Cadas Pangeran Sumedang, Sejarah Berdarah dan Ancaman Longsor Abadi
Di balik hiruk-pikuk jalur penghubung Bandung-Sumedang, tersimpan kisah getir yang membentuk identitas sejarah Jawa Barat. Cadas Pangeran, tebing batu yang menjulang di barat daya Sumedang, bukan sekadar lintasan jalan biasa. Kawasan ini adalah saksi bisu penderitaan rakyat sekaligus dinamika alam yang terus bergejolak hingga kini.
Sejarah Cadas Pangeran
Cadas Pangeran merupakan bagian dari jalur legendaris Jalan Raya Pos (De Groote Postweg) yang dibangun pada awal abad ke-19 di bawah komando Herman Willem Daendels. Jalan sepanjang lebih dari 1.000 kilometer ini membentang dari Anyer hingga Panarukan, sebuah proyek ambisius kolonial untuk mempercepat mobilitas militer dan logistik.
Namun, pembangunan di wilayah Sumedang menemui tantangan geografis yang ekstrem. Tebing curam dan batuan cadas yang keras membuat proses pengerjaan sangat menyiksa. Jalan yang dipahat di atas lereng curam dengan jurang menganga di sisinya menciptakan risiko kecelakaan yang sangat tinggi. Kondisi tanah cadas yang keras namun rawan longsor saat jenuh air memperparah situasi, terutama ketika musim penghujan tiba.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam prosesnya, ribuan pekerja dari Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Subang, hingga Indramayu dikerahkan melalui sistem kerja paksa atau rodi. Mereka bekerja dengan alat seadanya, jam kerja yang tidak manusiawi, serta dukungan logistik yang minim. Tak terhitung jumlah pekerja yang tewas akibat kelelahan, kelaparan, hingga serangan wabah malaria.
Tragedi kemanusiaan ini meninggalkan jejak kelam berupa kuburan massal di sepanjang jalur Cadas Pangeran. Catatan sejarah dan kesaksian masyarakat lokal menyebutkan, penemuan tulang-belulang pekerja menjadi bukti nyata besarnya pengorbanan nyawa dalam proyek tersebut.
Di tengah penindasan itu, muncul sosok Pangeran Kusumadinata IX yang dikenal dengan julukan 'Pangeran Kornel'. Ia berdiri sebagai pemimpin yang menentang keras kebijakan kerja paksa Daendels. Kemarahan Pangeran Kornel dipicu oleh banyaknya rakyat yang menjadi korban tanpa perlindungan yang layak.
Legenda yang melegenda menyebutkan, saat Daendels meninjau proyek tersebut, terjadi peristiwa simbolik: Pangeran Kornel menyambut sang Gubernur Jenderal dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya memegang hulu keris. Tindakan ini diyakini sebagai bentuk perlawanan berani terhadap kebijakan kerja rodi yang menindas. Kisah ini abadi dalam memori kolektif masyarakat Sumedang sebagai simbol harga diri.
Meski demikian, kisah ini masih memicu perdebatan di kalangan sejarawan. Beberapa sumber mengategorikan peristiwa tersebut sebagai legenda rakyat karena ketiadaan catatan resmi kolonial. Bahkan, terdapat indikasi bahwa Daendels telah meninggalkan Hindia Belanda sebelum proses pembelahan cadas selesai pada 1812.
Terlepas dari kontroversi sejarahnya, narasi heroik Pangeran Kornel tetap hidup sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme. Sosoknya diabadikan dalam monumen di kawasan Cadas Pangeran yang menggambarkan adegan jabat tangan penuh ketegangan tersebut.
Jejak sejarah Cadas Pangeran juga terekam dalam toponimi wilayah. Nama kampung seperti Singkup (dari kata sekop) dan Pamucatan (tempat melepas kerbau) menjadi bukti linguistik aktivitas pekerja di masa lalu. Nama Cadas Pangeran sendiri merupakan perpaduan antara kondisi geografis batuan cadas dan penghormatan terhadap perjuangan sang pangeran.
Update Kondisi Terkini dan Ancaman Longsor
Di balik nilai historisnya, Cadas Pangeran tetap menjadi kawasan dengan tingkat kerentanan longsor yang tinggi. Struktur batuan cadas dan kemiringan lereng yang ekstrem membuat wilayah ini rawan pergerakan tanah, terutama saat intensitas hujan meningkat.
Secara geologis, longsor di kawasan ini dipicu oleh kombinasi pelapukan batuan, infiltrasi air, dan gravitasi. Saat tanah jenuh air, daya ikatnya melemah sehingga memicu runtuhan material dari tebing setinggi puluhan meter.
Catatan kelam mencatat longsor besar pernah melumpuhkan jalur ini selama berbulan-bulan pada tahun 1995. Peristiwa serupa terulang pada tahun 2000, hingga akhirnya kawasan ini ditetapkan sebagai zona merah rawan bencana.
Peristiwa terbaru dilaporkan terjadi di kawasan Cadas Pangeran, Kabupaten Sumedang, pada Rabu, 8 April 2026 (Data tahun perlu verifikasi ulang redaksi). Hujan deras yang mengguyur sejak sore hari memicu runtuhan tebing yang menutup total badan jalan.
Material longsor berupa tanah, bongkahan batu, dan vegetasi dari lereng setinggi 30 meter menimbun akses utama. Akibatnya, arus lalu lintas dari kedua arah lumpuh total.
Kepala Pelaksana BPBD Sumedang menyatakan tim gabungan telah diterjunkan ke lokasi untuk asesmen dan penanganan darurat. Alat berat dikerahkan untuk mengevakuasi material, meski petugas harus ekstra waspada terhadap potensi longsor susulan.
Titik longsor juga dilaporkan terjadi di jalur Cadas Pangeran bawah, tepatnya di Desa Cigendel, Kecamatan Pamulihan. Material longsor yang membawa rumpun bambu dan pohon aren menutup badan jalan, memaksa kendaraan dialihkan ke jalur alternatif Cadas Pangeran atas atau Tol Cisumdawu.
(tya/tya)
