Ada Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026: Ini Jadwal, Lokasi, dan Cara Melihatnya

Ada Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026: Ini Jadwal, Lokasi, dan Cara Melihatnya

Tya Eka Yulianti - detikJabar
Minggu, 09 Agu 2026 11:05 WIB
Foto ‘Earthset’ dan gerhana matahari yang diambil misi Artemis II
Foto: NASA
Bandung -

Gerhana Matahari Total akan menjadi salah satu fenomena astronomi paling menarik yang terjadi pada 2026. Fenomena langka ini dijadwalkan berlangsung pada 12 Agustus 2026 dan dapat disaksikan secara total dari sejumlah wilayah di belahan Bumi utara.

Gerhana Matahari Total terjadi ketika Bulan berada tepat di antara Matahari dan Bumi. Posisi tersebut membuat Bulan menutupi seluruh piringan Matahari dari sudut pandang pengamat yang berada di jalur totalitas.

Fenomena ini diperkirakan menarik perhatian para pengamat langit dan pemburu gerhana dari berbagai negara. Sebab, ketika fase totalitas berlangsung, langit dapat berubah gelap seperti senja meski waktu masih siang hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, apakah Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 bisa dilihat dari Indonesia? Berikut jadwal, lokasi pengamatan, hingga cara aman menyaksikan fenomena tersebut.

Jadwal Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026

Gerhana Matahari Total dijadwalkan terjadi pada Rabu, 12 Agustus 2026.

ADVERTISEMENT

Jalur gerhana akan dimulai dari kawasan Samudra Arktik, kemudian melintasi sejumlah wilayah di Greenland, Islandia, Samudra Atlantik Utara, hingga berakhir di wilayah utara Spanyol.

Durasi totalitas berbeda-beda tergantung lokasi pengamatan. Durasi totalitas terlama diperkirakan mencapai sekitar 2 menit 18 detik.

Saat mencapai fase totalitas, Bulan akan menutupi seluruh piringan Matahari. Pada momen tersebut, pengamat di jalur totalitas dapat melihat korona Matahari yang biasanya tidak terlihat karena tertutup cahaya terang dari permukaan Matahari.

Apakah Gerhana Matahari Total Bisa Dilihat dari Indonesia?

Sayangnya, Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 tidak dapat disaksikan dari Indonesia.

Astronom amatir Marufin Sudibyo menjelaskan bahwa lintasan gerhana kali ini hanya berada di belahan Bumi utara.

"Tidak bisa disaksikan dari Indonesia. Wilayah gerhana Matahari hanya meliputi hemisfer utara atau belahan Bumi utara," ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (5/8/2026).

Selain berada di luar jalur totalitas, Indonesia juga tidak termasuk wilayah yang dapat menyaksikan fase gerhana sebagian pada 12 Agustus 2026.

Ketika gerhana berlangsung di kawasan Eropa, Greenland, dan Amerika Utara, wilayah Indonesia berada dalam kondisi malam hari sehingga Matahari berada di bawah horizon.

Dengan demikian, tidak ada wilayah di Indonesia yang dapat menyaksikan Gerhana Matahari Total maupun Gerhana Matahari Sebagian pada peristiwa tersebut secara langsung.

Negara yang Bisa Menyaksikan Gerhana Matahari Total

Jalur totalitas Gerhana Matahari 12 Agustus 2026 akan melewati sejumlah wilayah di belahan Bumi utara.

Beberapa wilayah yang menjadi lokasi utama pengamatan antara lain:

  • Greenland

  • Islandia

  • Portugal

  • Spanyol bagian utara

  • Kawasan Arktik Rusia

  • Samudra Atlantik Utara

Pengamat yang berada tepat di jalur totalitas akan memiliki kesempatan untuk melihat Bulan menutupi seluruh piringan Matahari.

Sementara itu, wilayah di luar jalur totalitas hanya akan mengalami gerhana sebagian dengan tingkat penutupan Matahari yang berbeda-beda.

