Di tengah hamparan sawah hijau di kaki perbukitan Desa Cikalahang, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, berdiri sebuah batu tua yang menyimpan jejak panjang peradaban Sunda. Tak banyak yang menyangka, di lokasi yang tampak sederhana itu tersimpan salah satu peninggalan penting Kerajaan Sunda yakni Situs Batu Tulis Huludayeuh.
Suasana di sekitar situs terasa tenang. Semilir angin pegunungan berembus pelan, sementara pemandangan perbukitan menjadi latar alami yang memanjakan mata. Di tengah lanskap pedesaan itu, batu setinggi sekitar 74 sentimeter dan lebar 36 sentimeter berdiri kokoh di dalam cungkup sederhana. Pada permukaannya terukir aksara kuno yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah ratusan tahun silam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi masyarakat setempat, Batu Tulis Huludayeuh bukan sekadar batu biasa. Situs ini diyakini sebagai satu dari dua prasasti batu tulis peninggalan Kerajaan Sunda yang berada di Jawa Barat. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa wilayah Cirebon pernah memiliki kaitan erat dengan pusat pemerintahan Sunda pada masa lampau.
Juru kunci Situs Batu Tulis Huludayeuh, Edi menuturkan kisah penemuan prasasti tersebut yang hingga kini masih diwariskan dari generasi ke generasi. Menurutnya, batu itu pertama kali ditemukan warga sekitar pada tahun 1930-an.
Kala itu, kawasan Cikalahang belum berupa area persawahan seperti sekarang. Hutan lebat masih menyelimuti wilayah tersebut. Penemuan prasasti bermula ketika sebuah pohon beringin besar tumbang.
"Dulunya masih hutan. Katanya ada pohon beringin tumbang, lalu di bawahnya ditemukan batu ini," kata Edi.
Meski telah ditemukan sejak puluhan tahun lalu, keberadaan situs tersebut baru diteliti secara serius pada Februari 1991. Setelah melalui kajian arkeologis, Batu Tulis Huludayeuh kemudian ditetapkan sebagai cagar budaya.
Menurut Edi, prasasti itu memiliki nilai sejarah yang sangat penting karena berkaitan langsung dengan peninggalan Kerajaan Sunda. Berdasarkan keterangan para ahli, tulisan pada batu tersebut dibuat atas perintah seorang raja bergelar Sri Maharaja Ratu Haji.
"Batu ini ditulis atas perintah kerajaan sebagai tanda peringatan atas pekerjaan-pekerjaan yang telah dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat," ujarnya.
Tak hanya menjadi warisan sejarah, Situs Batu Tulis Huludayeuh kini juga menjadi ruang belajar terbuka bagi masyarakat. Siapa pun dapat datang berkunjung tanpa dipungut biaya. Edi mengaku selalu merasa senang ketika ada pelajar maupun mahasiswa yang datang untuk mengenal sejarah daerahnya.
"Kalau ada kunjungan saya senang sekali. Pernah juga ada sekolah datang ke sini," katanya.
Potensi situs ini sebagai destinasi wisata edukasi dinilai sangat besar. Pengunjung tidak hanya dapat melihat langsung prasasti peninggalan masa lalu, tetapi juga memahami bagaimana wilayah Huludayeuh diyakini pernah menjadi pusat pemerintahan pada zamannya.
Nama Huludayeuh sendiri menyimpan makna historis. Berdasarkan penuturan para sesepuh, kata hulu berarti kepala atau pusat, sedangkan dayeuh berarti kota. Dari sanalah muncul keyakinan bahwa kawasan tersebut dahulu merupakan pusat pemerintahan atau pusat aktivitas penting kerajaan.
Di tengah arus modernisasi dan derasnya perkembangan teknologi, keberadaan situs seperti Batu Tulis Huludayeuh menjadi pengingat bahwa sejarah tidak boleh dilupakan. Di balik batu tua yang tampak sederhana itu, tersimpan cerita tentang kekuasaan, peradaban, dan kehidupan masyarakat Sunda masa lampau.
Edi berharap generasi muda tetap memiliki kepedulian terhadap pelestarian situs budaya dan sejarah daerah. Baginya, mengenal sejarah adalah langkah awal untuk menjaga identitas bangsa.
"Harus mau berkunjung supaya tahu sejarah dan ikut melestarikannya," ucapnya.
Sementara itu, menurut penelitian arkeolog Hasan Djafar dalam jurnal Berkala Arkeologi Volume 14 (1994) berjudul Prasasti Huludayeuh, peninggalan prasasti di Jawa Barat jumlahnya masih jauh lebih sedikit dibandingkan temuan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Hasan Djafar dalam jurnalnya menjelaskan, penamaan prasasti itu diambil dari lokasi penemuannya. Dalam kajiannya, Hasan Djafar menyebut Prasasti Huludayeuh berkaitan dengan penghormatan terhadap jasa-jasa Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi. Nama raja tersebut juga disebut dalam isi prasasti.
"Raja yang disebutkan dalam prasasti Huludayeuh tersebut tidak lain ialah Ratu Purana Sri Baduga Sri Maharaja Ratu Haji ri Pakwan Sya San Ratu Dewata," tulis Hasan Djafar dalam penelitiannya.
Ia menjelaskan, prasasti tersebut kemungkinan tidak diterbitkan langsung oleh Sri Baduga Maharaja, melainkan oleh penerusnya, yakni Raja Surawisesa yang memerintah pada 1521-1535.
"Mengingat prasasti Huludayeuh ini isinya berkenaan dengan usaha memperingati jasa-jasa kebajikan Sri Baduga Maharaja, mungkin sekali prasasti ini tidak dikeluarkan oleh Sri Baduga Maharaja sendiri, melainkan oleh raja penggantinya, yaitu Raja Surawisesa (1521-1535)," tulis Hasan Djafar.
Penelitian tersebut juga menyebut kondisi Prasasti Huludayeuh sudah tidak utuh. Sejumlah bagian batu telah patah dan aus sehingga beberapa huruf dan kalimat sulit dibaca. Meski demikian, prasasti itu masih menjadi sumber penting untuk menelusuri sejarah kerajaan Sunda di wilayah Cirebon.
(sud/sud)