Nestapa Karni, Lansia Disabilitas di Kuningan Bertahan di Rumah Lapuk

Nestapa Karni, Lansia Disabilitas di Kuningan Bertahan di Rumah Lapuk

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Senin, 11 Mei 2026 08:00 WIB
Karni saat berada di rumahnya yang lapuk.
Karni saat berada di rumahnya yang lapuk. Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar
Kuningan -

Angin sore berembus pelan di Desa Kananga, Kecamatan Cimahi, Kabupaten Kuningan. Di sudut desa itu, terdapat sebuah rumah dengan dinding kayu lapuk yang mulai dimakan usia. Di sanalah Karni, seorang wanita tangguh berusia 70 tahun, menghabiskan hari-harinya dalam kesendirian.

Meski raga tak lagi muda dan dunia bicaranya terbatas sebagai seorang tunawicara, Karni tak pernah kehilangan kehangatan. Setiap tamu yang menginjakkan kaki di pelataran rumah anyaman kayunya akan disambut dengan senyum tulus. Lewat gerak jemari dan isyarat sederhana, ia menyapa siapa saja, seolah keterbatasan bukanlah penghalang untuk berbagi keramahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kehidupan Karni berubah sunyi sejak tiga tahun silam, tepat ketika sang ayah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta. Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, Karni kini menjadi penghuni tunggal di rumah peninggalan tersebut. Kakak sulungnya berkelana di tanah rantau, sementara adiknya, Yayat (45), tinggal tak jauh dari sana, tetap setia memantau sang kakak dari kejauhan.

Di balik kesunyiannya, Karni adalah potret kemandirian yang nyata. Ia menolak menyerah pada keadaan. Saban hari, ia masih turun ke sawah, mengadu nasib dengan menggarap lahan milik tetangga demi menyambung hidup. Semangatnya pernah membawa Karni mengadu nasib hingga ke hiruk-pikuk Jakarta, bekerja sebagai buruh cuci piring bersama saudaranya yang sudah merantau lebih dulu.

ADVERTISEMENT

"Semenjak ditinggal Abah, karena dulu tinggal sama Abah berdua. Dari kecil nggak bisa bicara. Orangnya mandiri. Kadang tandur garap sawah punya orang lain. Paling sehari dapatnya Rp 50 ribu kalau sampai zuhur. Tapi kalau sampai sore itu Rp 75 ribu atau Rp 100 ribu. Dulu malah sempat ke Jakarta, ikut saudara merantau kerja cuci piring gitu. Suka ke masjid, sehari-hari suka ke masjid," tutur Yayat.

Namun, ketangguhan Karni tetap memiliki batas saat berhadapan dengan alam. Rumah dinding kayu yang menjadi pelindungnya kini kian rapuh. Dinding-dindingnya mulai rontok, mengelupas dimakan waktu. Saat hujan badai datang menerjang, Karni tak jarang harus berjalan tertatih menuju rumah Yayat, menggunakan bahasa isyarat untuk mengabarkan bahwa atap tempatnya berteduh kembali menyerah pada cuaca.

"Kemarin rumahnya sempat roboh karena hujan angin kencang. Banyak yang lapuk juga. Biasanya kalau gitu datang ke rumah minta bantuan pakai isyarat gitu, pakai gerakin tangan. Sering datang ke rumah juga orangnya," tutur Yayat.

Peristiwa memilukan itu terekam jelas dalam ingatan perangkat desa setempat. Kasi Pemerintahan Desa Kananga, Didi, mengonfirmasi bahwa musibah robohnya atap rumah Karni terjadi tepat selepas waktu magrib tiga hari sebelum bulan Ramadan tiba. Di tengah kegelapan dan deru angin kencang, Karni beruntung bisa menyelamatkan diri sebelum material bangunan menimpanya.

"Angin besar waktu habis magrib, hujan gede juga. Pas jam 8 malam. Baru dibereskan rumahnya itu juga pas bulan puasa. Jadi agak lambat perbaikannya. Harapannya kalau dari kami, kalau ada bencana pemerintah cepat tanggap lah dari terutama dari pihak pemerintah daerahnya. Sehari hari Karni orangnya baik, kadang bertetangga juga," pungkas Didi.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads