Matahari siang itu menyengat di kawasan Pandapa Paramarta, Kuningan. Di tengah keriuhan suasana, seorang pria paruh baya tampak menyeka keringat sambil duduk bersandar pada gerobak pikulnya. Dialah Kusmanto (57), pria asal Cirebon yang menggantungkan hidup pada gurihnya tahu gejrot.
Sebelum pundaknya terbiasa dengan beban pikulan, Kusmanto adalah penakluk ombak. Belasan tahun ia habiskan sebagai nelayan di pesisir Cirebon. Dahulu, laut adalah ladang emas baginya. Sekali melaut, puluhan kilogram hasil laut bisa ia bawa pulang untuk menghidupi keluarga. Namun, kejayaan itu perlahan karam seiring waktu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Modernisasi kapal-kapal besar bermesin mulai merusak ekosistem dan meminggirkan nelayan kecil seperti dirinya. Faktor usia yang kian senja pun membuat fisiknya tak lagi sanggup bergelut dengan kerasnya laut.
"Dulu sih saya rajungan, sehari bisa 4 karung. Sekarang sih cari seember juga susah. Itu kebanyakan perahu. Banyak yang semakin gede, pakainya mesin. Dulu kan pakainya layar, nggak ada mesin zaman dulu. Pakainya dayung Sekarang perahu banyak, penghasilan gak ada. Ikannya berkurang. Sudah tua juga, jadi nafasnya nggak kuat, " tutur Kusmanto.
Terdesak keadaan, Kusmanto menepi dan mencoba peruntungan di Jakarta sebagai pedagang tahu gejrot. Menggunakan gerobak dorong, ia menjajakan kudapan khas daerahnya di pusat ibu kota. Masa itu adalah masa keemasan baginya, di mana pundi-pundi rupiah mengalir deras dari keramaian Monas.
"Bagus banget, Sehari bisa ngantongin Rp 600 sampai Rp 700 ribu. Lumayan. Namanya juga bebas di Monas kan, kotagede. Seporsi Rp10.000, itu zaman dulu, zamannya gubernur Pak Fauzi Bowo," tutur Kusmanto.
Namun, roda nasib kembali berputar. Pandemi COVID-19 beberapa tahun silam memaksanya pulang ke kampung halaman. Tak hanya itu, kerasnya kebijakan penertiban di Jakarta membuatnya harus merelakan modal usahanya hilang begitu saja.
"Ditangkap terus gerobaknya sama Satpol PP. Saya diomelin terus, sudah 2 gerobak ditangkap dan nggak boleh ditebus. Pas corona tuh saya nganggur. Jualan juga pusing, pada gak boleh. Akhirnya pindah ke sini," tutur Kusmanto.
Meski dihantam berbagai cobaan, Kusmanto menolak menyerah. Rasa tanggung jawab terhadap keluarga mendorongnya untuk terus melangkah. Kini, di Kuningan, ia tetap setia menjajakan tahu gejrot. Jika di Jakarta ia menggunakan gerobak dorong, kini ia kembali ke cara tradisional: memikul dagangannya.
Satu hal yang tak pernah ia ubah adalah keaslian resepnya. Kusmanto tetap menggunakan wadah tanah liat yang khas, bumbu ulek segar tanpa bahan pengawet, hingga pasokan tahu yang dikirim langsung dari Jatiseeng, Ciledug. Perpaduan rasa gurih, pedas, dan manis dari gula merah serta cabai uleknya tetap terjaga hingga kini di tahun 2026.
"Bahan-bahannya ya bumbu nih, pakai kecap, bawang, ulek. Nggak ada pengawet. Makanya kuatnya cuma dua hari. Tahunya dari Jatiseeng Ciledug dikirim langsung. Jadi kalau nggak habis ini langsung dibuang tahunya. Harganya cuman Rp 5.000 ribu seporsi," tutur Kusmanto.
Memasuki tahun 2026, tantangan ekonomi terasa kian berat. Penghasilannya kini tak menentu dan jauh merosot dibandingkan masa jayanya di ibu kota. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari yang kian mendesak, Kusmanto kerap menyambi sebagai buruh tani di desanya, menanam padi atau bawang saat tidak berjualan.
"Dulu sih, jualan 1 minggu juga bisa istirahat sebulan. Zamannya sekarang sih ngos-ngosan. Kontrakan juga belum bayar. Kadang dapat Rp 100 ribu, kadang Rp 50 ribu sampai malam. Kalau saya kaya sih gak mau jualan tahu gejrot. Di kampung aja, menanam padi, menanam bawang. Jadi jalani saja," pungkas Kusmanto.
(dir/dir)
