Film Para Perasuk tengah jadi perbincangan hangat di kalangan pecinta film lokal. Disutradarai oleh Wregas Bhanuteja, film ini mengangkat cerita tentang budaya kerasukan di suatu desa, yang juga sarat dengan nilai kritik sosial.
Para Perasuk merupakan hasil kolaborasi lintas negara antara Rekata Studio bersama Momo Film Co. Singapura dan dukungan hibah dari Purin Pictures Thailand. Antusiasme penonton pun sudah terlihat dari rating awal di IMDb yang menyentuh angka 8.0 dari 10.
Para Perasuk dijadwalkan tayang serentak mulai 23 April 2026 di bioskop tanah air. Penasaran seperti apa cerita di balik tradisi kerasukan yang diangkat film ini? Yuk simak ulasan lengkapnya berikut ini!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sinopsis Film Para Perasuk
Para Perasuk mengisahkan Bayu, seorang pemuda dari Desa Latas yang ingin menjadi perasuk andal. Di desanya, tradisi pesta kerasukan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual, tetapi juga menjadi hiburan yang menyatukan warga.
Keberadaan mata air keramat menjadi pusat dari tradisi tersebut. Mata air itu dipercaya sebagai sumber kekuatan bagi para perasuk untuk terhubung dengan roh. Namun, kondisi mulai berubah ketika mata air itu terancam digusur oleh pihak luar yang memiliki kepentingan tertentu.
Bayu kemudian bertekad mengambil peran penting dalam upaya menyelamatkan desanya. Ia ingin menjadi Perasuk Utama dalam pesta sambetan besar yang akan digelar. Melalui acara tersebut, ia berharap dapat mengumpulkan dana untuk mempertahankan mata air keramat agar tetap menjadi milik warga.
Perjalanan Bayu tidak mudah. Ia harus menjalani berbagai proses yang menguji fisik dan mental. Dalam proses tersebut, ia mulai memahami bahwa menjadi perasuk tidak cukup hanya dengan keberanian. Ada tanggung jawab besar yang harus diemban, termasuk menjaga kepercayaan masyarakat.
Konflik semakin terasa ketika tekanan dari luar semakin kuat. Bayu harus dihadapkan pada pilihan yang tidak sederhana. Ia harus menentukan langkah yang akan memengaruhi masa depan dirinya dan juga keberlangsungan tradisi di desanya.
Daftar Pemeran Para Perasuk
Angga Yunanda sebagai Bayu
Maudy Ayunda sebagai Laksmi
Anggun C. Sasmi sebagai Guru Asri
Chicco Kurniawan sebagai Pawit
Bryan Domani sebagai Ananto
Indra Birowo sebagai Bapak Bayu
Ganindra Bimo sebagai Fahri
Ivonne Dahler sebagai Bu Nana
Muhammad Asyrof Al-Ghifari sebagai Cafe Visitor
Buyung Ispramadi sebagai Pelamun Senior
R.A. Untung Basuki sebagai Pak Dawuri
Aryudha Fasha sebagai Bang Yoga
Yudi Ahmad Tajudin sebagai Pakde Rahmat
Nina R. Sartono sebagai Tante Bayu
Reza Rusandi sebagai Sepupu Bayu
Abita Raihan Daffa sebagai Sepupu Bayu
Aimee Janice sebagai Sepupu Bayu
Darmawan Dadijono sebagai Kakek Banar
Fakta-fakta Menarik Film Para Perasuk
1. Totalitas Angga Yunanda
Peran Bayu yang dimainkan oleh Angga Yunanda menuntut kesiapan fisik dan mental. Ia menjalani latihan intensif selama dua bulan untuk mempelajari gerakan melintah yang menjadi bagian penting dalam film.
"Selama dua bulan belajar, belajar melintah sampai perutnya keram gitu ya. Tapi setelah belajar ini lebih banyak aku jadi ngerasa oke lebih berpasrah diri gitu," kata Angga dalam konferensi pers, sebagaimana dilansir dari detikpop, Senin (20/4/2026).
Ia juga menghadapi tantangan saat harus memainkan alat musik tradisional khas Jawa Timur, yakni slompret, yang kerap digunakan dalam kesenian Reog. Angga harus memainkan slompret dalam posisi tubuh terbalik.
"Bayu main slompret sambil terbalik. Gue kayak, 'Oke, gue harus nyiapin tenaga gue gitu untuk bisa stabil gitu memainkan slompret sambil terbalik berjam-jam'," ujarnya.
2. Libatkan 1.000 Figuran
Para Perasuk menjadi proyek dengan skala produksi terbesar bagi sang sutradara, Wregas Bhanuteja. Pasalnya, dua film pertamanya, yakni Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti, dibuat dalam budget yang terbatas.
Film Para Perasuk melibatkan sekitar 1.000 figuran, yang di dalamnya termasuk 200 penari serta 40 stuntman. Proses syuting berlangsung selama satu bulan di Gunung Kidul dengan penggunaan dua kamera.
Jumlah pemain yang besar tersebut membuat kebutuhan logistik, termasuk konsumsi harian, menjadi tantangan tersendiri selama proses produksi berlangsung.
3. Jadi Manusia Silver
Angga juga menghadapi tantangan saat menjalani adegan sebagai manusia silver. Proses makeup yang digunakan cukup rumit dan membutuhkan waktu panjang.
"Lebih berat pas jadi manusia silver. Bersihinnya susah, teknisnya rumit," ungkap Angga.
Ia bahkan sempat mengalami efek sisa glitter yang menempel selama beberapa hari setelah proses syuting selesai.
4. Film Perdana Anggun C. Sasmi
Kehadiran Anggun C. Sasmi menjadi salah satu daya tarik dalam film ini. Para Perasuk menjadi debutnya di film Indonesia setelah lama dikenal sebagai penyanyi internasional.
Sebelumnya, ia pernah mendapat tawaran untuk bermain dalam film The World Is Not Enough, tetapi memilih fokus pada karier musik. Dalam film ini, ia memerankan Guru Asri yang membimbing para perasuk.
5. Mantra Dibuat Secara Spontan
Salah satu elemen yang membuat suasana film ini terasa kuat datang dari penggunaan mantra roh binatang yang terdengar unik. Anggun C. Sasmi mengungkapkan bahwa proses pembuatan mantra dilakukan secara spontan tanpa persiapan teknis.
"Hanya satu kali take untuk tiap rekaman mantra di film Para Perasuk. Tidak ada lirik, tidak ada notasi. Saya diminta hanya merespon saja musik yang telah dibuat dengan suara yang ada di imajinasi saya sesuai dengan roh tiap binatang," ujarnya dalam akun Instagram pribadinya.
Setiap mantra direkam hanya dalam satu kali pengambilan tanpa pengulangan. Total, terdapat 20 mantra roh binatang yang Anggun ciptakan untuk mendukung atmosfer supranatural dalam film Para Perasuk.
6. Berjaya di Kancah Internasional
Para Perasuk berhasil masuk dalam kompetisi World Cinema Dramatic di Sundance Film Festival 2026. Film ini bersaing dengan sembilan karya dari berbagai negara dalam kategori bergengsi untuk film non bahasa Inggris.
Saat penayangan, film ini mendapat sambutan meriah dari penonton berupa standing ovation. Film ini juga dijadwalkan tampil di Fantaspoa Film Festival.
"Saya ingin mengumumkan bahwa Para Perasuk baru saja terpilih di satu festival film lagi di Brazil," ujar Wregas.
Sebelumnya, film ini juga meraih CJ ENM Award dalam ajang Busan International Film Festival 2024 melalui Asian Project Market. Dari ratusan proyek yang mendaftar, hanya sebagian kecil yang berhasil terpilih dan mendapatkan penghargaan tersebut.
Demikian ulasan mengenai sinopsis film Para Perasuk, jadwal tayang, serta fakta-fakta menarik di balik pembuatannya. Selamat menonton!
(tya/tya)