Di tengah keterbatasan anggaran serta sarana dan prasarana, berbagai langkah strategis mulai disiapkan. Mulai dari mobilisasi peran pemerintah desa hingga membuka peluang investasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
Setiap hari, Kabupaten Cirebon menghasilkan sekitar 1.200 ton sampah yang bersumber dari rumah tangga, sektor produksi, hingga industri kecil. Namun, kemampuan penanganan yang ada saat ini masih jauh dari kata ideal.
Sebagian sampah memang ditangani secara mandiri oleh masyarakat melalui metode pembakaran atau pengolahan sederhana. Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) hanya mampu mengangkut sekitar 400 ton sampah per hari. Kondisi ini menyebabkan lebih dari 600 ton sampah masih tersisa dan belum terkelola dengan baik setiap harinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi Pemerintah Kabupaten Cirebon. Selain keterbatasan armada pengangkutan, kendala teknis juga kerap muncul di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Gunung Santri maupun TPAS Kubangdeleg. Aksi warga yang menutup akses menuju lokasi pembuangan akibat kerusakan jalan beberapa kali sempat melumpuhkan distribusi sampah, hingga memicu penumpukan di berbagai titik.
Sekretaris Daerah Kabupaten Cirebon Hendra Nirmala menegaskan, penyelesaian kemelut sampah tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah daerah. Menurutnya, camat sebagai ujung tombak wilayah harus memperkuat koordinasi dengan para kuwu agar penanganan sampah dapat diselesaikan sejak dari tingkat desa.
"Konsep penanganan sampah harus dimulai dari tingkat desa, sejalan dengan arahan Gubernur. Karena itu, dibutuhkan konsolidasi yang kuat antara camat dan para kuwu agar persoalan ini dapat diselesaikan dari sumbernya," ujarnya, Rabu (1/7/2026).
Untuk mempercepat langkah penanganan, Pemkab Cirebon menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) yang melibatkan seluruh camat. Forum tersebut dimanfaatkan untuk menginventarisasi berbagai persoalan di lapangan, mulai dari kemunculan titik pembuangan sampah liar hingga kebutuhan sarana pendukung di masing-masing wilayah.
Berbagai solusi sederhana namun efektif kini mulai dikaji. Di antaranya adalah pembangunan pagar pembatas pada lokasi rawan sampah liar, hingga pelibatan petugas hansip untuk melakukan pengawasan intensif di kawasan tersebut.
Di sisi lain, pemerintah juga mulai membangun budaya pengelolaan sampah melalui pembentukan 40 Kampung Bersih yang tersebar di berbagai wilayah.
"Program tersebut ditargetkan hadir minimal satu kampung di setiap kecamatan dan diharapkan menjadi percontohan bagi desa-desa lainnya," tegasnya.
Pemkab Cirebon juga berkomitmen memenuhi kebutuhan sarana, prasarana, serta peralatan pendukung di kampung-kampung tersebut agar sistem pengelolaan sampah dapat berjalan lebih optimal.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Dede Sudiono menjelaskan, di tengah keterbatasan anggaran, pemerintah memilih mengedepankan inovasi yang murah dan mudah diterapkan masyarakat. Salah satunya melalui pemanfaatan lubang biopori untuk mengolah sampah organik.
Masyarakat, khususnya yang bermukim di kawasan perumahan, didorong untuk membuat lubang biopori secara mandiri menggunakan ember plastik bekas wadah ikan yang telah dilubangi.
"Wadah tersebut dapat dimanfaatkan untuk menampung sampah organik sehingga volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir dapat terus dikurangi," ucapnya.
Seluruh masukan yang disampaikan para camat dalam rakor tersebut selanjutnya akan dibahas oleh Tim Kabupaten yang dikoordinasikan langsung oleh Dinas Lingkungan Hidup. Hasil pembahasan ini akan menjadi dasar penyusunan langkah taktis penanganan berikutnya.
Tidak hanya mengandalkan inovasi lokal, pihaknya juga membuka pintu kerja sama dengan investor yang berminat mengembangkan sektor pengelolaan sampah. Bahkan, koordinasi dengan pemerintah pusat terus diperkuat untuk menjajaki pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
"Harapannya, persoalan yang selama ini menjadi beban lingkungan dapat diubah menjadi sumber energi yang bermanfaat. Bagi Kabupaten Cirebon, sampah bukan lagi sekadar limbah yang harus dibuang, melainkan potensi yang dapat diolah menjadi solusi bagi masa depan," bebernya.
Simak Video "Video Pramono Pastikan DKI Siap Bantu Angkut Sampah Tangsel"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
