3 Ayat Al-Qur'an tentang Isra Miraj dan Makna di Baliknya

3 Ayat Al-Qur'an tentang Isra Miraj dan Makna di Baliknya

Shifa Lupiah Ajijah - detikJabar
Kamis, 15 Jan 2026 12:30 WIB
Ilustrasi Anak Cerebral Palsy Menghafal Al-Quran
Ilustrasi (Foto: iStock)
Bandung -

Isra Miraj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidilharam menuju Masjidilaqsa, lalu naik ke langit ketujuh menuju Sidratulmuntaha dalam satu malam. Peristiwa agung ini merupakan mukjizat yang melampaui nalar manusia.

Bagi umat Islam, peristiwa ini adalah kebenaran wahyu. Al-Qur'an merekamnya dalam dua surat utama: Al-Isra yang menjelaskan perjalanan horizontal di bumi, dan An-Najm yang menggambarkan perjalanan vertikal menembus langit. Bagaimana bunyi ayat-ayat tersebut dan apa makna mendalam di baliknya?

Surat Al-Isra Ayat 1

Landasan utama peristiwa ini termaktub dalam Al-Qur'an Surat Al-Isra ayat 1. Ayat ini menjadi dalil mutlak untuk menjawab keraguan kaum Quraisy yang mengingkari perjalanan Nabi pada masa itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Allah SWT berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

ADVERTISEMENT

Artinya: Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Merujuk keterangan Kemenag, ayat ini merinci bagaimana perjalanan Isra terjadi. Allah SWT memberkahi Masjidilaqsa dan daerah sekitarnya melalui pengutusan banyak nabi serta kesuburan tanahnya.

Dalam tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab menyebutkan perjalanan ini bermula dan berakhir di masjid. Hal tersebut mengisyaratkan filosofi bahwa perjalanan hidup dan kepatuhan manusia kepada Allah SWT harus senantiasa berpusat di masjid.

Sementara itu, Tafsir Fi Zilal al-Qur'an menyebutkan meski ayat ini hanya eksplisit membahas Isra (perjalanan bumi), maknanya tak terpisahkan dari Miraj. Isra adalah perjalanan malam dari Makkah ke Baitul Maqdis, sedangkan Miraj adalah kenaikan menuju Sidratulmuntaha-alam gaib di luar jangkauan pengetahuan manusia.

Surat An-Najm Ayat 13-18

Jika Surat Al-Isra fokus pada perjalanan horizontal, maka detail perjalanan naik ke langit (Miraj) dijelaskan dalam surat ini. Di sinilah Nabi Muhammad SAW menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah secara langsung.

Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ ۝١٣عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى ۝١٤عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰىۗ ۝١٥اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ ۝١٦مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى ۝١٧لَقَدْ رَاٰى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى ۝١٨

Artinya: Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu ketika) di Sidratulmuntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya. Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak menyimpang dan tidak melampaui (apa yang dilihatnya). Sungguh, dia benar-benar telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang sangat besar.

Ayat ini menjelaskan proses perjalanan Nabi Muhammad SAW saat Isra Miraj menuju ke Sidratul Muntaha. Mengutip Tafsir Fi Zilal al-Qur'an (sebagaimana dirujuk oleh Lu'luil Maknun, 2021), ayat ini menjelaskan perjalanan yang terjadi pada malam Isra Miraj.

Kata as-Sidrah menurut istilah adalah nama pohon, yang bermakna tempat tujuan paling akhir dan tempat berhentinya segala urusan yang naik dari bumi dan segala yang turun dari sisi Allah. Di lokasi inilah Jibril berhenti, dan Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan sendirian untuk menghadap Allah. Lokasi ini merupakan tujuan akhir perjalanan Miraj, atau tempat terakhir kebersamaan Jibril bersama Rasulullah SAW, saat Rasulullah SAW naik ke tingkat lainnya untuk lebih mendekat kepada Arsy Tuhannya.

Ayat, "Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak menyimpang dan tidak melampaui" menjadi penegas bahwa apa yang dilihat Nabi adalah penglihatan yang nyata dan pasti, sebagaimana ditegaskan dalam tafsir.

Mengenai kalimat "ketika Sidratulmuntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya", para mufassir menjelaskan ini sebagai bentuk keagungan yang tak bisa dideskripsikan kata-kata. Cahaya atau kebesaran Allah yang menyelimuti tempat tersebut melampaui kemampuan nalar manusia untuk merincinya.

Semua itu adalah manifestasi dari tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang diyakini sepenuhnya oleh Nabi SAW. Apa yang dilihat Nabi bukanlah tipuan mata, bukan pula penglihatan di luar jangkauan, melainkan pemandangan yang jelas dan pasti. Di situlah Rasulullah melihat dengan jelas tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.

Surat Al-Isra Ayat 78: Perintah Salat Lima Waktu

Inti dari perjalanan menembus Sidratulmuntaha adalah menerima perintah salat lima waktu. Perintah ini kemudian dikukuhkan pelaksanaannya melalui Surat Al-Isra ayat 78.

Allah SWT berfirman:

اَقِمِ الصَّلٰوةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ وَقُرْاٰنَ الْفَجْرِۗ اِنَّ قُرْاٰنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوْدًا

Artinya: Dirikanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh! Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).

Menurut Kemenag, ayat ini menerangkan lima waktu salat. Tergelincirnya matahari menunjukkan waktu salat Zuhur dan Asar, sedangkan gelap malam menunjukkan waktu salat Magrib, Isya, dan Subuh. Hadis Riwayat Ahmad menyebutkan bahwa salat Subuh disaksikan oleh para malaikat yang bertugas pada malam dan siang hari.

Menurut tafsir tahlili yang dikutip dari Qur'an NU, ayat ini memerintahkan agar Rasulullah SAW mendirikan salat sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam, serta salat Subuh. Maksudnya adalah mendirikan salat lima waktu, yaitu Zuhur, Asar, Magrib, Isya, dan Subuh.

Melaksanakan salat lima waktu berarti menunaikannya secara lengkap, memenuhi rukun dan syarat, serta dilakukan terus-menerus baik secara lahiriah maupun batiniah. Secara lahiriah, salat dikerjakan sesuai ketentuan agama. Secara batiniah, salat dilakukan dengan penuh kekhusyukan karena merasakan keagungan Allah yang menciptakan seluruh alam.

Tiga rangkaian ayat ini membentuk narasi utuh mengenai Isra Mikraj. Surat Al-Isra ayat 1 menjelaskan perjalanan Isra, Surat An-Najm menjelaskan perjalanan Mikraj di Sidratulmuntaha, dan Surat Al-Isra ayat 78 menjelaskan tujuan utamanya, yakni perintah salat.

Peristiwa ini mengajarkan bahwa setinggi apa pun manusia mendaki atau sesulit apa pun situasi yang dihadapi, solusinya adalah kembali bersujud. Mari jadikan momentum Isra Mikraj untuk memperbaiki kualitas salat kita, karena di sanalah letak kekuatan dan ketenangan jiwa yang sesungguhnya.

Halaman 2 dari 2
(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads