Asal-usul Tahun Baru Islam, Begini Sejarah Penetapan Kalender Hijriah

Asal-usul Tahun Baru Islam, Begini Sejarah Penetapan Kalender Hijriah

Tya Eka Yulianti - detikJabar
Kamis, 11 Jun 2026 10:34 WIB
Ornamental Arabic lantern with burning candle glowing at night. Festive greeting card, invitation for Muslim holy month Ramadan Kareem.
Foto: Getty Images/iStockphoto/Choreograph
Bandung -

Asal-usul Tahun Baru Islam menjadi informasi yang banyak dicari menjelang datangnya 1 Muharram 1448 Hijriah. Bagi umat Islam, Tahun Baru Hijriah bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, melainkan momentum penting yang berkaitan erat dengan sejarah perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW dan perkembangan peradaban Islam.

Namun, tahukah Anda mengapa kalender Islam disebut kalender Hijriah? Mengapa perhitungan tahunnya dimulai dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW, bukan dari kelahiran atau wafatnya beliau?

Berikut penjelasan lengkap mengenai sejarah penetapan kalender Hijriah dan asal-usul Tahun Baru Islam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Tahun Baru Islam?

Tahun Baru Islam merupakan pergantian tahun dalam kalender Hijriah yang ditandai dengan masuknya tanggal 1 Muharram, bulan pertama dalam kalender Islam.

Berbeda dengan kalender Masehi yang menggunakan peredaran matahari sebagai dasar perhitungan, kalender Hijriah menggunakan sistem peredaran bulan (qamariyah). Karena itu, jumlah hari dalam satu tahun Hijriah hanya sekitar 354 atau 355 hari, lebih pendek sekitar 10 hingga 11 hari dibandingkan kalender Masehi.

ADVERTISEMENT

Akibatnya, peringatan Tahun Baru Islam selalu bergeser setiap tahun jika dilihat berdasarkan kalender Masehi.

Bagaimana Asal-usul Kalender Hijriah?

Pada masa awal Islam, umat Muslim belum memiliki sistem penanggalan resmi yang digunakan secara seragam. Surat-menyurat dan dokumen pemerintahan saat itu hanya mencantumkan bulan tanpa tahun, sehingga sering menimbulkan kebingungan dalam administrasi.

Kebutuhan akan sistem penanggalan yang lebih teratur semakin terasa ketika wilayah kekuasaan Islam berkembang pesat pada masa kekhalifahan.

Sejarah mencatat bahwa gagasan penyusunan kalender Islam muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab.

Saat itu, Gubernur Basrah, Abu Musa Al-Asy'ari, mengirim surat kepada Khalifah Umar. Dalam surat tersebut, Abu Musa mengeluhkan kesulitan mengarsipkan dokumen karena tidak adanya penanda tahun yang jelas dalam surat-surat resmi.

Permasalahan tersebut kemudian dibahas dalam musyawarah para sahabat untuk menentukan sistem penanggalan yang dapat digunakan oleh seluruh umat Islam.

Empat Usulan Awal Penetapan Tahun Islam

Dalam musyawarah tersebut, terdapat beberapa usulan mengenai peristiwa yang layak dijadikan titik awal perhitungan kalender Islam.

Setidaknya ada empat peristiwa penting yang dipertimbangkan, yaitu:

  • Tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW (Tahun Gajah)

  • Tahun diangkatnya Nabi Muhammad SAW menjadi rasul

  • Tahun wafatnya Nabi Muhammad SAW

  • Tahun hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah

Masing-masing usulan memiliki alasan yang kuat. Namun setelah melalui diskusi panjang, para sahabat akhirnya sepakat memilih peristiwa hijrah Nabi sebagai awal perhitungan kalender Islam.

Mengapa Hijrah Nabi Dipilih Sebagai Awal Kalender Hijriah?

Pemilihan peristiwa hijrah bukan tanpa alasan.

Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah dianggap sebagai titik balik yang sangat penting dalam sejarah Islam. Peristiwa tersebut menjadi awal terbentuknya masyarakat Islam yang kuat, mandiri, dan memiliki sistem pemerintahan sendiri.

Sebelum hijrah, dakwah Islam di Makkah menghadapi berbagai tekanan dan penolakan. Setelah hijrah ke Madinah pada tahun 622 Masehi, umat Islam mulai membangun peradaban baru yang kemudian berkembang pesat hingga ke berbagai wilayah dunia.

Karena itulah, peristiwa hijrah dipandang sebagai simbol perjuangan, perubahan, dan kebangkitan umat Islam.

Dari sinilah istilah Hijriah berasal, yang merujuk pada kata "hijrah" atau perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Madinah.

Siapa yang Menetapkan Kalender Hijriah?

Kalender Hijriah pertama kali ditetapkan secara resmi pada masa Khalifah Umar bin Khattab.

Penetapan tersebut dilakukan setelah mendapat persetujuan dari sejumlah sahabat utama Nabi, termasuk:

  • Utsman bin Affan

  • Ali bin Abi Thalib

Mereka menyepakati bahwa tahun hijrah Nabi Muhammad SAW dijadikan tahun pertama dalam kalender Islam.

Meskipun hijrah terjadi pada tahun 622 Masehi, sistem kalender Hijriah baru disusun dan diberlakukan secara resmi beberapa tahun setelahnya pada masa pemerintahan Umar bin Khattab.

Mengapa Bulan Muharram Menjadi Awal Tahun?

Setelah menentukan peristiwa hijrah sebagai awal perhitungan tahun, para sahabat juga membahas bulan yang akan dijadikan awal kalender Islam.

Akhirnya dipilih bulan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah.

Pemilihan Muharram didasarkan pada beberapa pertimbangan, salah satunya karena bulan tersebut datang setelah musim haji dan dianggap sebagai awal yang tepat untuk memulai tahun baru.

Hingga kini, Muharram tetap menjadi bulan pertama dalam kalender Islam.

Urutan 12 Bulan dalam Kalender Hijriah

Kalender Hijriah terdiri dari 12 bulan, yaitu:

  • Muharram

  • Safar

  • Rabiul Awal

  • Rabiul Akhir

  • Jumadil Awal

  • Jumadil Akhir

  • Rajab

  • Syaban

  • Ramadan

  • Syawal

  • Dzulqa'dah

  • Dzulhijjah

Sama seperti kalender Masehi, kalender Hijriah juga terdiri dari 12 bulan. Namun jumlah hari dalam setahun lebih sedikit karena mengikuti siklus bulan.

Keutamaan Bulan Muharram

Muharram memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT.

Empat bulan haram tersebut adalah:

  • Dzulqa'dah

  • Dzulhijjah

  • Muharram

  • Rajab

Pada bulan Muharram, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah dan amal saleh. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah puasa sunnah, terutama puasa Tasu'a dan Asyura.

Selain itu, banyak umat Islam memanfaatkan momen Tahun Baru Hijriah untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta meningkatkan kualitas ibadah.

Tradisi Menyambut Tahun Baru Islam di Indonesia

Di Indonesia, peringatan Tahun Baru Islam tidak hanya diisi dengan kegiatan keagamaan, tetapi juga berbagai tradisi budaya yang diwariskan turun-temurun.

Beberapa tradisi yang masih dijumpai hingga kini antara lain:

1. Ngadulag di Jawa Barat

Tradisi masyarakat Sunda ini dilakukan dengan menabuh bedug secara ritmis untuk menyambut datangnya bulan Muharram. Kegiatan tersebut sering disertai lomba tabuh bedug yang melibatkan masyarakat.

2. Upacara Bubur Suro

Masyarakat Sunda juga mengenal tradisi Bubur Suro yang dilakukan dengan membuat bubur merah dan bubur putih. Setelah doa bersama, bubur tersebut dibagikan dan disantap bersama-sama.

3. Tapa Bisu di Yogyakarta

Tradisi ini berupa ritual mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta tanpa berbicara sepatah kata pun. Tapa Bisu biasanya dilakukan pada malam 1 Suro yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Jawa.

4. Kirab Kebo Bule di Surakarta

Tradisi Kirab Kebo Bule menjadi salah satu ikon malam 1 Suro di Keraton Surakarta. Arak-arakan kerbau putih tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menarik perhatian masyarakat.

5. Ziarah Gunung Tidar

Di Magelang, masyarakat memiliki tradisi berziarah ke makam para tokoh penyebar Islam di kawasan Gunung Tidar sebagai bagian dari peringatan Tahun Baru Islam.

Makna Tahun Baru Islam bagi Umat Muslim

Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian kalender, tetapi juga momentum untuk meneladani semangat hijrah Nabi Muhammad SAW.

Hijrah mengajarkan pentingnya perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, meninggalkan kebiasaan buruk, memperkuat iman, serta meningkatkan kualitas hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.

Karena itu, setiap datangnya 1 Muharram, umat Islam dianjurkan untuk melakukan evaluasi diri, memperbanyak amal ibadah, dan menyusun langkah-langkah positif untuk menjalani tahun yang baru.

Asal-usul Tahun Baru Islam tidak dapat dipisahkan dari sejarah hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Peristiwa yang terjadi pada tahun 622 Masehi tersebut kemudian dipilih oleh Khalifah Umar bin Khattab dan para sahabat sebagai awal perhitungan kalender Hijriah karena dianggap sebagai tonggak kebangkitan umat Islam.

Hingga kini, kalender Hijriah tetap digunakan oleh umat Islam di seluruh dunia sebagai pedoman dalam menentukan berbagai ibadah dan hari besar keagamaan. Oleh karena itu, peringatan 1 Muharram bukan hanya menjadi penanda pergantian tahun, tetapi juga momen refleksi untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Sambut Tahun Baru Islam, Santri di Lumajang Gelar Pawai Obor"
[Gambas:Video 20detik]
(tya/tya)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads