Kisah Japra, Penjual Martabak yang Bertahan di Tengah Banjir Rob Eretan

Serba-serbi Warga

Kisah Japra, Penjual Martabak yang Bertahan di Tengah Banjir Rob Eretan

Burhannudin - detikJabar
Rabu, 01 Jul 2026 15:00 WIB
Japra (41), penjual martabak mini di Pasar Tradisional Eretan Wetan.
Japra (41), penjual martabak mini di Pasar Tradisional Eretan Wetan. (Foto: Burhannudin/detikJabar)
Indramayu -

Sengatan matahari sudah terasa sejak sekira pukul 09.00 WIB di Pasar Tradisional Eretan Wetan, Desa Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Selasa (30/6/2026). Di antara aktivitas para pedagang dan pembeli, Japra (41) tampak sibuk memanggang martabak manis mini di gerobak sederhananya.

Bagi Japra, berjualan martabak bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan cara untuk mempertahankan kehidupan keluarganya di tengah ancaman banjir rob yang setiap tahun melanda kampung tempat tinggalnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setiap hari, ia mulai berjualan sekitar pukul 10.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB, atau sampai seluruh adonan habis terjual.

"Saya berjualan dari jam 10 pagi sampai sekitar jam 10 malam atau sehabisnya adonan, kadang sebelum jam 10 sudah balik," ujar Japra, saat ditemui pada Selasa (30/6/2026) pagi.

ADVERTISEMENT

Pria yang berasal dari Desa Eretan Kulon itu kini menetap di Eretan Wetan setelah menikah dengan perempuan setempat.

"Saya aslinya orang Eretan Kulon, nikah sama orang Eretan Wetan, terus tinggalnya di Eretan Wetan," katanya.

Martabak manis mini yang dijualnya dibanderol dengan harga yang terjangkau. Varian keju dijual seharga Rp4.000 per buah, sedangkan rasa kacang dan meses dijual Rp3.000.

Meski pekerjaannya bisa sampai 12 jam setiap hari, penghasilannya tidak selalu besar. Dalam sehari, pendapatan tertinggi yang pernah diperoleh sekitar Rp300 ribu, namun kondisi tersebut tidak sering terjadi.

"Sehari bisa dapat Rp300 ribu, tapi itu jarang, seringnya di bawahnya itu. Di rumah ada anak tiga, ada istri juga. Alhamdulillah yang penting pulang bawa duit," ucapnya lirih.

Namun, tantangan terbesar yang dihadapi Japra bukan hanya soal pendapatan. Sebagai warga Eretan Wetan, ia harus hidup berdampingan dengan banjir rob yang rutin menggenangi kawasan tempat tinggalnya.

Rumahnya menjadi salah satu yang hampir selalu terdampak ketika air laut pasang, terutama saat musim hujan.

"Paling parah itu kalau musim hujan, air laut pasang bisa sampai masuk rumah. Saya kadang-kadang sampai enggak berangkat jualan kalau lagi banjir rob," ungkapnya.

Meski demikian, Japra berusaha tetap bekerja apabila kondisi memungkinkan. Ketika banjir mulai surut menjelang pagi, ia tetap memaksakan diri berangkat ke pasar demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

"Tapi kalau banjir robnya mulai magrib sampai subuh sudah surut, saya paksakan pergi jualan demi (menafkahi) keluarga," katanya.

Di tengah ancaman rob yang tak kunjung usai, Japra memilih bertahan. Baginya, selama masih ada kesempatan untuk berjualan dan membawa pulang penghasilan, harapan untuk keluarganya tetap harus diperjuangkan.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads