Menelusuri Jejak Pangeran Ramajaksa di Kaki Gunung Ciremai

Menelusuri Jejak Pangeran Ramajaksa di Kaki Gunung Ciremai

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Minggu, 28 Jun 2026 07:30 WIB
Suasana situs Pangeran Ramajaksa Kuningan
Suasana situs Pangeran Ramajaksa Kuningan (Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar)
Kuningan -

Angin sejuk berembus di perbukitan Winduherang, Kecamatan Cigugur, Kuningan. Namun, untuk mencapai ketenangan di sebuah nisan keramat di sana, perjalanan memang menuntut sedikit peluh. Pengunjung harus menaklukkan jalanan menanjak yang cukup curam, sebuah rute yang memaksa setiap pengendara untuk ekstra waspada dan menjaga konsentrasi.

Tepat di bahu jalan setelah tanjakan tersebut, sebuah pintu masuk berdiri bersahaja dengan papan informasi bertuliskan Makam Ramajaksa. Karena letaknya yang memeluk pinggiran bukit, perjalanan belum usai, deretan anak tangga masih harus ditapaki. Di ujung jalan yang menurun, sebuah bangunan tampak bernaung teduh di bawah rimbunnya pohon besar yang menjaga kesunyian area tersebut.

Di dalam bangunan itu, suasana sakral terasa kental. Sebuah makam yang tersusun dari bebatuan nampak rapi, diselimuti kain putih bersih sebagai simbol kesucian. Pada batu nisannya, terukir nama Pangeran Ramajaksa Patikusuma. Lantai keramik yang mengilap di sekelilingnya membuat setiap peziarah wajib menanggalkan alas kaki sebelum melangkah ke area inti makam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Udin, sang juru kunci yang setia menjaga tempat ini, mengisahkan bahwa sosok yang bersemayam di sana bukanlah orang sembarangan. Pangeran Ramajaksa adalah bangsawan Kuningan yang mengalir di darahnya trah Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran, hidup sekitar abad ke-16 Masehi. Sebelum menetap di Winduherang, sang pangeran terlebih dahulu menancapkan pengaruhnya di Luragung.

ADVERTISEMENT

"Ramajaksa lebih tua dibandingkan dengan Sinuhun Adipati Kuningan. Beliau merupakan anak dari Surawisesa yang merupakan anak dari Prabu Siliwangi. Tapi beliau sudah islam. Dulu beliaunya bukan tinggal di sini, tapi di Luragung. Itu dari Luragung ke Winduherang itu hijrah." tutur Udin.

Di Luragung, pengabdiannya yang panjang membuat masyarakat setempat menjulukinya sebagai Ki Gede Kuningan. Namun, sejarah berbelok saat Sunan Gunung Jati tiba di Luragung. Sang Sunan memerintahkan Pangeran Ramajaksa untuk berhijrah ke Winduherang. Misinya jelas: membantu pemerintahan Adipati Kuningan dalam membidani lahirnya padukuhan-padukuhan baru di kaki Gunung Ciremai.

Suasana situs Pangeran Ramajaksa KuninganSuasana situs Pangeran Ramajaksa Kuningan Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar

Winduherang pun menjadi kanvas bagi sang pangeran. Ia tak hanya membangun pemukiman, tetapi juga turun tangan mengajari warga cara bercocok tanam dan menata kehidupan bermasyarakat. Perlahan namun pasti, Winduherang tumbuh menjadi kawasan yang ramai, hingga akhirnya tercatat dalam sejarah sebagai pusat pemerintahan Kuningan di masa lampau.

Udin menambahkan, bukti sejarah kebesaran Winduherang masih bisa dijumpai lewat keberadaan dua situs keramat lainnya. Ada situs penyepuhan yang dulunya menjadi bengkel pembuatan senjata dan keris, serta situs petilasan Ewangga yang menjadi ruang diskusi bagi para pemimpin Kuningan tempo dulu.

"Setelah sudah jadi Ki Gede Kuningan datanglah Sunan Gunung Jati ke sini untuk membentuk sebuah pemerintahan. Pemimpinnya diberi gelar Adipati Kuningan. Di sini membantu untuk membangun pemukiman atau pedukuhan dengan mengajarkan itu bercocok tanam. Dan cikal bakal Kuningan juga adanya di sini pusatnya, di sini," tutur Udin.

Hingga tahun 2026 ini, denyut ziarah di Makam Pangeran Ramajaksa tidak pernah benar-benar sepi. Setiap menjelang Hari Jadi Kuningan, deretan pejabat Pemerintah Kabupaten Kuningan rutin datang untuk nyekar. Ritual ini menjadi bentuk penghormatan takzim kepada sang pendiri padukuhan yang telah meletakkan fondasi bagi berdirinya Kuningan.

"Pusatnya ada di Winduherang. Makanya setiap tanggal 2 September Hari Jadi Kuningan itu Bupati ziarah atau nyekar ke sini. Dulu juga di sini sering ada tradisi kayak Satu Suro. Ada tradisi namanya Golewang mirip kayak pementasan seni budaya, ada juga sedekah Bumi. Cuman sekarang sudah jarang dilakukan," pungkas Udin.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads