Suasana ruangan aula Lapas Kelas IIB Kabupaten Majalengka mendadak hening saat dua narapidana kasus terorisme, Rizal (25) dan Andri Muhammad Maulana (25), melangkah ke depan di hadapan petugas lapas serta para tamu undangan.
Keduanya tampil mengenakan peci hitam, kemeja putih, celana hitam, serta kacu merah putih yang melingkar di leher. Dengan Al-Qur'an di atas kepala, dua sahabat asal Kalideres, Jakarta Barat itu membacakan ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suara keduanya lantang dan tegas. Andri membaca ikrar, dan Rizal mengikuti dengan tatapan tegas lurus ke depan. Setelah ikrar selesai dibacakan, keduanya bergantian mencium sangsaka merah putih.
Mereka tampak menghayati saat mencium bendera tersebut. Bahkan mata mereka terlihat berkaca-kaca.
Bagi dua sahabat asal Kalideres, Jakarta Barat itu, momen tersebut bukan sekadar seremoni. Ada perjalanan panjang penuh doktrin, propaganda, hingga rencana aksi bom bunuh diri yang akhirnya membawa mereka ke balik jeruji besi. Namun, kini keduanya telah memilih kembali ke pelukan Indonesia.
Rizal alias Abu Morgan Al-Somalia mengaku, mulai terpapar paham radikal sejak 2017. Saat itu ia aktif mengikuti grup di media sosial yang berafiliasi dengan jaringan Aman Abdurrahman dan ISIS.
Ia menghabiskan banyak waktu mengikuti kajian online, membaca artikel-artikel, menyebarkan propaganda jihad, hingga menyebarkan video peperangan dan ajakan teror di media sosial.
"Targetnya anak-anak muda. Saya menyebarkan propaganda, video eksekusi peperangan, mengajak hijrah dan jihad," kata Rizal saat diwawancarai detikJabar, Rabu (13/5/2026).
Dalam pemahaman yang diyakininya saat itu, pemerintah Indonesia dianggap sebagai thogut yang harus diperangi. Bahkan, cara yang dipilih untuk melawan negara terbilang ekstrem.
"Ya aksi seperti bom bunuh diri, penembakan, dengan cara apa pun itu sebisa mungkin," ujarnya.
Rizal mengaku ditangkap pada 6 Agustus 2024 di kawasan Kalideres, Jakarta Barat. Saat itu, ia telah merencanakan aksi bom bunuh diri dengan sasaran sebuah polsek di Tangerang.
"Waktu itu yang menjadi sasaran saya Polsek Tangerang ingin saya bom. Tapi alhamdulillah saya langsung ditangkap, masih ada kesempatan buat saya hidup lebih baik lagi," tuturnya.
Kini, setelah kembali menyatakan setia kepada NKRI, Rizal mengaku merasa lega dan bangga. "Alhamdulillah, pertama saya senang sekali, bangga. Saya ucapkan segala puji syukur kepada Allah SWT dan kami juga ucapkan terima kasih banyak kepada Kalapas beserta jajarannya yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk ikrar NKRI," ujarnya.
Rizal berharap, ikrar tersebut menjadi awal hidup baru baginya sebagai warga negara yang taat hukum. "Semoga dengan ikrar ini bisa menambah kecintaan saya terhadap negara ini dan saya pun siap menjadi warga negara Indonesia yang baik, taat akan hukum yang ada di Indonesia ini. NKRI harga mati," katanya.
Momen paling emosional bagi Rizal terjadi saat dirinya mencium bendera merah putih. Ia mengaku nyaris menangis.
"Alhamdulillah senang sekali. Saya sampai terharu, ingin menangis cuma saya tahan juga karena saya masih bisa menahan air mata," ujarnya.
Ia mengaku baru pertama kali dalam hidup mencium bendera Indonesia yang dulu dianggap sebagai simbol musuh. "Pertama kali saya dalam hidup mencium bendera merah putih yang selama ini saya anggap musuh, saya anggap bendera thogut segala macam. Tapi hari ini saya menciumnya dengan senang hati dengan perasaan yang begitu bangga sekali," ucap Rizal.
Setelah bebas nanti, Rizal mengaku ingin menjalani hidup normal, bekerja dan mencari nafkah tanpa lagi terlibat aksi kekerasan. "Pertama mungkin saya menjalani hidup dengan baik, bekerja, mencari nafkah, dan menjalani ibadah yang biasa-biasa saja yang lazim tanpa jalan berliku seperti aksi terorisme maupun aksi-aksi yang membahayakan bagi masyarakat," ujarnya.
Meski begitu, Rizal mengaku masih memiliki kekhawatiran soal penerimaan masyarakat terhadap dirinya kelak. "Dalam hati kecil saya ada (kekhawatiran tidak diterima di lingkungan), terutama di keluarga dan lingkungan. Saya minta maaf kepada masyarakat setempat karena sempat ramai juga ketika saya ditangkap, sempat viral masuk TV juga," jelasnya.
Sementara itu, Andri Muhammad Maulana alias Anton mengaku dirinya mulai masuk ke jaringan ISIS pada 2024. Ia mengaku, awalnya hanya ingin belajar agama lebih dalam bersama Rizal yang merupakan sahabat kecilnya.
"Saya awalnya anak muda yang ingin belajar agama, ingin paham dengan agama. Saya juga awalnya teman kecil dari rekan saya (Rizal), ingin belajar ilmu agama gitu," kata Andri.
Ia mengaku, banyak mengikuti kajian online dari media sosial hingga akhirnya terpapar doktrin jihad. "Kami mengikuti beberapa kajian online," ujarnya.
Menurut Andri, doktrin yang diterima saat itu banyak menjanjikan surga melalui jihad. "Kami diiming-imingi surga oleh ustaz, diiming-imingi jihad. Karena negara Suriah ditutup, maka lakukanlah di negara sendiri dengan bom bunuh diri," tuturnya.
Andri mengaku, dirinya memiliki target serangan terhadap polsek di Jakarta, sementara Rizal ditugaskan di Tangerang. "Ke Polsek ya. Saya di Jakarta, Rizal di Tangerang," katanya.
Ia juga mengaku ditangkap bersamaan dengan Rizal. "Kalau untuk penangkapan kami bareng," ujarnya.
Kini, Andri merasa bersyukur bisa kembali ke pangkuan NKRI, dan bisa menjalani kehidupan layaknya anak muda pada umumnya. "Alhamdulillah senang banget, kami bahagia bisa balik ke pangkuan NKRI, bisa jadi anak muda yang mencintai tanah air Indonesia," katanya.
Ia mengaku, momen mencium bendera merah putih membuat dirinya sangat terharu. "Rasanya bangga banget sekali. Kami bisa mencium bendera merah putih. Baru pertama kali saya di sini mencium bendera merah putih, karena terakhir saya hormat bendera merah putih hanya di sekolah waktu masih SMK," ucap Andri.
Setelah bebas nanti, Andri mengaku ingin bekerja dan menjadi anak muda yang berkarya di Indonesia. "Saya ingin bekerja dan menjadi anak muda yang berkarya di negara sendiri, menjadi anak muda yang bisa mencintai tanah air Indonesia," ujarnya.
Ia juga berencana membuka usaha dari keterampilan yang dipelajari selama menjalani pembinaan di lapas. "Mungkin saya ingin berwirausaha atau berdagang. Selama di lapas juga sudah diajarkan skill-skill individu, nanti akan saya terapkan," pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIB Majalengka, Rian Firmansyah mengatakan proses ikrar dilakukan setelah keduanya menunjukkan perubahan sikap selama menjalani pembinaan.
"Mereka sudah memiliki pandangan yang moderat, tidak lagi radikal, aktif mengikuti program pembinaan dan bisa berbaur dengan warga binaan lain," kata Rian.
Menurutnya, selama lima bulan terakhir pihak lapas melakukan pendampingan khusus terhadap keduanya. Mereka juga aktif dalam kegiatan masjid hingga menjadi pelopor kebersihan di lingkungan lapas.
Rian berharap setelah bebas nanti, keduanya benar-benar bisa kembali ke masyarakat dan tidak lagi terhubung dengan jaringan lama mereka.
"Yang mereka inginkan sekarang itu kembali ke keluarga, hidup normal bersama orang tua dan masyarakat," pungkasnya.
(sud/sud)