Dentuman gitar dan semangat panggung tak pernah benar-benar padam bagi Mighty Finger. Band rock alternatif asal Sukabumi ini memilih bertahan, meski harus melewati jalan panjang-termasuk mengganti identitas demi tetap bisa tampil di panggung internasional.
Perjalanan mereka tak selalu mulus. Band yang berdiri sejak 2003 itu awalnya dikenal dengan nama Middle Finger. Namun, nama tersebut justru menjadi batu sandungan ketika mereka mulai merambah panggung luar negeri.
"Waktu itu kita beberapa kali dapat penolakan karena nama Middle Finger dianggap terlalu kasar," ujar vokalis Mighty Finger, Wet Irawanda kepada detikJabar, Minggu (5/4/2024).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keputusan besar pun diambil pada 2009. Mereka sepakat mengganti nama menjadi Mighty Finger-sebuah perubahan yang tidak hanya soal estetika, tetapi juga harapan baru.
Nama baru itu dipilih bukan tanpa makna. Jika 'Middle' dimaknai sebagai tengah, maka 'Mighty' diartikan sebagai kekuatan. Harapannya, band ini bisa tampil lebih kuat dan diterima lebih luas.
Namun, rebranding bukan perkara mudah. Mereka harus menghadapi kebingungan publik yang mengira Mighty Finger dan Middle Finger adalah dua band berbeda.
"Masih banyak yang belum tahu kalau ini band yang sama. Jadi kita pelan-pelan mengenalkan lagi, baik lewat media sosial maupun saat manggung," katanya.
Kini, Mighty Finger tetap melangkah dengan formasi inti yang tersisa. Chandra dan Kiki masih mengisi gitar, sementara posisi bass dan drum diperkuat oleh Ogit dan Abay. Meski beberapa personel lama tak lagi aktif, pintu untuk reuni selalu terbuka.
Di tengah perjalanan itu, mereka terus berkarya. Bahkan, Mighty Finger telah merilis dua klip video sekaligus sebagai bagian dari karya terbaru mereka.
Dua lagu yang diangkat masih berada dalam benang merah tema 'Broken Heart Warrior'-kisah percintaan dan kehidupan yang dekat dengan keseharian.
Salah satunya berjudul "Usai", yang menceritakan tentang hubungan yang harus berakhir. Sementara "Maafkan" berkisah tentang keputusan meninggalkan seseorang karena perbedaan yang tak lagi bisa disatukan. Meski tetap berada di jalur rock alternatif, warna musik mereka kini terasa lebih dewasa.
"Sekarang lebih damai saja, mungkin karena faktor usia juga. Nggak terlalu yang keras seperti dulu," ujarnya.
Perjalanan Mighty Finger menuju panggung besar pun ditempuh tanpa ambisi berlebihan. Mereka memilih tampil dari panggung ke panggung, tanpa memandang besar atau kecilnya acara.
"Kalau ada panggung kecil kita jalan, panggung besar juga kita jalan. Istilahnya door to door," katanya.
Langkah itu membawa mereka hingga ke luar negeri, termasuk tampil di Malaysia dan sempat merencanakan tur ke Jepang sebelum pandemi COVID-19 menghentikan langkah tersebut.
Dalam waktu dekat, mereka dijadwalkan tampil di salah satu festival musik di Sukabumi pada 19 April mendatang-sebuah momentum untuk kembali menyapa publik lokal.
Di tengah banyak band yang memilih hijrah ke kota besar, Mighty Finger justru tetap setia pada Sukabumi. Bagi mereka, kota ini bukan sekadar tempat lahir, melainkan juga bagian dari identitas.
"Kita besar di Sukabumi, jadi ingin ikut membesarkan Sukabumi juga. Biar orang tahu, ini loh band dari Sukabumi," ucapnya.
Meski begitu, mereka mengakui masih ada tantangan, terutama soal apresiasi terhadap band lokal yang dinilai belum maksimal.
Namun bagi Mighty Finger, bertahan adalah pilihan. Sebab bagi mereka, musik bukan sekadar panggung-melainkan perjalanan panjang yang terus diperjuangkan, dari Sukabumi untuk lebih banyak telinga di luar sana.
Simak Video "Video: Sempat Bertahan Hidup Sebelum Akhirnya Tewas Tertimbun Longsor di Sukabumi"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