Negara yang Mengalami Gerhana Matahari Sebagian

Gerhana Matahari Sebagian dapat terlihat di wilayah yang lebih luas dibandingkan jalur totalitas.

Sejumlah negara yang berpeluang mengalami gerhana sebagian antara lain Inggris Raya, Prancis, Jerman, Italia, negara-negara Skandinavia, sejumlah wilayah Eropa Timur, Kanada bagian timur, serta Amerika Serikat bagian timur laut.

Beberapa wilayah Afrika Utara dan Afrika Barat Laut juga berpeluang menyaksikan gerhana sebagian, termasuk Maroko, Aljazair, Tunisia, Mauritania, Mali, Senegal, Gambia, Guinea, dan sejumlah negara lainnya.

Di beberapa lokasi Eropa, gerhana bahkan akan berlangsung berdekatan dengan waktu Matahari terbenam. Kondisi tersebut dapat menghasilkan pemandangan langit yang sangat menarik bagi para pengamat.

Bagaimana Gerhana Matahari Total Terjadi?

Gerhana Matahari Total terjadi ketika Matahari, Bulan, dan Bumi berada dalam posisi hampir segaris, dengan Bulan berada di antara Matahari dan Bumi.

Posisi tersebut membuat bayangan inti Bulan atau umbra jatuh ke permukaan Bumi. Wilayah yang berada di dalam jalur umbra inilah yang dapat mengalami gerhana Matahari total.

Sebelum mencapai totalitas, Bulan perlahan menutupi permukaan Matahari sehingga bentuk Matahari terlihat seperti sabit.

Menjelang fase totalitas, pengamat dapat menyaksikan sejumlah fenomena menarik seperti diamond ring effect atau efek cincin berlian. Fenomena tersebut terjadi ketika cahaya Matahari yang tersisa tampak seperti cincin dengan satu titik cahaya terang.

Fenomena lainnya adalah Baily's Beads, yakni titik-titik cahaya yang muncul di sepanjang tepi Bulan karena sinar Matahari masih melewati celah-celah permukaan Bulan.

Ketika totalitas dimulai, seluruh piringan Matahari tertutup Bulan. Langit kemudian berubah gelap seperti senja dan korona Matahari dapat terlihat mengelilingi Bulan.

Cara Aman Melihat Gerhana Matahari

Meskipun gerhana merupakan fenomena yang menarik untuk diamati, masyarakat tidak boleh melihat Matahari secara langsung tanpa perlindungan yang sesuai.

Paparan cahaya Matahari secara langsung dapat menyebabkan kerusakan pada retina mata. Karena itu, pengamatan gerhana harus menggunakan kacamata gerhana yang memenuhi standar ISO 12312-2 atau alat khusus untuk pengamatan Matahari.

Metode lain yang dapat digunakan adalah proyektor lubang jarum atau pinhole projector, sehingga Matahari tidak dilihat secara langsung.

Pengamatan dengan mata telanjang hanya dapat dilakukan pada fase totalitas yang benar-benar telah dimulai, ketika seluruh piringan Matahari tertutup Bulan. Begitu cahaya Matahari mulai muncul kembali, pelindung mata harus segera digunakan.

Bagaimana Cara Menonton Gerhana dari Indonesia?

Meski tidak bisa menyaksikannya secara langsung, masyarakat Indonesia tetap dapat mengikuti fenomena Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 melalui siaran langsung.

Sejumlah observatorium, lembaga astronomi, maupun lembaga antariksa internasional biasanya menyediakan live streaming dari lokasi yang berada di jalur totalitas.

Dengan begitu, masyarakat Indonesia tetap dapat menyaksikan momen ketika Bulan menutupi Matahari, termasuk perubahan langit dan kemunculan korona Matahari, meski melalui tayangan daring.

Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 menjadi salah satu fenomena langit yang sayang untuk dilewatkan. Meski Indonesia tidak berada di jalur pengamatan, siaran langsung dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin menyaksikan fenomena langka tersebut.



(tya/tya)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads