Persib Bandung sedang menghadapi masalah berat dari FIFA. Induk organisasi sepakbola dunia itu menjatuhkan sanksi larangan mendaftarkan pemain baru untuk musim 2026/2027.
Sanksi tersebut berasal dari polemik Persib dengan mantan pemainnya, Daisuke Sato. Sejak berpisah pada putaran kedua musim 2023/2024, FIFA kemudian memenangkan gugatan Daisuke senilai Rp 3 miliar.
Keputusan tegas dari FIFA pun menuai sorotan dari pengamat olahraga Eko Noer Kristiyanto atau Eko Maung. Ia menilai, sanksi tersebut mencoreng reputasi Persib yang sudah dua musim berturut-turut tampil di kompetisi antarklub Benua Asia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memalukan, sih. Ini lebih ke tim reputasi, malu-maluin," kata Eko saat berbincang dengan detikJabar, Minggu (31/5/2026).
Eko menilai, sanksi yang dijatuhkan FIFA sudah tidak bisa diganggu gugat. Sebab menurutnya, FIFA punya sistem sendiri yang wajib dipatuhi setiap klub di dunia.
"Jadi hal kayak gini jangan terjadi lagi lah, karena kelalaian administrasi. Kalau sistemnya FIFA, ga mungkin salah dong. Ga mungkin nyalahin sistem mereka, karena mereka tuh udah ada kurun jangka waktunya. Ketika belum dibayar, yaudah, ban," ucap Eko.
Eko juga mendorong agar seluruh pihak tidak menyalahkan Daisuke Sato dalam masalah ini. Justru ia menilai, Daisuke sudah bersikap profesional dan tak membuka kasus ini saat kompetisi berjalan.
"Jadi udah, yang salah mah emang Persib. Terus jangan nyalahin Sato-nya. Kan udah dimenangkan. Malah mending, dia nge-up masalah ini setelah Persib juara, jadi enggak ngeganggu kondisi lah," ujar Eko.
Bagi Eko Maung sendiri, kondisi ini seharusnya tidak jadi masalah rumit yang bahkan mengganggu persiapan Persib untuk musim 2026/2027. Persib kata dia hanya perlu menyelesaikan tunggakan agar polemik ini segera cepat selesai.
"Ini bisa beres, ke depannya jangan terjadi lagi. Bisa ini mah, tinggal komunikasi dan bayar duit aja, udah clear. Dari FIFA juga enggak ada untungnya memperumit masalah ini. Selama denda dibayar, udah, aman," pungkasnya.
(bba/yum)
