Nama Kecamatan Cigasong ternyata menyimpan memori kolektif yang jauh melampaui usia administratif Kabupaten Majalengka. Lembaran-lembaran kusam dari dokumen kolonial menjadi saksi bisu bahwa wilayah ini sudah berdenyut sejak abad ke-18, masa di mana nama Majalengka sendiri belum terukir dalam peta pemerintahan.
Tabir sejarah ini disingkap oleh Nana Rohmana, pegiat sejarah yang akrab disapa Naro. Berdasarkan penelusurannya, nama Cigasong sudah muncul dalam laporan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) sekitar tahun 1770-an. Uniknya, penyebutan wilayah ini berkelindan dengan catatan militer mengenai senjata klewang milik seorang perwira kompeni.
"Kalau berdasarkan arsip VOC, Cigasong sudah disebut sekitar tahun 1770-an. Artinya nama wilayah ini sudah dikenal jauh sebelum Kabupaten Majalengka terbentuk," kata Naro kepada detikJabar, Jumat (3/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eksistensi Cigasong di masa lampau memang kontras dengan riwayat Majalengka sebagai entitas administratif. Naro menjelaskan bahwa Kecamatan Majalengka baru menampakkan diri setelah terbitnya Staatsblad tahun 1840, sebuah regulasi yang menandai perombakan struktur pemerintahan kolonial kala itu.
Menengok lebih jauh ke belakang, wilayah yang kini kita kenal sebagai Majalengka dulunya masih berupa kepingan distrik-distrik kecil. Salah satu yang paling menonjol adalah Distrik Sindangkasih, yang di bawah kepemimpinan Tumenggung Natakaria pada rentang 1809 hingga 1819 menjadi bagian penting dari lanskap wilayah tersebut.
"Pada masa itu belum ada konsep Kabupaten Majalengka seperti sekarang. Yang ada masih Distrik Sindangkasih, Distrik Rajagaluh, dan Distrik Talaga. Baru pada 1819 Distrik Sindangkasih digabung dengan Distrik Rajagaluh dan Talaga menjadi Kabupaten Madja," ujarnya.
Meski nama Cigasong muncul lebih awal dalam catatan sejarah, Naro memberikan catatan penting. Hingga saat ini, belum ditemukan bukti otentik yang menempatkan Cigasong sebagai pusat pemerintahan Distrik Sindangkasih. Fokus temuan saat ini lebih menekankan pada senioritas nama wilayah tersebut di mata dunia internasional melalui catatan VOC.
"Kalau disebut pusat Distrik Sindangkasih, saya belum menemukan datanya. Yang jelas, berdasarkan arsip VOC, penyebutan Cigasong memang lebih tua," jelasnya.
Perjalanan menuju lahirnya Kabupaten Majalengka sendiri melewati proses panjang, termasuk perpindahan pusat pemerintahan dan transformasi nama dari Kabupaten Madja. Perubahan besar ini akhirnya dikukuhkan melalui Staatsblad 1840, yang secara resmi memancangkan nama Majalengka di tanah Pasundan.
"Kalau melihat kronologinya, Cigasong memang lebih tua dari Kabupaten Majalengka. Sebab nama Cigasong sudah muncul di arsip VOC, sedangkan Kabupaten Majalengka baru ada setelah perubahan dari Kabupaten Madja pada 1840," pungkasnya.
(dir/dir)
