Bintang Dunia Turun di Kejuaraan Tenis Meja ASEAN di Bandung

Bintang Dunia Turun di Kejuaraan Tenis Meja ASEAN di Bandung

Bima Bagaskara - detikJabar
Kamis, 11 Jun 2026 17:14 WIB
Table Tennis ASEAN Club Championship 2026 di Bandung
Table Tennis ASEAN Club Championship 2026 di Bandung (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar).
Bandung -

Kota Bandung kembali menjadi pusat perhatian olahraga internasional. Sebanyak 115 atlet tenis meja elit dari enam negara Asia Tenggara berkumpul di Graha Sanusi Universitas Padjadjaran untuk mengikuti 2nd STIGA Table Tennis ASEAN Club Championship 2026 yang berlangsung pada 11-13 Juni 2026.

Turnamen antarklub bergengsi ini tak hanya menghadirkan persaingan sengit antarnegara, tetapi juga menjadi bagian penting dari peta pembinaan tenis meja Indonesia menuju berbagai ajang internasional, termasuk SEA Games.

Sorotan utama tertuju pada kehadiran bintang tenis meja Thailand, Orawan Paranang. Atlet peringkat 85 dunia versi ITTF tersebut turun memperkuat Thonburi University. Kehadirannya dipastikan membuat level persaingan di meja pimpong semakin tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di kategori Mix Open, sebanyak 14 tim dari berbagai negara akan bertarung memperebutkan gelar juara. Klub-klub kuat seperti UST Philippines dari Filipina, VietED Team, Hai Duong Team, dan Mobi Team dari Vietnam, Sukma Johor dari Malaysia, hingga Xiaobaiqiu dari Singapura siap menjadi ujian berat bagi wakil Indonesia.

Sementara itu, tuan rumah menurunkan sejumlah klub unggulan seperti Arwana Jaya, SIM Lampung, SCM Lampung, Sukun Kudus, PRG Bali, hingga ONIC Sports.

ADVERTISEMENT

Ketua Panitia STIGA Table Tennis ASEAN Club Championship 2026, Yon Mardiyono, mengatakan turnamen ini memiliki peran yang jauh lebih besar dibanding sekadar mencari juara. Kompetisi antarklub dinilai menjadi sarana terbaik untuk mengukur kemampuan atlet secara berkelanjutan.

"Harapan kita di setiap negara itu ada kompetisi liganya, yang merupakan regulasi kompetisi paling bagus ya tetap liga di mana-mana karena kontinyu," kata Yon.

Kesuksesan edisi pertama yang digelar di Thailand menjadi bukti pentingnya kompetisi seperti ini. Saat itu, klub Indonesia Arwana Jaya berhasil keluar sebagai juara dan memberikan dampak positif terhadap kepercayaan diri para atlet nasional.

"Kemarin yang pertama itu di Thailand. Di Thailand kita sukses, dan syukurnya waktu itu juara satunya dari klub dari Indonesia, Arwana Jaya. Sehingga sangat memotivasi sekali buat atlet-atletnya, terutama kepercayaan dirinya karena menuju SEA Games," ujarnya.

Menurut Yon, dampaknya bahkan terlihat langsung saat SEA Games. Setelah menunggu selama 25 tahun, Indonesia akhirnya kembali meraih medali di cabang tenis meja.

"Berapa bulan kemudian ada SEA Games, dan kita setelah 25 tahun tidak dapat medali, akhirnya kemarin dapat medali perak ya, sama perunggu. Jadi ini adalah memang satu langkah baik," ungkapnya.

Indonesia Perluas Database Atlet

Pemilihan Indonesia sebagai tuan rumah tahun ini juga bukan tanpa alasan. Selain hasil kesepakatan dengan Vietnam, status tuan rumah memberikan keuntungan besar bagi Indonesia untuk mengirim lebih banyak klub dan atlet.

Yon menilai format kejuaraan antarklub membuka peluang yang jauh lebih luas dibanding kejuaraan antarnegara.

"Dan yang kedua, kebetulan kemarin antara Vietnam dan Indonesia, kita ambil kesepakatan kesempatan ini di Indonesia. Kenapa? Karena kalau tuan rumahnya Indonesia, kita bisa lebih dari tiga klub," katanya.

Menurutnya, kehadiran banyak klub Indonesia menjadi kesempatan emas untuk menguji kemampuan para atlet melawan lawan-lawan terbaik Asia Tenggara.

"Jadi ini sangat bagus buat kami, menjadi database bahwa atlet-atlet. Kalau dari negara hanya empat, empat pemain saja yang bisa mewakili. Tapi dengan pertandingan antar klub, banyak pemain-pemain yang bagus dari Indonesia yang punya kesempatan untuk melawan tim-tim Asia Tenggara," jelas Yon.

"Sehingga kita bisa menilai mana yang bagus di luar melawan tim-tim Asia Tenggara, itu yang menjadi database kita untuk menambah kekuatan tim kita nanti pada saat SEA Games tahun depan," lanjutnya.

Persiapan Menuju SEA Games U-17

Tak hanya fokus pada level senior, penyelenggara juga memasukkan kategori pembinaan usia muda melalui STIGA Cup U-13 Team Event. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang mempersiapkan generasi baru tenis meja Indonesia.

Yon mengungkapkan bahwa kategori usia muda sengaja dihadirkan sebagai persiapan menghadapi SEA Games U-17 yang untuk pertama kalinya akan digelar pada 2028 di Filipina.

"Kenapa juga sekarang ada U-13? Karena nanti 2028 akan ada SEA Games U-17 di Filipina yang pertama kali. Jadi semua itu kita siapkan melalui kompetisi-kompetisi yang seperti ini," tuturnya.

Ia menegaskan bahwa kompetisi harus berjalan beriringan dengan pembinaan yang dilakukan klub-klub setiap hari.

"Memang ini harus berjalan seiringan dengan pembinaan klub juga yang latihan daily-nya. Jadi tetap kompetisi ini sangat membantu sekali untuk database dan atlet-atlet juga menambah motivasi atau kepercayaan mentality-nya, terutama di Asia Tenggara," katanya.

Bandung Dipilih karena Basis Terbesar Tenis Meja

Bandung dipilih sebagai tuan rumah bukan sekadar faktor fasilitas. Kota Kembang dinilai memiliki basis pencinta tenis meja terbesar di Indonesia sekaligus menjadi salah satu lumbung talenta muda nasional.

"Penggemar tenis meja di Indonesia ini paling banyak di Jawa Barat, di Bandung. Ini juga kita mencoba memotivasi mereka, karena banyak bibit-bibit yang kecil-kecil itu datang dari Bandung juga, yang menambah semangat untuk mereka sendiri," ujar Yon.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Kalahkan Atlet Profesional, Robot Tenis Meja 'Ace' Cetak Sejarah"
[Gambas:Video 20detik]
(bba/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads