Merakit Robot, Meniti Jalan jadi Birokrat dari Sekolah Rakyat

Merakit Robot, Meniti Jalan jadi Birokrat dari Sekolah Rakyat

Andry Haryanto - detikJabar
Rabu, 03 Jun 2026 14:00 WIB
Open House di SRMP 10 Cibinong, Kabupaten Bogor, Rabu (3/6/2026),
Open House di SRMP 10 Cibinong, Kabupaten Bogor, Rabu (3/6/2026), (Foto: Andry Haryanto/detikJabar)
Bogor -

Di atas meja pameran, sebuah robot kecil bergerak mengikuti langkah manusia. Tak jauh dari situ, terdapat miniatur rumah pintar dengan panel surya dan tong sampah otomatis yang bisa buka tutup sendiri saat seseorang mendekat.

Di balik tiga inovasi itu, berdiri Bagas Faqih Andriano. Siswa berusia 16 tahun dari Sekolah Rakyat Menengah Atas 13 Bekasi tersebut tampak antusias menjelaskan cara kerja setiap perangkat kepada para pengunjung yang datang ke SRMP 10 Cibinong, Kabupaten Bogor. Bagi Bagas dan teman-temannya, proyek itu bukan sekadar tugas sekolah.

Robot Wall-E yang mereka kembangkan dirancang untuk mengikuti pemiliknya dan membantu membawa barang, layaknya keranjang atau troli belanjaan. Sementara itu, smart home lahir dari kegelisahan melihat dampak bencana banjir yang sering memicu pemadaman listrik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau malam listrik mati, panel surya bisa jadi cadangan listrik. Ada juga sensor yang bisa mendeteksi gerakan mencurigakan," kata Bagas dengan lancar menjelaskan.

ADVERTISEMENT

Bersama anggota kelompoknya, ia ikut mengerjakan seluruh proses pembuatan. Mulai dari pemrograman, penyolderan komponen, merakit mekanik, hingga memasang kabel. "Semua kita kerjain bareng-bareng," ujarnya.

Kesempatan untuk belajar teknologi seperti itu mungkin terdengar biasa bagi sebagian pelajar. Namun bagi Bagas, kesempatan tersebut memiliki makna mendalam.

Ayahnya sehari-hari berjualan jajanan di kantin sekolah, sementara sang ibu merupakan ibu rumah tangga. Selepas SMP, ia sempat dihantui pertanyaan yang membuatnya gelisah. Apakah dirinya masih bisa melanjutkan pendidikan?

"Saya sempat mikir, bisa lanjut kuliah enggak ya? Bisa cita-cita yang saya inginkan tercapai apa enggak?" tuturnya.

Keraguan itu perlahan hilang ketika ia ditawari mengikuti program Sekolah Rakyat. Awalnya Bagas bahkan tidak mengetahui program tersebut. Setelah melalui proses verifikasi, ia diterima dan mulai merasakan perubahan besar dalam hidupnya.

Menurutnya, seluruh kebutuhan pendidikan disediakan tanpa biaya. "Seragam lengkap dan semuanya gratis," cerita Bagas.

Ia merasa sekolah itu bukan hanya memberikan ruang belajar, tetapi juga membuka jalan untuk mengejar impian yang sebelumnya terasa jauh. Impian itu kini mengarah ke satu tujuan, yaitu melanjutkan pendidikan ke IPDN. "Saya sih lanjut kuliah. Insya Allah inginnya ke IPDN," ujarnya.

Ketika ditanya alasan memilih jalur tersebut, Bagas menjawab sederhana. Ia ingin menjadi aparatur sipil negara dan bekerja di pemerintahan. Dari Sekolah Rakyat, Bagas tidak hanya belajar membuat teknologi. Ia sedang merakit masa depannya sendiri.

Setahun Sekolah Rakyat: Harapan Memutus Kemiskinan dan Menjaga Program Tetap Bersih

Menjelang genap satu tahun sejak pertama kali dibuka pada Juli 2025, Sekolah Rakyat mulai menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan gratis berbasis asrama. Dalam Open House di SRMP 10 Cibinong, Kabupaten Bogor, Rabu (3/6/226), Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengungkapkan jumlah calon siswa yang telah dijangkau pemerintah saat ini sudah melampaui kuota yang tersedia.

"Calon siswanya sudah lebih dari 42 ribu, sementara alokasinya 32.640 siswa," kata Gus Ipul di hadapan orang tua dan calon siswa.

Menurut dia, tingginya minat tersebut menunjukkan program yang digagas Presiden Prabowo Subianto menjawab kebutuhan keluarga miskin yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan berkualitas. Sekolah Rakyat memang dirancang untuk menjangkau anak-anak dari keluarga paling tidak mampu agar tidak tertinggal dalam memperoleh pendidikan.

Namun di balik tingginya antusiasme masyarakat, pemerintah menghadapi tantangan menjaga program tetap berjalan sesuai tujuan awal. Gus Ipul menegaskan proses penerimaan siswa tidak boleh dicemari praktik korupsi, kolusi, nepotisme, maupun pungutan liar.

"Jangan sampai ada yang memanipulasi data, menerima imbalan dalam bentuk apa pun, atau menitipkan siswa yang tidak memenuhi kriteria," ujarnya.

Ia menekankan Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran secara umum. Sebagian besar siswa dijaring melalui basis data pemerintah dan proses penjangkauan langsung terhadap keluarga yang memenuhi kriteria kemiskinan. Karena itu, akurasi data menjadi salah satu faktor penting keberhasilan program.

Tantangan lain adalah menjangkau anak-anak yang sudah terputus dari sistem pendidikan formal. Gus Ipul juga memperkenalkan sejumlah calon siswa yang berasal dari latar belakang rentan, termasuk anak yang putus sekolah sejak kelas lima SD dan baru kembali memperoleh kesempatan belajar melalui program Sekolah Rakyat.

Data Kementerian Sosial menunjukkan sebagian besar orang tua calon siswa bekerja sebagai buruh tani, buruh bangunan, pekerja jasa informal, hingga pekerja perkebunan. Sebagian lainnya tidak memiliki penghasilan tetap. Kondisi tersebut membuat Sekolah Rakyat diposisikan bukan sekadar program pendidikan, tetapi juga instrumen untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

Karena itu, menurut Gus Ipul, ukuran keberhasilan program tidak hanya dilihat dari jumlah siswa yang diterima setiap tahun. Lebih jauh, Sekolah Rakyat diharapkan mampu melahirkan generasi yang memiliki kesempatan lebih baik dibanding orang tuanya. "Kalau orang tuanya sekarang belum sukses, mudah-mudahan nanti putra-putrinya menjadi anak-anak yang hebat," ujarnya.

(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads