Menakar Makna Dermawan dari Warung Bubur Cilik di Indramayu

Menakar Makna Dermawan dari Warung Bubur Cilik di Indramayu

Burhannudin - detikJabar
Minggu, 09 Agu 2026 07:30 WIB
Aktivitas Suryani setiap pagi jualan bubur di Sindang, Indramayu.
Aktivitas Suryani setiap pagi jualan bubur di Sindang, Indramayu. (Foto: Burhannudin/detikJabar)
Indramayu -

Langit Desa Sindang masih remang dan udara pagi terasa menggigit saat sebuah gang kecil di samping jasa binatu, Kecamatan Sindang, Indramayu, mulai berdenyut. Jarum jam baru menunjuk angka lima, namun deru mesin sepeda motor dan langkah kaki warga sudah bersahutan menuju satu titik, sebuah kedai sederhana dengan papan nama "Warcil" atau Warung Cilik.

Di sana, di balik kepulan uap putih yang membubung dari panci besar, Suryani (41) sudah berjibaku dengan rutinitasnya. Tangannya bergerak ritmis, menyendok bubur panas ke dalam mangkuk, lalu menghiasinya dengan suwiran ayam, irisan daun bawang, taburan bawang goreng, dan kerupuk sebagai pelengkap. Gerakannya cekatan, sebuah keterampilan yang terasah selama hampir satu dekade melayani pelanggan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, daya tarik Warcil bukan sekadar pada kepulan bubur hangatnya. Di tengah badai kenaikan harga kebutuhan pokok yang kian mencekik pada tahun 2026 ini, Suryani memilih jalan yang berbeda. Ia tetap mematok harga Rp7.000 per porsi.

Bagi sebagian orang, selisih beberapa ribu rupiah mungkin tak berarti banyak. Namun bagi buruh harian, tukang ojek, hingga pensiunan yang harus memutar otak demi dapur tetap mengepul, harga tersebut adalah sebuah kemewahan yang terjangkau.

ADVERTISEMENT

Suryani sendiri tak merasa sedang melakukan aksi heroik. Baginya, ini hanyalah soal keberlangsungan usaha dan sedikit tenggang rasa.

"Yang penting laku. Untungnya sedikit tidak apa-apa, yang penting lancar," ujar Suryani belum lama ini.

Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa pretensi. Tak ada narasi besar tentang pengabdian sosial di baliknya, hanya logika sederhana seorang pedagang kecil yang ingin dagangannya habis dan pelanggannya kenyang.

Aktivitas Suryani setiap pagi jualan bubur di Sindang, Indramayu.Aktivitas Suryani setiap pagi jualan bubur di Sindang, Indramayu. Foto: Burhannudin/detikJabar

Perjuangan Suryani dimulai jauh sebelum matahari terbit. Sejak pukul tiga dini hari, ia sudah berkutat di dapur. Dua jam kemudian, ia sudah siap di depan warung kecilnya. Jika sedang ramai, seluruh dagangannya ludes bahkan sebelum pukul sembilan pagi.

Dari usaha ini, ia membawa pulang pendapatan kotor sekitar Rp200.000 hingga Rp300.000 per hari. Angka yang tergolong pas-pasan jika harus dipotong biaya bahan baku dan kebutuhan hidup. Beruntung, suaminya turut menopang ekonomi keluarga dengan berjualan nasi goreng saat malam tiba. Bersama-sama, mereka berjuang menyekolahkan dua buah hati mereka; si sulung yang baru lulus SMA dan si bungsu yang kini duduk di bangku SMK.

Di tengah himpitan ekonomi, empati Suryani tak lantas luntur. Ia seringkali menutup mata jika ada pelanggan yang datang dengan uang kurang.

"Tidak apa-apa, tetap saya layani," katanya.

Bahkan, ia tak jarang memberikan kelonggaran bagi mereka yang terpaksa berutang demi bisa mengisi perut di pagi hari.

"Ada juga (yang utang)," ujarnya singkat.

Kepercayaan seolah menjadi modal tak kasat mata yang ia tanam di warung itu. Tak heran jika pelanggannya tak hanya datang dari sekitar Sindang. Banyak warga dari desa tetangga rela menempuh perjalanan jauh setelah mendengar cerita dari mulut ke mulut.

Mamat (37), salah satu pelanggan setia, mengakui bahwa keberadaan Warcil sangat meringankan beban dompetnya. Di tempat lain, harga bubur ayam rata-rata sudah menyentuh angka Rp10.000 hingga Rp12.000.

"Sangat membantu. Warga bisa mendapatkan sarapan yang murah tanpa harus pergi jauh," katanya.

Bagi Mamat, murah bukan berarti murahan. Rasa bubur buatan Suryani tetap juara, sehingga ia tak ragu memboyong anak hingga cucunya untuk sarapan di sana.

Senada dengan Mamat, Santi (32) yang kini sudah pindah desa pun tetap menyempatkan diri mampir ke Warcil saat berkunjung ke kampung halamannya.

"Karena enak dan murah," ujarnya singkat. Baginya, meski banyak penjual bubur di tempat tinggalnya yang baru, rasa dan keramahan di warung Suryani tetap tak tergantikan.

Kisah Suryani adalah pengingat bahwa berbagi tak selamanya harus berupa donasi besar atau bantuan tunai. Ada bentuk "sedekah tersembunyi" dalam setiap transaksi dengan pedagang kecil. Saat kita membeli dagangan mereka, kita sedang membantu roda ekonomi mereka tetap berputar.

Sebaliknya, apa yang dilakukan Suryani adalah bentuk "dermawan tersembunyi". Menjual dengan margin keuntungan tipis agar orang lain bisa makan adalah sebuah kemuliaan yang sering luput dari penghargaan formal.

Setiap pagi, semangkuk bubur Rp7.000 itu bukan sekadar pengganjal lapar. Di dalamnya mengalir kerja keras, kepercayaan, dan kepedulian yang dibalut kesederhanaan. Kebaikan terkadang memang tidak hadir dalam kemasan yang megah, melainkan dalam harga yang tetap rendah agar tak ada perut yang dibiarkan lapar.



(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads