Suara riuh anak-anak terdengar memenuhi Gedung Kesenian Gegesik, Kabupaten Cirebon, Selasa (23/6/2026). Di hadapan mereka, lembaran-lembaran kaca bening tersusun rapi di atas meja. Kuas, cat warna-warni, dan contoh motif khas Cirebon menjadi teman belajar puluhan pelajar yang hari itu mengikuti pelatihan melukis kaca.
Bagi sebagian besar peserta, pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang benar-benar baru. Salah satunya Dinda salah satu siswi yang tampak serius memegang kuas itu mengaku baru pertama kali mengenal seni lukis kaca. Rasa penasaran membuatnya begitu antusias mengikuti setiap materi yang diberikan narasumber. "Ini baru pertama kali tahu kalau ada lukis kaca, jadi saya antusias banget deh pokoknya," ujarnya sambil tersenyum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun semangat itu segera bertemu dengan tantangan. Tidak seperti melukis pada kertas atau kanvas, melukis kaca membutuhkan teknik yang berbeda. Gambar harus dibuat dari sisi belakang dan dikerjakan secara terbalik agar hasil akhirnya terlihat sempurna dari sisi depan.
Bagi Dinda, teknik tersebut cukup membingungkan. Pasalnya teknik melukis baru pertama kali diketahui sehingga cukup sulit bagi siswa. "Tadi pas coba ternyata lumayan susah soalnya lukisannya harus terbalik," katanya.
Meski demikian, kesulitan itu justru menjadi pengalaman yang menyenangkan. Bersama teman-temannya dari tiga kecamatan di Kabupaten Cirebon, Dinda terus mencoba menggoreskan kuas dan memadukan warna di atas permukaan kaca.
Di dalam ruangan, suasana belajar berlangsung hangat. Sesekali terdengar tawa ketika peserta salah menggoreskan cat atau kebingungan menentukan warna. Namun tidak sedikit pula yang terlihat fokus memperhatikan setiap arahan yang diberikan narasumber.
Pelatihan tersebut menghadirkan Pendamping Bidang Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon, Toto, serta seniman lukis kaca asal Kecamatan Gegesik, Bahenda. Keduanya tidak hanya mengajarkan teknik dasar melukis kaca, tetapi juga memperkenalkan sejarah dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Bagi masyarakat Cirebon, seni lukis kaca bukan sekadar karya visual. Kesenian ini merupakan warisan budaya yang telah hidup dan berkembang selama puluhan tahun. Berbagai motif yang dihasilkan sering kali menggambarkan nilai-nilai religius, filosofi kehidupan, hingga kekayaan budaya pesisir Cirebon.
Melalui pelatihan itu, anak-anak diajak mengenal bahwa budaya daerah bukan hanya sesuatu yang dapat dilihat di museum atau buku sejarah, melainkan warisan yang bisa dipelajari, dipraktikkan, bahkan dikembangkan menjadi karya kreatif.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Cirebon, Indra Fitriani, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam mendorong kreativitas anak sekaligus mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda.
Menurutnya, seni dan budaya dapat menjadi media yang efektif untuk membangun karakter anak. "Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan kreativitas, menumbuhkan rasa percaya diri, serta mengenal lebih dekat budaya daerah yang menjadi identitas Kabupaten Cirebon," ujar Fitri.
Ia menilai seni lukis kaca memiliki nilai edukatif, kreatif, sekaligus produktif. Selain menyimpan nilai estetika yang tinggi, kesenian tersebut juga memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan pada masa mendatang. Karena itu, pengenalan seni budaya sejak usia dini dinilai penting agar generasi muda tidak kehilangan kedekatan dengan akar budayanya sendiri.
Pelatihan melukis kaca ini juga menjadi salah satu rangkaian peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 tingkat Kabupaten Cirebon. Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak DPPKBP3A Kabupaten Cirebon, Yuliana, mengatakan momentum HAN menjadi kesempatan untuk menghadirkan lebih banyak ruang partisipasi bagi anak-anak melalui kegiatan yang positif dan bermanfaat.
Di penghujung kegiatan, satu per satu hasil karya mulai terlihat. Meski masih sederhana, setiap lukisan menyimpan cerita tentang keberanian mencoba hal baru dan proses belajar yang penuh kesabaran. Dan di Gedung Kesenian Gegesik hari itu, benih kecintaan terhadap budaya Cirebon mulai tumbuh melalui sapuan kuas kecil di atas selembar kaca.
(iqk/iqk)
