Kebahagiaan terpancar dari wajah Titin Maryatin saat menerima kunjungan dan apresiasi dari jajaran Kantor Kementerian Agama Kabupaten Indramayu, Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT), dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Indramayu.
"Ya Allah... saya bahagia dan terharu, Pak. Saya dikasih uang banyak. Nggak nyangka, yang datang sampai tiga mobil," ujar Titin Maryatin dengan mata berbinar, saat ditemui di kediamannya, Kamis (11/6/2026).
Titin merupakan guru difabel pada Madrasah Diniyah Takmiliyah Ula (MDTU) Dalilun Ni'mah di Blok Rancakitiran, Desa Kroya, Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kunjungan yang berlangsung pada Rabu (10/6/2026) tersebut dipimpin langsung Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Indramayu, Aghuts Muhaimin, didampingi Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ahmad Fadlali.
Selain memberikan motivasi dan penghargaan kepada Titin Maryatin, rombongan juga melakukan monitoring pelaksanaan Penilaian Akhir Tahun (PAT) di madrasah tersebut.
Apresiasi diberikan karena Titin dinilai memiliki dedikasi luar biasa dalam mengabdi pada pendidikan diniyah meskipun hidup dengan keterbatasan fisik.
Sejak lahir, perempuan berusia 35 tahun itu tidak memiliki kaki yang sempurna. Namun kondisi tersebut tidak pernah menyurutkan semangatnya untuk terus belajar dan mengajar.
Meski hanya sempat menempuh pendidikan hingga jenjang SMP, cita-cita Titin sejak kecil untuk menjadi seorang guru akhirnya terwujud. Saat ini ia mengabdikan diri sebagai guru madrasah diniyah sekaligus mengajar privat bagi anak-anak di lingkungan sekitarnya. Hampir seluruh waktunya, dari pagi hingga malam, dihabiskan untuk mendidik generasi muda.
Perjalanan hidup Titin tidak selalu mudah. Ia pernah mengalami masa-masa berat ketika sang ibu meninggal dunia. Kesedihan itu semakin mendalam setelah suaminya juga wafat tidak lama kemudian.
"Saya seperti orang yang tidak punya pegangan. Untunglah saya terus-menerus membaca Al-Qur'an. Akhirnya saya bisa bangkit lagi," tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, hadir pula pengurus FKDT Kabupaten Indramayu, yakni Sekretaris Taufik Hidayat dan Bendahara Ediyanto, serta Ketua BAZNAS Kabupaten Indramayu, Aspuri. Mereka turut menyampaikan penghargaan atas ketulusan dan pengabdian Titin dalam membina pendidikan keagamaan di lingkungannya.
Menurut pihak madrasah, usulan pemberian penghargaan kepada Titin sebenarnya telah lama disampaikan. Namun, demi menjaga kenyamanan dan perasaannya sebagai difabel, penghargaan tersebut tidak diberikan dalam acara besar yang melibatkan banyak orang. Sebagai gantinya, Kantor Kementerian Agama, FKDT, dan BAZNAS Kabupaten Indramayu memilih mendatangi langsung madrasah tempat Titin mengajar.
Sebagai bentuk apresiasi, Titin Maryatin menerima bantuan uang tunai sebesar Rp3 juta beserta sejumlah hadiah lainnya.
Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa dedikasi, ketulusan, dan semangat pengabdian seorang guru akan selalu mendapat tempat dan penghormatan dari masyarakat.
Setidaknya, kisah Titin Maryatin juga menjadi inspirasi bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menjadi penghalang untuk berkarya, mengabdi, dan menebar manfaat bagi sesama.
(sud/sud)