapu makam di sini. Nggak takut tinggal di sini, cuman kalau jalan agak sulit karena kan masih katarak," tutur Udin.

Untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan berwudu, Udin memanfaatkan fasilitas umum yang ada di area pemakaman. Meski hidup di tengah kesunyian makam, ia mengaku kini sudah terbiasa dan tidak berniat pindah.

"Alhamdulillah, senang-senang saja, cuma ya masih remang-remang penglihatannya. Kalau mau jalan sedikit saja harus meraba-raba. Terakhir ke dokter mata di Juanda. Ini bangunan sama periksa juga dari Yayasan Kanker Suport Kuningan. Tadinya tidak kelihatan sama sekali, sekarang masih remang-remang," tutur Udin.

Seorang warga setempat bernama Minah membenarkan bahwa Udin memang telah tinggal di TPU Rama Buyut selama tiga tahun terakhir. Menurutnya, warga sekitar dan para peziarah kerap membantu kebutuhan makan Udin.

"Saya orang sini, tahu dia awal datang ke sini. Sehari hari emang di makam saja. Malah sebelumnya tinggal musala, terus ditempatkan di sini. Seringnya dikasih makan sama tetangga sekitar sini saja. Katanya memang diusir, sudah nggak mau lagi balik ke istrinya," pungkas Minah.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads