Indonesia segera memiliki observatorium astronomi modern yang digadang-gadang menjadi salah satu fasilitas pengamatan antariksa terbaik di Asia. Fasilitas tersebut berada di kawasan Observatorium Nasional Gunung Timau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang saat ini tengah dipercepat penyelesaiannya oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Observatorium ini diproyeksikan menjadi pusat riset astronomi dan antariksa terbesar di Indonesia, bahkan disebut memiliki teleskop terbesar di Asia Tenggara. Kehadirannya juga diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam kolaborasi riset internasional di bidang astronomi dan eksplorasi luar angkasa.
Selama ini, masyarakat lebih mengenal Observatorium Bosscha di Lembang, Jawa Barat, sebagai pusat pengamatan bintang paling terkenal di Indonesia. Namun, Observatorium Timau disebut akan menghadirkan teknologi dan kapasitas yang jauh lebih modern untuk mendukung penelitian antariksa masa depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Observatorium Timau Diproyeksikan Jadi yang Terdepan di Asia
Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan pembangunan observatorium di Gunung Timau terus dipercepat agar dapat segera beroperasi penuh.
Menurutnya, fasilitas tersebut memiliki peran strategis dalam memperkuat riset antariksa nasional sekaligus mendukung pengembangan spaceport Indonesia di Biak, Papua.
"Kami ingin teleskop ini segera dirampungkan dan beroperasi penuh, karena akan menjadi fasilitas strategis bagi penguatan riset antariksa Indonesia. Sekaligus mendukung pengembangan spaceport nasional di Biak Papua," ujar Arif saat melakukan kunjungan kerja di Gunung Timau, Kupang, Kamis (7/5/2026).
Saat ini, progres pembangunan teleskop di Observatorium Nasional Timau disebut telah mencapai sekitar 95 persen. BRIN pun mendorong agar seluruh tahapan penyelesaian bisa segera dituntaskan sehingga observatorium dapat mulai digunakan untuk berbagai penelitian astronomi dan antariksa.
Observatorium Nasional Timau di Desa Bitobe, Kecamatan Amfoang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (4/2/2024). (Yufengki Bria/detikBali) Foto: Observatorium Nasional Timau di Desa Bitobe, Kecamatan Amfoang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (4/2/2024). (Yufengki Bria/detikBali) |
Miliki Teleskop Terbesar di Asia Tenggara
Salah satu daya tarik utama Observatorium Timau adalah keberadaan teleskop raksasa yang diklaim menjadi terbesar di Asia Tenggara. Fasilitas ini nantinya akan digunakan untuk pengamatan benda langit dengan kemampuan yang jauh lebih canggih dibanding observatorium yang sudah ada sebelumnya di Indonesia.
Research Fellow Pusat Riset Antariksa BRIN, Andre Pandie, menjelaskan bahwa teleskop dengan spesifikasi serupa saat ini hanya dimiliki oleh dua negara di dunia, yakni Jepang dan Indonesia.
"Observatorium ini nantinya diharapkan menjadi fasilitas pendukung utama dalam operasional dan pengembangan aktivitas antariksa nasional," kata Andre.
Ia juga menambahkan bahwa posisi Indonesia yang berada di kawasan khatulistiwa menjadi keuntungan besar untuk pengamatan luar angkasa.
"Posisi kita yang strategis di khatulistiwa juga menjadi spot yang ideal untuk pengamatan luar angkasa. Karena itu sudah ada kerja sama internasional, dan akan ada kerja sama berikutnya yang menunggu bila teleskop ini sudah beroperasi," pungkasnya.
Lokasi di wilayah khatulistiwa memang dinilai sangat ideal untuk observasi astronomi karena memungkinkan pengamatan benda langit dari belahan bumi utara maupun selatan secara lebih optimal.
Observatorium Nasional (Obnas) Timau di NTT Foto: (Dokumentasi BRIN) |
BRIN Perkuat Ekosistem Riset Antariksa
Tidak hanya fokus pada pembangunan teleskop utama, BRIN juga menyiapkan penguatan ekosistem riset di kawasan observatorium tersebut. Langkah ini dilakukan agar fasilitas yang dibangun tidak hanya menjadi simbol teknologi, tetapi juga benar-benar mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan riset jangka panjang.
Arif Satria menekankan pentingnya penambahan tenaga peneliti dan revitalisasi berbagai fasilitas penunjang, termasuk gedung magnetometer yang berfungsi mendukung penelitian geomagnetik dan aktivitas antariksa lainnya.
"Tidak hanya membangun teleskop, kami juga perlu memperkuat ekosistem risetnya. Penambahan peneliti dan revitalisasi gedung magnetometer menjadi bagian penting untuk mendukung operasional observatorium secara optimal," tuturnya.
Dengan penguatan ekosistem tersebut, Observatorium Timau diharapkan dapat menjadi pusat penelitian astronomi modern yang mampu menarik kolaborasi ilmiah dari berbagai negara.
Akses Jalan Menuju Observatorium Juga Jadi Perhatian
Selain pembangunan fasilitas utama, BRIN juga menyoroti pentingnya infrastruktur penunjang menuju kawasan observatorium. Kepala BRIN meminta Pemerintah Kabupaten Kupang turut mendukung pengembangan akses jalan menuju Gunung Timau.
Menurut Arif, akses yang memadai sangat penting agar kawasan observatorium tidak terisolasi dan memudahkan aktivitas penelitian maupun kunjungan ilmiah.
"Observatorium ini memiliki peran strategis bagi riset antariksa Indonesia. Karena itu, akses jalannya juga harus diperkuat agar kawasan ini tidak terisolasi," ucapnya.
Perbaikan infrastruktur di sekitar observatorium dinilai akan memberikan dampak positif tidak hanya bagi dunia riset, tetapi juga bagi pengembangan wilayah dan potensi wisata edukasi di Nusa Tenggara Timur.
Dukung Pengembangan Spaceport Nasional di Biak
Keberadaan Observatorium Timau juga disebut selaras dengan rencana pengembangan spaceport nasional di Biak, Papua. BRIN menilai observatorium modern tersebut dapat menjadi salah satu fasilitas penting dalam mendukung aktivitas antariksa Indonesia di masa depan.
Dengan kombinasi antara observatorium canggih dan pengembangan pelabuhan antariksa nasional, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi dalam industri dan riset antariksa global.
Apalagi, kerja sama internasional di bidang astronomi dan antariksa disebut sudah mulai terjalin dan berpotensi berkembang lebih luas setelah observatorium resmi beroperasi penuh.
(tya/tya)

