Tekanan darah tinggi tidak hanya perlu dikontrol lewat makanan. Apa yang diminum setiap hari juga dapat berpengaruh, terlebih jika kebiasaan tersebut dilakukan terus-menerus.
Bagi penderita hipertensi, memilih minuman bukan sekadar soal menghilangkan dahaga. Beberapa jenis minuman dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah, sementara jenis lainnya berpotensi mengganggu kerja obat yang sedang dikonsumsi.
Karena itu, penting untuk lebih teliti sebelum memilih minuman sehari-hari. Bukan berarti semua minuman harus dihindari, tetapi ada beberapa jenis yang sebaiknya dibatasi atau bahkan dihindari, terutama jika tekanan darah sulit terkontrol.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir detikFood dari Verywell Health (4/8/2026), terdapat empat jenis minuman yang perlu diperhatikan oleh penderita tekanan darah tinggi, yakni minuman manis, minuman berkafein, alkohol, dan jus grapefruit.
1. Minuman manis
Minuman manis mungkin terasa menyegarkan, tetapi kandungan gula tambahannya bisa menjadi persoalan jika dikonsumsi terlalu sering.
Kelompok ini mencakup minuman bersoda, minuman kemasan, teh atau kopi dengan banyak gula, minuman buah berpemanis, hingga berbagai minuman yang mendapatkan tambahan sirup.
Verywell Health menyebut penelitian menemukan konsumsi minuman berpemanis berkaitan dengan kenaikan kecil tetapi konsisten pada tekanan darah, terutama tekanan darah sistolik.
Masalahnya tidak berhenti pada tekanan darah. Asupan gula tambahan secara berlebihan juga dapat mendorong kenaikan berat badan dan berkaitan dengan peradangan serta diabetes. Kondisi-kondisi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
American Heart Association (AHA) merekomendasikan agar konsumsi gula tambahan dibatasi hingga maksimal 6 persen dari total kalori harian. Untuk kebanyakan perempuan, jumlah tersebut sekitar 6 sendok teh atau 25 gram gula per hari. Sementara untuk laki-laki sekitar 9 sendok teh atau 36 gram per hari.
Karena itu, air putih, air soda tanpa gula, atau teh tanpa gula dapat menjadi pilihan yang lebih baik untuk konsumsi sehari-hari.
2. Minuman berkafein
Kopi, teh, minuman energi, dan jenis minuman lain yang mengandung kafein juga perlu diperhatikan penderita hipertensi.
Kafein dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah yang bersifat ringan, sementara, dan dapat kembali turun. Efek tersebut terutama terlihat dalam jangka pendek setelah seseorang mengonsumsi kafein.
Namun, bukan berarti penderita tekanan darah tinggi harus otomatis berhenti minum kopi. Respons tubuh setiap orang terhadap kafein dapat berbeda.
Verywell Health mencatat, orang dengan hipertensi berat, yakni tekanan darah 160/100 mmHg atau lebih, perlu memberikan perhatian lebih terhadap konsumsi kopi. Sebuah penelitian pada 2023 juga menemukan adanya peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular pada kelompok dengan hipertensi berat yang mengonsumsi dua cangkir kopi atau lebih setiap hari.
Food and Drug Administration (FDA) secara umum merekomendasikan batas kafein hingga 400 miligram per hari untuk orang dewasa sehat. Bagi penderita hipertensi, batas tersebut sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan sesuai kondisi masing-masing.
3. Alkohol
Alkohol juga termasuk minuman yang perlu diperhatikan jika ingin menjaga tekanan darah tetap terkendali.
Menariknya, pengaruh alkohol terhadap tekanan darah tidak selalu langsung terlihat. Konsumsi alkohol dalam jumlah tinggi dapat memberikan efek yang disebut bifasik. Tekanan darah dapat mengalami penurunan sementara, kemudian meningkat beberapa jam setelahnya.
Verywell Health mengutip tinjauan sistematis Cochrane tahun 2020 yang menganalisis 32 uji acak terkontrol dengan lebih dari 760 peserta. Dalam analisis tersebut, konsumsi alkohol dosis tinggi dikaitkan dengan penurunan tekanan darah sekitar enam jam setelah dikonsumsi, tetapi lebih dari 13 jam kemudian tekanan darah justru meningkat.
Kenaikan tersebut memang relatif kecil, tetapi dapat menjadi persoalan jika konsumsi alkohol dilakukan secara rutin dalam jangka panjang.
American Heart Association menyebut penderita hipertensi sebaiknya menghindari alkohol. Jika seseorang tetap memilih untuk minum, batas yang disebutkan adalah maksimal dua gelas per hari untuk laki-laki dan satu gelas per hari untuk perempuan.
Perlu diperhatikan pula bahwa alkohol dapat berinteraksi dengan sejumlah obat, termasuk obat untuk tekanan darah. Karena itu, penderita hipertensi yang sedang menjalani pengobatan sebaiknya berkonsultasi dengan dokter mengenai konsumsi alkohol.
4. Jus grapefruit
Jus grapefruit mungkin terdengar seperti pilihan minuman yang lebih sehat dibandingkan minuman bersoda atau minuman tinggi gula. Namun, bagi orang yang sedang mengonsumsi obat tertentu, jus ini justru perlu diwaspadai.
Pasalnya, grapefruit dapat berinteraksi dengan sejumlah obat. Verywell Health menyebut buah dan jus grapefruit dapat berinteraksi dengan lebih dari 85 jenis obat, termasuk beberapa obat tekanan darah.
Interaksi tersebut berkaitan dengan senyawa dalam grapefruit yang dapat menghambat kerja enzim CYP3A4 di dalam usus. Enzim tersebut berperan dalam memecah sejumlah obat.
Ketika proses pemecahan obat terhambat, kadar obat di dalam aliran darah dapat meningkat. Pada obat tekanan darah tertentu, kondisi ini berpotensi menyebabkan tekanan darah turun terlalu rendah atau hipotensi.
Karena itu, penderita hipertensi yang sedang mengonsumsi obat sebaiknya tidak langsung menganggap jus grapefruit aman hanya karena berasal dari buah. Periksa terlebih dahulu apakah obat yang dikonsumsi memiliki interaksi dengan grapefruit.
Artikel ini telah tayang di detikFood.
(iqk/iqk)
