Cerita Wheels on the Rail Hidupkan Rock Lawas di Trotoar Sukabumi

Cerita Wheels on the Rail Hidupkan Rock Lawas di Trotoar Sukabumi

Fauzan Muhammad - detikJabar
Selasa, 24 Mar 2026 15:30 WIB
Aksi Wheels on the Rail di jalanan Sukabumi.
Aksi Wheels on the Rail di jalanan Sukabumi. (Foto: Fauzan Muhammad)
Sukabumi -

Di balik Jalan Ciwangi, Kota Sukabumi, yang hening saat malam hari, terdapat Wheels on the Rail yang rutin menggelar pertunjukan musik jalanan setiap minggu. Tanpa sokongan daya listrik dan di tempat seadanya, mereka konsisten menyuarakan musik rock 'n' roll era 60-an dan 70-an.

Didirikan pada 2016 oleh Delip, band Wheels on the Rail lahir dari kegelisahannya. Sebagai musisi yang telah mengecap asam garam panggung sejak bangku SMP, Delip merasa ruang bagi genre rock 'n' roll di Sukabumi kian menyempit.

"Agak sulit kita mendapatkan tempat untuk jenis musik seperti ini. Akhirnya kita punya ide, bagaimana kalau bikin di jalan" ujar Delip, selaku leader sekaligus inisiator Wheels on the Rail kepada detikJabar, Senin (23/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Anak-anak muda yang kini kurang mengenal musik lawas menjadi alasan tambahan mereka membawakan genre rock 'n' roll di trotoar jalanan. "Di balik itu juga mungkin generasi sekarang kayaknya tidak mengenal gitu musik-musik lawas, makanya pindah ke jalan juga untuk mempopulerkan lagi" tambah Delip.

ADVERTISEMENT

Meski sudah terbentuk selama hampir satu dekade, aksi turun ke jalan ini baru konsisten dijalani dalam tiga tahun terakhir. Lokasi yang dipilih pun bukan sembarang tempat, melainkan titik berkumpul musisi berbagai genre di Sukabumi sejak tahun 90-an.

"Sebetulnya area sini sudah jadi tempat nongkrong kami dari tahun 95-an. Di sini tidak ada rumah tinggal, hanya deretan toko, jadi tidak mengganggu. Untuk perizinan kami koordinasi dengan RW setempat aja" ujar Delip.

Hal yang paling mencolok dari Wheels on the Rail adalah komitmen mereka menggunakan alat musik rakitan. Penggunaan baterai menjadi sumber energi utama untuk instrumen yang digunakan saat mereka tampil.

"Hampir semua alat yang kita pakai DIY. Kita bikin semua alat dengan konsumsi dayanya dari baterai, jadi kita tidak colok listrik" ungkapnya.

Beberapa instrumen seperti gitar didapatkan dari produk reject pabrik yang kemudian dirakit ulang. Mulai dari gitar, drum, keyboard, hingga tata suara atau sound system adalah hasil kreasi mandiri. Hanya perangkat mixer yang masih menggunakan produk pabrik karena pertimbangan kerumitan proses pembuatannya.

Walaupun membawa bendera rock 'n' roll lawas, Wheels on the Rail secara otomatis bertransformasi menjadi komunitas terbuka. Di setiap penampilannya pada Jumat malam pukul 19.00 hingga 22.00 WIB, penonton yang hadir sangat beragam. Mulai dari generasi tua yang merindukan suasana tahun 70-an, hingga anak-anak muda yang menyukai genre serupa.

Kekuatan media sosial turut melambungkan nama mereka. Salah satu penonton yang terpikat adalah Zidane, pemuda yang mengetahui keberadaan Wheels on the Rail melalui laman Instagram.

"Awalnya nggak sengaja pas lagi scroll, muncul video pertunjukkan musik jalanan, dan kebetulan lagu-lagu yang mereka bawakan adalah genre yang saya suka, jadi saya coba untuk lihat langsung ke lokasi" ujar Zidane.

Wheels on the Rail juga membuka ruang bagi musisi dari luar kota seperti Jakarta, Bandung, dan Tangerang untuk sekadar jamming atau berkolaborasi. "Kita bebas aja, ini adalah bentuk ekspresi. Siapa pun boleh ikut bergabung asalkan konfirmasi terlebih dahulu" pungkas Delip.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads