Sebaran Ikan Sapu-sapu di Jabar: Dari Cimanuk ke Ciliwung

Infografis

Sebaran Ikan Sapu-sapu di Jabar: Dari Cimanuk ke Ciliwung

Tim detikJabar - detikJabar
Kamis, 23 Apr 2026 16:17 WIB
Warga menjaring ikan di kali Cengkareng, Jakarta Barat, Selasa (4/5/2021). Kegiatan mencari ikan ini dilakukan sejak pagi hingga sore hari.
Infografis Sebaran Ikan Sapu-sapu di Jabar. (Foto: Visual infografis diolah menggunakan NotebookLM)
Bandung -

Kehadiran ikan sapu-sapu (Loricariidae) di perairan tawar Jawa Barat kini bukan lagi sekadar pemandangan biasa, melainkan fenomena ekologis yang menarik perhatian para peneliti.

Sebagai spesies asing invasif (SAI) yang berasal dari Sungai Amazon, Amerika Selatan, ikan ini menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa di berbagai tipe perairan Jawa Barat, mulai dari hulu sungai yang deras hingga danau yang tercemar limbah domestik.

Jejak di Timur Jabar: Ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk

Salah satu wilayah sebaran utama ikan sapu-sapu di Jawa Barat adalah Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Meydia Aliviane Yuanda, dkk. (2012) dalam jurnal berjudul "Struktur Komunitas Ikan di Hulu Sungai Cimanuk Kabupaten Garut", spesies Hyposarcus pardalis telah teridentifikasi menghuni wilayah hulu, tepatnya di Stasiun I Desa Cisurupan dan Stasiun II Desa Karya Jaya, Garut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi ini menunjukkan ikan sapu-sapu mampu menduduki wilayah perairan yang relatif dekat dengan mata air. Bergerak ke arah hilir, populasi ini semakin mapan.

Riset dilakukan Titin Herawati, dkk. (2020) berjudul "Struktur Komunitas Ikan di Hilir Sungai Cimanuk Provinsi Jawa Barat pada Musim Penghujan" mengonfirmasi bahwa ikan sapu-sapu mendominasi hingga ke wilayah Majalengka dan Indramayu. Di hilir Cimanuk, ikan introduksi ini mencakup sekitar 23% dari total populasi ikan yang ditemukan, di mana sifatnya yang invasif mulai mengancam keberadaan ikan asli (indigenous).

ADVERTISEMENT
5 Cara Membasmi Ikan Sapu-sapu di Sungai, Hama Invasif Pengancam EkosistemIkan Sapu-sapu (Foto: Juan Carlos Caicedo Hernández/iNaturalist/CC BY 4.0)

Benteng di Bogor dan Jakarta: Fenomena DAS Ciliwung & Situ Citatah

Di wilayah Jawa Barat bagian Barat, sebaran ikan sapu-sapu mencapai puncaknya di DAS Ciliwung yang melintasi Bogor dan Depok sebelum bermuara di Jakarta. Dr. Dewi Elfidasari (2020) dalam bukunya "Yuk Mengenal Ikan Sapu-sapu Sungai Ciliwung" menjelaskan sungai ini menyediakan lingkungan yang sangat cocok bagi spesies Pterygoplichthys pardalis.

Ikan sapu-sapu di Ciliwung tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga membentuk koloni pemijahan dengan menggali lubang-lubang di lereng bantaran sungai. Keberadaan mereka didukung oleh toleransi yang tinggi terhadap kadar oksigen rendah dan paparan logam berat, kondisi yang sering ditemukan di perairan yang tercemar limbah domestik.

Selain sungai, ekosistem danau atau situ di Jawa Barat juga tak luput dari invasi. Penelitian oleh Jeniarty Rani Saranga, dkk. (2024) yang bertajuk "Optimalisasi Pemanfaatan Situ Citatah Kabupaten Bogor Berbasis Kondisi Ekologis" mengungkapkan ikan sapu-sapu (Pterygoplichtys pardalis) telah menjadi salah satu spesies yang mendominasi perairan Situ Citatah, Kabupaten Bogor.

Temuan ini mengkhawatirkan karena kondisi air Situ Citatah telah masuk kategori tercemar sedang, namun populasi ikan sapu-sapu tetap stabil sementara ikan asli mulai berkurang.

Mengapa Jawa Barat Begitu 'Ramah' bagi Ikan Sapu-sapu?

Keberhasilan ikan sapu-sapu mengolonisasi perairan Jawa Barat didorong oleh beberapa parameter lingkungan kunci:

  1. Toleransi Pencemaran: Ikan ini mampu hidup di perairan dengan nilai BOD (Biochemical Oxygen Demand) dan kandungan fosfat yang tinggi, seperti yang ditemukan di Situ Citatah dan hilir Cimanuk.
  2. Ketersediaan Pakan: Sebagai pemakan segalanya (eurifagik), ikan sapu-sapu memanfaatkan alga, plankton, hingga detritus (sampah/bangkai) yang melimpah di sungai-sungai Jabar akibat eutrofikasi (proses perkembangbiakan tumbuhan air dengan cepat).
  3. Ketiadaan Predator Alami: Di habitat barunya, ikan sapu-sapu memiliki sedikit predator pemangsa, yang menyebabkan nilai kepadatan populasinya bisa mencapai rata-rata 58 individu/m² di titik-titik tertentu.
  4. Karakteristik Fisik Perairan: Ikan sapu-sapu menyukai perairan dangkal dengan substrat lumpur berpasir dan arus yang lambat hingga sedang, ciri khas yang banyak ditemui di bagian tengah hingga hilir sungai-sungai di Jawa Barat.
Ikan sapu yang mati di Sungai Cilamaya.Ikan sapu (Foto: Irvan Maulana/detikJabar)

Dampak Ekologis terhadap Ikan Asli Jawa Barat

Dominasi ikan sapu-sapu membawa dampak negatif yang signifikan. Mereka menjadi kompetitor handal bagi ikan asli dalam memperebutkan sumber pakan dan ruang hidup. Hal tersebut memicu terjadinya penurunan keanekaragaman hayati lokal di sungai-sungai utama Jabar seiring dengan meningkatnya populasi ikan asing ini.

Sebaran habitat ikan sapu-sapu di Jawa Barat telah mencakup wilayah yang sangat luas, dari Garut hingga Bogor. Penanganan yang terintegrasi diperlukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem perairan tawar agar ikan-ikan asli Jawa Barat tidak semakin terpinggirkan oleh invasi 'sang penyedap dasar air' ini.

Respons Gubernur Jabar Dedi Mulyadi

Fenomena membeludaknya populasi ikan sapu-sapu di berbagai wilayah saat ini dipandang sebagai peringatan darurat bagi kesehatan ekosistem air. Menurut Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, keberadaan ikan ini merupakan indikator nyata kualitas air sungai telah merosot tajam, karena spesies ini mampu berkembang biak secara masif di lingkungan yang tercemar berat.

"Ikan sapu-sapu untuk seluruh daerah ya ambil saja, tangkap saja dan kemudian sapu-sapu itu kan tumbuh mana kala sungainya sudah mengalami penurunan kualitas," ujar Dedi.

Dominasi ikan sapu-sapu menandakan ketimpangan ekologis di mana ikan endemik lokal tidak mampu bertahan di air yang kotor dan akhirnya mati.

"Jadi kalau sungai mengalami penurunan kualitas, maka sungai yang hidup hanya sapu-sapu," ucapnya.

Sebagai solusi permanen, Dedi merumuskan dua strategi utama yang harus dijalankan beriringan. "Jadi kalau ingin menghilangkan sapu-sapu ada dua hal, pertama sapu-sapunya harus diangkat, kedua kualitas airnya harus diperbaiki agar ikan endemiknya hidup lagi," tutur Dedi.

Saat ini, upaya penangkapan ikan tersebut sudah mulai dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. "Kalau selama ini ikan sapu-sapu sudah diambil sama warga Jabar," kata Dedi.




(bbp/bbp)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads