Di tengah hiruk-pikuk aktivitas warga di sekitar Jalan Tanjungpura, Kabupaten Indramayu, berdiri sebuah rumah mungil yang nyaris luput dari perhatian. Ukurannya kecil. Dindingnya terbuat dari GRC, sementara atapnya menggunakan rangka baja ringan. Bagi sebagian orang, bangunan itu mungkin lebih pantas disebut gubuk daripada rumah.
Namun bagi Saklan (57), tempat sederhana itu adalah segalanya.
Setelah bertahun-tahun hidup berpindah-pindah tanpa tempat tinggal tetap, rumah kecil tersebut menjadi satu-satunya ruang yang bisa ia sebut sebagai rumah. Meski jauh dari kata layak, Saklan menerimanya dengan penuh kesederhanaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah tiga tahun saya menempati rumah ini. Suka-duka dijalani aja," ujarnya singkat ketika ditanya berapa lama menempati rumah tersebut, Rabu (10/6/2026).
Sosok Saklan warga Indramayu yang hidup di tengah keterbatasan (Foto: Burhanudin/detikJabar |
Rumah yang berdiri di atas tanah desa itu dibangun berkat bantuan teman-teman sekolah dasar Saklan. Kebaikan mereka menjadi titik balik bagi kehidupan pria yang sempat kehilangan tempat berteduh setelah rumah peninggalan orang tuanya hangus terbakar tiga tahun lalu.
Sebelum memiliki rumah sederhana itu, hidup Saklan berjalan tanpa kepastian. Ia pernah bermalam di terminal, masjid, Sport Center, hingga kantor kelurahan. Semua dilakukan demi bertahan hidup setelah kehilangan tempat tinggal.
Kondisi hidup yang serba terbatas membuat Saklan harus menjalani banyak hal dengan cara yang tidak biasa. Rumahnya bahkan tidak memiliki kamar mandi.
Setiap pagi, jika ingin mandi atau buang air, ia harus berjalan menuju masjid yang berada di sekitar Pasar Baru Indramayu. Aktivitas yang bagi kebanyakan orang merupakan kebutuhan dasar itu menjadi tantangan tersendiri baginya.
Meski demikian, Saklan tidak banyak mengeluh.
Ketika ditanya bagaimana perasaannya tinggal di rumah yang sangat sederhana tersebut, jawabannya hanya satu kalimat pendek.
"Biasa saja," katanya.
Jawaban itu seolah menggambarkan bagaimana ia memandang hidup. Tidak ada tuntutan berlebihan, tidak pula keluhan panjang. Ia menjalani hari demi hari sebagaimana adanya.
Namun, bukan berarti kehidupan di rumah itu tanpa kesulitan.
Musim hujan menjadi saat yang paling tidak disukainya.
"Ya, sedih," katanya.
Air hujan sering masuk ke dalam rumah. Belum lagi serangan nyamuk yang semakin banyak ketika cuaca memburuk. Kondisi itu membuat rumah mungilnya terasa semakin tidak nyaman dihuni.
Di balik segala keterbatasan yang dimiliki, Saklan tetap berusaha mencari nafkah. Setiap hari ia berjalan kaki mengelilingi berbagai sudut kota sambil membawa tas ransel.
Di dalam tas itu terdapat peralatan sederhana berupa sisir dan gunting.
Dengan perlengkapan tersebut, Saklan menawarkan jasa pangkas rambut keliling. Ia mendatangi pelanggan dari satu tempat ke tempat lain tanpa kendaraan, hanya mengandalkan langkah kaki.
Pekerjaan itu memang tidak menjanjikan penghasilan besar. Namun setidaknya masih ada beberapa pelanggan tetap yang memercayakan urusan rambut mereka kepadanya.
Kesederhanaan juga tampak ketika Saklan ditanya mengenai cita-citanya.
Ia tidak menyebut keinginan memiliki harta berlimpah, kendaraan mewah, atau kehidupan yang serba berkecukupan. Jawabannya justru sangat sederhana.
"Saya hanya ingin seperti teman-teman," ucapnya.
Saat diminta menjelaskan maksudnya, ia menambahkan, "Punya rumah, dan hidup sejahtera."
Jawaban itu terasa ironis. Sebab secara fisik ia memang sudah memiliki tempat tinggal. Namun bagi Saklan, rumah bukan sekadar bangunan berdinding dan beratap. Rumah adalah tempat tinggal yang aman, nyaman, dan mampu melindungi penghuninya dari panas maupun hujan.
Ketika ditanya lagi mengenai keinginan yang paling realistis di usianya sekarang, Saklan terdiam cukup lama.
"Ya... bingung," katanya pelan.
Jawaban tersebut menggambarkan kehidupan seseorang yang mungkin sudah terlalu lama berhadapan dengan keterbatasan hingga sulit membayangkan masa depan yang berbeda.
Kisah Saklan menjadi pengingat bahwa di balik berbagai kemajuan dan pembangunan, masih ada warga yang berjuang memenuhi kebutuhan paling mendasar: memiliki tempat tinggal yang layak.
Bagi sebagian orang, rumah mungkin hanya salah satu aset. Namun bagi Saklan, rumah adalah harapan yang belum sepenuhnya terwujud.
Sebuah impian sederhana yang masih ia simpan, meski hidup telah berkali-kali mengajarkannya untuk menerima kenyataan apa adanya.
Simak Video "Yamaha NMAX: Saksi Perjuangan 3 Generasi"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
