Saat Dapur Rumah Tangga Diuji Kenaikan Harga Bahan Pokok di Indramayu

Saat Dapur Rumah Tangga Diuji Kenaikan Harga Bahan Pokok di Indramayu

Burhannudin - detikJabar
Jumat, 12 Jun 2026 06:30 WIB
Aktivitas jual-beli di Pasar Baru Indramayu, Kamis (11/6/2026) sore.
Aktivitas jual-beli di Pasar Baru Indramayu, Kamis (11/6/2026) sore. (Foto: Burhannudin/detikJabar)
Indramayu -

Di sudut Pasar Baru Indramayu, Karto (55) menata kembali karung-karung rempah dagangannya. Aktivitas itu masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tetapi ada satu hal yang berubah, pembeli kini datang dengan perhitungan yang lebih ketat.

Dalam beberapa pekan terakhir, pria yang akrab disapa Ocang itu merasakan pasar tak lagi seramai biasanya. Menurutnya, masyarakat mulai mengurangi jumlah belanja karena harga sejumlah kebutuhan mengalami kenaikan.

"Yang paling terasa itu bawang putih," ujar Karyo alias Ocang saat ditemui di lapaknya, Kamis (11/6/2026) sore.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika sebelumnya bawang putih dijual sekitar Rp28 ribu per kilogram, kini harganya mencapai Rp35 ribu per kilogram untuk pembelian grosir. Kenaikan juga terjadi pada sejumlah komoditas lain yang dijualnya, mulai dari kemiri, ketumbar, hingga bawang bombai.

ADVERTISEMENT

Meski tidak mengikuti perkembangan ekonomi secara rinci, Ocang menduga kondisi tersebut berkaitan dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang belakangan menjadi perhatian publik. Per hari Kamis, 11 Juni 2026, nilai tukar rupiah dalam satu dolar Amerika Serikat senilai Rp18.000.

Di tengah kenaikan harga, perubahan perilaku pembeli mulai terlihat. Pelanggan yang biasanya membeli dalam jumlah besar kini memilih mengurangi kebutuhan mereka.

Kondisi serupa juga dirasakan Supri (41), pedagang kacang-kacangan di pasar yang sama. Ia melihat banyak pelanggan mulai menyesuaikan pengeluaran mereka.

"Biasanya beli 10 kilogram, sekarang paling 5 kilogram," katanya.

Beberapa jenis kacang yang dijualnya juga mengalami kenaikan harga. Kacang kedelai misalnya, naik dari Rp9.500 menjadi Rp11 ribu per kilogram. Sementara kacang hijau kualitas premium yang didatangkan dari Australia kini mencapai Rp35 ribu per kilogram.

Bagi para pedagang, kenaikan harga bukan selalu berarti keuntungan bertambah. Justru sebaliknya, omzet mereka cenderung menurun karena transaksi yang terjadi tidak sebanyak sebelumnya.

Ocang memilih strategi bertahan yang sederhana: mengurangi margin keuntungan. Ia mengaku hanya mengambil laba tipis agar barang dagangannya tetap terjual dan tidak terlalu lama tersimpan.

"Yang penting barang cepat keluar. Kalau terlalu lama disimpan juga ada risiko rusak," ujarnya.

Situasi itu turut memengaruhi usaha yang telah lama dijalankannya. Dari dua karyawan yang biasa membantu di toko, saat ini hanya satu orang yang masih bekerja. Meski salah satunya sedang cuti, Ocang mengaku tetap khawatir jika kondisi pasar tidak kunjung membaik.

Keresahan serupa dirasakan para pembeli. Ningsih (37), warga Kelurahan Karangmalang, Kecamatan Indramayu, mengaku harus lebih cermat mengatur pengeluaran rumah tangga karena harga sejumlah kebutuhan pokok terus merangkak naik.

Menurutnya, belanja bulanan kini membutuhkan perhitungan yang lebih matang agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

"Mau tidak mau harus lebih hemat dan pintar mengatur uang belanja," katanya.

Bagi Ningsih, harapan terbesar saat ini adalah stabilitas harga kebutuhan sehari-hari. Sebab bagi banyak keluarga, naiknya harga bahan pokok bukan sekadar angka di pasar, melainkan persoalan yang langsung berpengaruh pada dapur rumah tangga.

Sementara di Pasar Baru Indramayu, para pedagang dan pembeli masih menjalani rutinitas seperti biasa. Namun di balik transaksi yang terus berlangsung, tersimpan kegelisahan yang sama: berharap harga-harga segera kembali stabil dan daya beli masyarakat pulih seperti sedia kala.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads